My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 63: Baby twins Castillo



Frans tengah memperhatikan wajah putranya, putra yang baru saja istrinya lahirkan. Setelah Aqila menyusuinya, kini tampak bayi itu tertidur sangat pulas di dekapan Frans.


"Frans, bagaimana keadaan Lia dan si kembar?" tanya Aqila yang tengah di suapi buah oleh Ane.


"Iya Frans, keadaannya gimana? hamil kembar memang banyak resikonya terlebih umur Lia masih sangat muda, beruntung dia ambil jalur operasi untuk melahirkan," ujar Ane.


Frans yang tengah duduk di sofa menghela nafasnya, dia menatap Aqila dengan tatapan khawatir.


"Setelah aku ceritakan ini aku harap kamu tenang dan jangan panik okay?" pinta Frans.


"Emangnya kenapa sih? Lia kenapa? bayinya kenapa?" tanya Aqila yang mulai panik.


"Tuh kan, baru aku bilang," kesal Frans.


Aqila yang penasaran pun menormalkan ekspresinya, setelah itu dia kembali bertanya pada suaminya.


"Jadi?" tanya Aqila.


"Huh ... keadaan Lia baik-naik aja, bayi mereka pun selamat dan normal. Tetapi, bayi yang kedua lahir ... dia tak menangis, bahkan badannya sudah dingin. Dokter sudah berusaha membuatnya menangis, tetapi tetao saja," ujar Frans.


Aqila menitikkan air matanya, Ane yang melihat hal itu segera menghapus air mata menantunya dengan tisu.


"Terus, sekarang keadaannya gimana hiks ... hiks ...," isak Aqila.


"Tuh kan, dengerin cerita sampai selesai dulu," pinta Frans.


Aqila ingin sekali memukul Frans sebab pria itulah yang menjelaskan setengah-setengah padanya.


"Saat Ezra menggendongnya ...,"


Frans pun menceritakan apa yang terjadi saat tadi, Aqila yang mendengar itu menjadi menangis haru.


"Bayinya sangat kecil saat aku lihat, bahkan hanya setengah dari berat badan bayi kita," terang Frans.


"Kecil sekali!" kaget Aqila.


"Iyah, dia terlahir prematur. Tapi yang pertama beratnya normal, sekitar 2,5." terang Frans sambil membenarkan gendongan putranya.


Aqila mengangguk, Ane yang mendengar hal itu menjadi khawatir pada keadaan Ezra dan menantunya. Namun, dia tahu pasti disana banyak sekali keluarga Wesley. Banyak yang memperhatikan Lia berbeda dengan Aqila yang hanya memiliki keluarga Gevonac.


"Mah," panggil Aqila menyadarkan lamunan sang mamah mertua.


"Iya apa?" sahut Ane.


"Tengokin Lia gih, pasti Ezra butuh mamah. Dia butuh dukungan mamah saat kondisinya seperti itu," pinta Aqila.


"Iya mah, Aqila juga sudah baik-baik saja. Susul Ica gih, dia udah pergi duluan kesana," sahut Frans.


Ane mengangguk sambil tersenyum, dia menaruh piring buah itu kembali ke nakas. Setelahnya dia keluar dari ruang rawat Aqila menuju kamar rawat Lia.


Frans pun bangkit daru duduknya, dia mendekati Aqila yang sedang menatapnya. Frans menduduki dirinya di tepi brankar Aqila, dia tersenyum sambil menatap Aqila.


Tangan Frans terulur, dia mengambil tangan Aqila dan mencium nya. Setelahnya dia mencium kening istrinya itu dengan lama, dan Aqila pun memejamkan matanya.


"Terima kasih, terima kasih kamu telah memberikanku seorang penerus. Terima kasih," tulus Frans dan menempelkan keningnya dengan kening Aqila.


Aqila mengangguk, matanya berkaca-kaca. Frans pun menjauhkan keningnya dari Aqila, dia menatap istrinya dengan lembut.


"Kau sudah membuat nama untuk bayi kita?" tanya Aqila sambil menghapus jejak air matanya.


"Belum, aku lupa hehe,"


****


"Ezra, makan dulu ... dari tadi pagi kamu gak makan loh, mumpung Lia lagi istirahat," bujuk Amora.


"Nanti aja mom, Ezra belum laper," lirih Ezra.


Ezra masih sibuk menjaga putra sulungnya, bayi itu terlihat sangat menggemaskan dengan bola mata berwarna hitam seperti dirinya.


Cklek!


Ezra dan yang lainnya menoleh, mereka melihat Ane yang sedang berdiri di ambang pintu. Ica yang melihat mamahnya pun segera menghampirinya.


"Mamah, mau lihat Lia?" tanya Ica.


Amora memberi kode pada Ezra untuk menyapa Ane, Ezra pun mengangguk dan mendekati ibu kandungnya itu.


"Ezra maaf, mamah gak tau kalau ...,"


"Gak papa, Ezra yang salah karena tidak beri tahu mamah soal ini. Lagi pula menantu mamah yang lain juga melahirkan," ujar Ezra.


Netra Ane menatap Lia yang sedang tertidur, Ezra yang mengerti hak itu segera mengajak Ane mendekati brankar Lia.


"Lia sedang istirahat," ujar Ezra.


"Apa kau sudah menghubungi ayahmu Ezra?" tanya Ane.


Seketika Ezra terdiam, sudah lama sekali dia tak menelpon Zidan beserta keluarga yang lain.


"Aku sudah menghubungi Viola, mereka sedang perjalanan menuju kesini." sahut Lio sambil berjalan mendekati Ezra.


Ezra terkejut, dia tak tahu jika Lio sudah mengabarkan keluarganya. Lio yang mengerti keterkejutan Ezra pun menepuk bahu pria itu.


"Aku akan menjemput bang Elbert di lobi," ujar Lio dan pergi dari kamar rawat itu.


Ane tersenyum melihat Ezra yang tampak terkejut, dia tahu jika putranya itu tengah bingung bagaimana mengungkapkan ekspresinya.


"Oh iya, dimana putra sulungmu?" tanya Ane.


"Di sana, box bayi itu. Dia mudah terbangun, aku harap mamah tak menganggu tidurnya sebab Lia masih istirahat," pinta Ezra.


Ane mengangguk, dia mendekati box bayi dan menatap cucunya. Cucu dari anak kandungnya, bayi itu terlihat sangat mirip dengan Ezra terlihat dari rambut hitam legam dan juga warna mata yang sama seperti Ezra.


"Siapa namanya?" tanya Ane sambil mengelus pipi bulat bayi itu.


"Schafer Elang Castillo," ujar Ezra yang kini menatap fokus pada putranya yang menggeliat pelan.


"Apa arti nama itu?" heran Amora.


Ezra tersenyum, dia mengelus pipi gembul putranya.


"Schafer artinya senjata, Elang aku ingin dia memiliki kehidupan bebas seperti elang bukan seperti diriku yang hidup dengan kekangan sedari kecil," lirih Ezra.


Ane menatap Ezra dengan sendu, dia merasakan betapa tersiksanya Ezra dulu hanya dengan menatap mata sang putra.


"Ehmm terus putra sulungmu?" tanya Amora mengubah suasana.


"Dari matanya, aku melihat keindahan. Warna biru laut, matanya seperti kakek kan mah? benar bukan? walau aku belum bertemu dengannya, tetapi aku melihat fotonya," ujar Ezra pada Ane yang terdiam kaku.


Ezra menatap ujar jendela kamar rawat itu, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Schafer Sky Castillo, artinya senjata langit Castillo. Aku ingin dia menjadi langit untuk orang terdekatnya, aku ingin dia menjadi langit bagi setiap orang di dekatnya," terang Ezra.


"Aku bukanlah langit bagi orang tuaku, aku bukan langit bagi kalian. Tapi aku ingin putraku menjadi langit untuk kehidupan ku dan juga istriku," lanjut Ezra.


Amora dan Ane mengangguk, mereka melihat Elang yang sudah membuka matanya.


"Lihatlah, matanya setajam elang," canda Amora.


"Benar," seru Ane.


"Berbeda dengan Sky, tatapan bayi itu sangat lembut. Bahkan tatapannya membuatku ingin selalu menatapnya," terang Ezra.


Ane dan Amora penasaran, mereka belum melihat karena Sky yang berada di inkubator.


"Mamah jadi ingin melihatnya," ujar Ane.


"Benar, aku harap Elang akan selalu menjaga adik kembarnya. Dia akan menjadi abang yang hebat," ujar Amora.


Ezra mengangguk seraya mengelus kepala putranya, tatapan putranya semakin tajam kala melihat Amora.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" heran Amora.


Tiba-tiba Elang tertawa lebar, mereka semua terkekeh melihat kelakuan bayi yang haru beberapa jam lahir itu.


"Oh iya, ngomong-ngomong siapa nama bayi Frans dan Aqila?" tanya Amora.


"Entahlah, mungkin bisa jadi nama mobil karena bayi itu lahir di mobil," canda Ane.