
Cklek!
Mendengar suara pintu terbuka Frans langsung mendekati dokter itu, dengan wajah harap cemas Frans memberanikan diri untuk bertanya.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Frans.
Dokter tersebut membuka maskernya, dia tersenyum menatap Frans yang tengah khawatir.
"Istrimu baik-baik saja tuan, sekarang dia sedang memberikan asi untuk putra kalian. Kau bisa langsung melihatnya," terang sang dokter.
Frans tersenyum lebar, dia meloncat-loncat tidak jelas hingga menimbulkan pertanyaan dari dokter dan Ica.
"Raisa kau dengar itu? aku gak jadi duda! aku sidah menjadi appa! kau dengar! aku jadi appa!"
Ica memaksa senyumnya, abangnya seperti orang hutan yang baru merasakan dunia. Dia merasa tak enak pada pengunjung sekelilingnya terlebih Frans merupakan King Ateez. Namun, sepertinya gelar itu telah hilang karena tingkah Frans.
"Aku akan masuk ... DARLING!"
Mereka berdua menatap Frans yang memasuki ruang pemeriksaan Aqila, akhirnya pun mereka saling tatap dengan wajah terkejut.
Netra Frans terfokus pada istrinya yang sedang menggendong putranya, dengan langkah pelan Frans pun mendekati brankar Aqila.
"Frans, bayi kita ...," ujar Aqila.
"Dia bayi yang dulunya aku tidak harapkan, dia bayi yang dulunya aku katakan anak haram. Dia bayi yang kehadirannya sangat aku benci dan kini dia bayi menjadi bayi yang paling berharga di hidup kami," batin Frans.
Aqila menatap heran Frans yang hanya terdiam, dia menyentuh lengan suaminya agar menyandarkan nya.
"Frans, apa kau tidak mau menggendongnya?" tanya Aqila.
Frans tersentak kaget, dia mengangguk pelan dan Aqila pun memberikan bayi di gendongannya pada Frans.
"Sa-sayang, di-dia akan jatuh. A-aku takut," ujar Frans dengan gemetar.
Aqila terkekeh, Frans masih terlalu kaku untuk menggendong bayi mereka.
"Tenanglah, kau pasti bisa," ujar Aqila.
Cklek!
Terlihat Ane dan Geo memasuki ruangan Aqila, mereka tersenyum senang melihat Aqila dan juga Frans yang sedang menggendong bayi.
"Menantu mamah, gimana sayang? masih lemes?" tanya Ane sambil memeluk menantunya.
"Enggak mah, aku juga gak dapet jahitan. Tadi cuman dibersihkan saja jalan lahirnya, dokter jiga bilang berat bayinya normal dan tak ada masalah," ujar Aqila dan melepas pelukan mereka.
"Benarkah?" kaget Ane.
"Kak Aqila lahiran di mobil mah," seru Ica yang baru saja masuk.
Ane menatap tak percaya pada menantunya, kemudian dia beralih menatap Frans yang masih sibuk melihat bayinya.
"Di dalam mobil? bagaimana bisa?!" kaget Ane.
"Kami tahu jika kakak Aqila akan segera melahirkan, kami dapat kabar jika Lia akan segera melahirkan dan saat akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba ketuban kakak pecah," terang Ica.
Aqila mengangguk membenarkan, sedetik kemudian dirinya baru teringat akan Lia.
"Lia? Lia gimana? keadaannya gimana?" panik Aqila.
Netra Frans beralih menatap istrinya, dia menyerahkan bayi di gendongannya pada sang mamah dan menatap istrinya yang tengah panik.
"Tenang, kamu jangan panik okay. Rileks, jangan jadikan itu beban pikiran. AKu akan menghampiri ruangan Lia,"
Aqila mengangguk, Frans pun pamit keluar untuk menghampiri ruangan Lia. Sesampainya di sana terlihat keluarga Wesley sedang menatap cemas ke arah ruangan, dan terdengar teriakan tangis pilu Lia.
"Mommy, ada apa ini?" tanya Frans pada Amora yang tengah menahan tangisnya.
Amora akan menjawab, tetapi dia tak mampu untuk menjelaskannya. Aurora pun mendekati Frans, dia menatap kakak iparnya itu dengan pandangan sendu.
"Kak Lia sudah melahirkan, bayinya kembar laki-laki. Tapi salah satunya ... salah satunya tida menangis, bahkan ... dia ...,"
"Apa?!"
"Bayiku hiks ... bayi aku kak! hiks ... bayi aku hiks ...," isak Lia yang ada di pelukan Ezra.
Ezra juga tak sanggup menahan air matanya, bayi mereka kini tak bergerak. Bahkan tubuhnya membiru, Ezra sangat kalut saat ini.
"Kami akan mengurus ...,"
"Dok," panggil Ezra dengan lirih.
"Ya tuan?" tanya sang dokter.
Ezra melepas pelukan Lia, dia mendekati sang dokter yang tengah menggendong bayinya.
"Boleh saya gendong? saya ingin menggendongnya," lirih Ezra.
Dokter tersebut menatap Ezra dengan sendu, bayi yang dia gendong hanya memiliki berat badan 1,5 kg. Sangat kecil dan prematur, sedangkan bayi satunya memiliki berat 2,5 kg.
Dokter pun memberikan bayi itu pada Ezra, dan Ezra menggendongnya dengan sangat hati-hati.
"Hei, sayang. Jagoan papi, ngantuk yah sayang ...," bisik Ezra dengan nada yang bergetar.
"Papi ... haahh ... papi sayang ade, papi ingin denger suara tangis ade. Bisa sayang? papi ...,"
Ezra tak tahan lagi, dia terisak dengan memeluk putranya. Ini kedua kalinya dirinya merasa hancur setelah mengetahui fakta orang tuanya yang menyimpan rahasia besar darinya.
"Ezra," panggil Amora yang kini telah di berada di ruang operasi.
Ezra menatap Amora, dia menangis menumpahkan kesedihannya. Amora yang melihat itu langsung saja memeluk menantunya, Ezra sudah seperti putra kandungnya sendiri. Bagaimana pun juga, Ezra hanyalah sosok seorang pria yang rapuh.
Bayi yang ada di pelukan Ezra tiba-tiba saja merengek, Ezra dan Amora sontak saja tertegun begitu pula dengan Lia yang menghentikan tangisannya.
Amora melepas pelukannya, netranya menatap bayi uang ada di gendongan Ezra. Bayi itu menangis, benar-benar menangis.
"Tuan bayinya ... sus, cepat berikan penanganan pada bayinya." titah sang dokter sambil mengambil bayi yang ada di gendongan Ezra.
Ezra menatap penuh haru, dia mendekati brankar Lia dan segera memeluk istrinya dengan erat.
Lia pun memeluk Ezra tak kalah erat, bahkan operasi di perutnya tak dia rasakan karena kesedihannya terhadap anaknya.
"Kak hiks ... adek hiks ...,"
"Iya, adek kuat. Anak kita kuat," ujar Ezra.
Lia segera di bawa ke ruang rawat dengan bayi yang lain, sementara bayi yang terakhir harus berada di inkubator karena terlihat prematur.
"Ezra!" panggil Frans ketika melihat Ezra yang keluar dari ruang operasi.
Ezra mendekati Frans, kedua pria itu saling memeluk menyalurkan kegundahan mereka. Tak lama, mereka pun melepas pelukan dan saling melempar senyum.
"Wajahmu sangat jelek ketika menangis," ledek Frans.
"Kau juga, ada apa dengan kau? kenapa wajahmu sangat kusut sekali?" kekeh Ezra.
"Istriku juga baru melahirkan, dan kau tahu dia melahirkan di mobil. Hahaha, bayi kami sudah tidak sabar ingin keluar," terang Frans.
Seketika mereka yang mendengar menatap Frans tak percaya, Alden mendekati Frans dan menepuk bahu pria itu kencang.
"Kau, Aqila melahirkan?!" kaget Alden.
"Frans, aku pamit dulu. Aku akan melihat bayiku yang ada di inkubator," sela Ezra.
Frans mengangguk, dia tahu apa yang terjadi di dalam sebab dirinya sedikit melihat dan mendengar tangisan nyaring itu.
"Iya, tadi kami berniat akan melihat kondisi Lia. Ternyata Aqila malah mengalami pecah ketuban, dan saat perjalan ke rumah sakit di langsung melahirkan," terang Frans.
"Kenapa secepat itu? dulu mommy melahirkan haris berjam-jam sampai sampai rambut ku rontok akibat tarikannya," ujar Alden.
Frans terkekeh, dia mengajak Alden untuk menemui istri beserta buah hati mereka. Tetapi Alden menolaknya dengan alasan dia harus melihat kondisi Lia beserta cucu kembarnya.
"Baiklah, aku akan menyampaikan pada Aqila," ujar Frans.
"Maaf sekali lagi Frans, yang terpenting Aqila dan bayi kalian baik-baik saja. Nanti setelah ku pastikan keadaan Lia beserta si kembar membaik, aku akan melihatnya," terang Alden.