My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 47: Action



Aqila tengah berusaha menghubungi suaminya, tetapi tak ada jawaban sama sekali. Aqila panik, sedari kemarin suaminya tidak menelponnya, apa ada sesuatu yang terjadi?


"Apa sudah bisa di hubungi?" tanya Geo yang melihat menantunya sedang sibuk.


"Belum pah, aku takut Frans kenapa-napa," ujar Aqila dengan wajah yang tersirat kekhawatiran.


"Papah akan menghubungi Mateo, karena saat ini Mateo sedang bersama Frans." ujar Geo sambil memainkan ponselnya.


Geo pun menempelkan benda pipih itu ke telinganya, tetapi sama haknya dengan Frans. Mateo juga tidak bisa di hubungi.


"Gimana pah?" tanya Aqila.


"Sama," jawab Geo.


"Gimana ini pah, kita samper aja yuk mereka kesana," ajak Aqila.


Geo menggeleng, "Kau hamil besar, disana Frans untuk menuntaskan misinya bukan pergi berlibur," ujar Geo.


Geo segera beranjak dati hadapan Aqila, kini wanita itu terlihat sangat sedih. Dia kembali ke kamarnya dan menangis disana.


"Frans kau dimana hiks ... hiks ... jangan samapi kau selingkuh disana hiks ... awas aja, aku udah membuka hati kembali untukmu hiks ... awas saja kau kecewakan lagi hiks," isak Aqila.


Tak lama ponsel Aqila berdering, dia menghapus air matanya dan melihat ponselnya.


"Nomor yang tak dikenal?" gumam Aqila.


Aqila pun mengangkatnya, dia tak bersuara sampai orang dari sana bersuara terlebih dahulu.


"Love,"


Tangis Aqila pecah, suara yang selalu dia rindukan akhirnya terdengar.


"Kamu kenapa hei? apa terjadi sesuatu? cebong? cebong kenapa?"


Tangis Aqila semakin pilu, tampaknya Frans juga sangat khawatir pada istrinya itu. Beberapa kali Frans memanggil Aqila tetapi hanya terdengar suara tangis.


"Kau hiks ... kau membuatku takut!" sentak Aqila.


"Maaf Love, ponselku hilang dan aku kembali memiliki ponsel," sesal Frans.


"Pulang hiks ... pulang sekarang!" titah Aqila.


"Tidak bisa, aku tidak bisa puoang saat ini. Ada hal yang harus aku urus, ini juga untuk keluarga kita. Kau jaga dirimu baik-baik, jangan telat makan. Minum susu jangan di tinggal, dan juga selalu ingat aku Love,"


Aqila semakin menangis, ingin rasanya dia memeluk Frans dengan erat menyalurkan rasa kerinduannya pada sang suami. Dia ingin berkata pada Frans bahwa dia sangat mencintainya, sangat mencintai suaminya itu.


"Frans aku sangat mencintaimu hiks ... aku sangat mencintaimu. Pulanglah," isak Aqila.


Tak ada jawaban dari Frans, Aqila pun di buat bingung sendiri mengapa suaminya terdiam. Dia pun melihat ponselnya dan itu masih tersambung.


"Aku tahu ... aku tahu itu, cintamu kepadaku telah kembali," senang Frans.


"Maka dari itu pulanglah hiks ... aku kangen hiks," ujar Aqila sembari sesenggukan.


"Aku akan pulang cepat dengan syarat, jika pulang nanti aku ingin hakku," ujar Frans.


Aqila tertegun sejenak, Frans tak pernah menuntut haknya karena Aqila yang selalu histeris saat kembali mengingat kejadian itu.


Frans pun dengan sabar menenangkan istrinya, dia tak lagi memaksa Aqila untuk memenuhi haknya sebelum istrinya itu sembuh dari traumanya.


"Baiklah hiks ... tapi kamu pulaaaangg! cepet hiks ... jangan gatel disana, ingat masih ada aku di sini," ujar Aqila.


Tampak disana terdengar berisik, tak kama sambungan pun terputus. Aqila yang panik segera menelpon ulang. Tetapi ponsel Frans kembali tidak aktif.


"Kau harus pulang Frans, kalau tidak aku tidak akan memberimu jatah biar bangaumu kempes!" gerutu Aqila


***


Frans dan Mateo tengah berlari dari kejaran para polisi, mereka memasuki pasar agar lebih mudah untuk menjauh.


"AAAA, APAAN INI!"


"HEI!"


"Cepatlah!" Frans pun menarik Mateo sehingga mereka kembali berlari semakin memasuki pasar.


Frans mendorong gentong sedangkan Mateo menarik kain sehingga kain tersebut terbang ke wajah para polisi.


Mereka berlari hingga ke perumahan kecil, netra Frans melihat tangga menuju atas gedung. Dengan segera dia naik dan diikuti oleh Mateo, sesampainya di atas Frans dan Mateo langsung melompat dari gedung satu ke gedung lain.


"Hah ... hah ... hah, istirahat dulu. Gue capek banget," ujar Mateo.


"Kita bukan jadi peserta lomba lari bodoh! tapi kita lagi jadi tawanan, gila kali lu! sama aja kita ketangkep!" sentak Frans.


"HEI!"


Frans dan Mateo terkejut, ternyata para polisi itu sudah mengejar mereka. Frans dan Mateo pun berlari kembali dan melompati gedung-gedung itu.


Mateo menyentuh earphonenya, terdengar suara teman Sachi memberi tahu kepadanya sebuah informasi.


"Saya sudah memantau rekaman CCTV dan menaruh GPS di mobil tersangka. Sekarang mobil itu bergerak menuju perbatasan, kalian harus cepat menuju perbatasan sebelum mobil itu keluar dan kau akan kehilangan adikmu!"


Mateo semakin cepat berlari, dia menarik Frans menuju tangga. Mereka turun dan mengambil mobil yang terparkir.


Mereka melajukan mobilnya, bahkan mereka menabrak pembatas jalan tetapi mereka tidak peduli.


"Lu bawa mobil yang pelan dong! gue gak mau di ajak mati! gue belum dapet jatah ama bini gueee!" teriak Frans pada Mateo yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Mereka sedang menuju perbatasan, jika kita telat sedikit saja ... kita kehilangan mereka," ujar Mateo.


Frans memasang sabuk pengaman dan memegang erat pegangan atas kabin. Mateo masih fokus menyetir hingga ada suara tembakan yang menembak mobil mereka.


DOR!


"FRANS!"


Frans membuka sabuk pengamannya, dia membuka jendela mobil dan mengeluarkan setengah badannya. Dia menembaki sebuah mobil yang mengikuti mereka.


Sesampainya di sebuah lorong jalan, mendadak Mateo menghentikan mobilnya. Frans dan Mateo keluar dari mobil, mereka pun segera berlari dan melihat ke tebing yang terdapat jalanan bawah yang merupakan akses perbatasan.


Terlihat sebuah mobil putih menuju perbatasan itu, mereka berdua terlambat. Mobil itu telah keluar dari perbatasan setelah dua orang penjaga membuka gerbang.


DOR!


Frans kembali ke mobil, dia mengambil tambang dan menyerahkannya ke Mateo.


"Aku tau kau seorang ahli pemanjat tebing, kini buktikan keahlianmu!" sentak Frans.


Mateo melihat tambang tersebut, Setelahnya netranya menangkap beberapa mobil yang telah mendekati mereka.


"Bagaimana denganmu?" tanya Mateo.


"Kita gak ada waktu, aku akan melawan mereka!" ujar Frans dan mendorong Mateo.


Mateo menyangkutkan tambang itu pada pembatas jalan, setelahnya dia mengikat pada tubuhnya dan mulai terjun ke bawah. Jalanan tampak seperti jalanan bertingkat sehingga Mateo dengan mudah bisa mencegat mobil itu.


CIIITTT!


Mateo berhasil mencegat mobil itu, dia menembaki orang yang menyetir. Temannya pun tak terima, dia berduel dengan Mateo dan tentu saja Mateo yang memenangkannya.


Mateo mengatur nafasnya, dia mendekati box mobil. Mateo melihat gembok itu, dia menjauh dan menembak gembok tersebut.


Setelah terbuka Mateo membuka pintu box itu, dia terkejut kala banyak anak kecil yang keluar dari dalam box itu dan berlari tak tentu arah.


Mateo tak sengaja memegang lengan seorang anak kecil, tatapannya jatuh pada sosok anak kecil yang memakai gelang merah di tangan yang Mateo genggam.


"Raffa?"


Anak tersebut berusaha melepaskan cekalan tangan Mateo, anak berwajah pucat dengan bibirnya yang tampak putih dan pecah-pecah itu menatap takut ke arah Mateo.


"Tenanglah, aku abangmu. Tenang okay," bujuk Mateo.


Mateo memeluk Raffa dengan erat, pertama kalinya dia memeluk sang adik. Pertama kalinya pula dia merasakan saat saat melihat betapa menyedihkannya sang adik saat ini.