My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 73: menjemput Sky



"Keadaan Sky sudah membaik, berat badannya sudah naik hingga 2 kg. Dokter sudah memperbolehkan dia pulang," ujar Ezra pada Lia yang tengah menyusui Elang.


Sontak saja raut wajah Lia menjadi bahagia, tetapi dia tiba-tiba murung. Lia teringat jika Kirana dan Zidan sudah pulang beberapa minggu yang lalu dan tidak bisa menyambut kepulangan Sky.


"Apa kau tidak senang?" tanya Ezra dengan lembut sambil mengusap kepala istrinya.


"Tidak, aku sangat senang mendengarnya. Seharusnya bunda dan papah ada disini menyambut Kedatangan mereka," cicit Lia.


Ezra menghela nafasnya, dia duduk di tepi tempat tidur dan memeluk istrinya. Dua minggu lalu, Lia sudah di perbolehkan pulang. Sementara Sky, anak itu masih di rumah sakit dengan penjagaan yang sungguh ketat. Mafioso Frans pun ikut membantu menjaga ruangan itu, begitu pula dengan bawahan Alden.


"Tak perlu sedih begitu, saat si kembar berumur 6 bukan nanti ... kita akan berangkat ke mansion Elvish hm," ujar Ezra.


Lia mengerucutkan bibirnya, 6 bulan menurutnya sangatlah lama. Tapi dia juga tidak boleh egois, kedua putranya belum bisa bepergian jauh terlebih Sky.


"Aku akan menjemputnya, kawalan Frans sudah menunggu di depan," pamit Ezra dan mengecup kening Lia.


Ezra mengelus pipi Elang, setelahnya di membenarkan kemejanya dan beranjak dari kamar. Lia menepuk paha Elang agara anaknya segera tertidur, dia menghela nafas berat ketika kesedihan menerpa hatinya.


"Sampai kapan harus begini? jika saja kak Ezra tahu kebenarannya, apakah dia akan membenci mamah? lebih baik aku tutup mulut saja," lirih Lia.


Sedangkan Ezra, dia keluar dati kediamannya. Netranya melihat Frans yang tengah menunggunya di depan mobil.


"Kau disini?" heran Ezra.


"Tentu saja, Aqila memaksaku untuk memastikan putramu aman. Hais ... aku atau kamu sih yang suaminya?" gerutu Frans.


Ezra tersenyum tipis, dia memasuki mobil Frans sementara Frans tengah menahan kesal dengan Ezra yang seenaknya.


"Hei! kenapa kau duduk di belakang? aku bukan supirmu!" sentak Frans sambil membuka pintu mobil.


"Cepatlah jalan, kau akan kehabisan waktu nanti," ujar Ezra dengan santai.


Frans menahan kekesalannya, ingin rasanya dia menarik Ezra dan melemparnya. Tapi akalnya masih berjalan, sehingga Frans menumpahkan kekesalannya pada pintu mobilnya.


BRAK!


Frans menutup pintu mobil dengan keras, dia berjalan menuju pintu kemudi sambil merutuki nama Ezra.


"Cepatlah, aku tidak sabar ingin bertemu putraku," seru Ezra.


Frans pun melajukan mobilnya, para mafioso mengikuti mobil Frans dari belakang.


"Frans," panggil Ezra.


"Hm," sahut Frans yang masih kesal.


Mobil terhenti di lampu merah, Ezra menepuk bahu Frans dan menunjuk sebuah motor yang di tumpangi oleh sepasang pria dan wanita.


"Itu Raisa bukan?" tanya Ezra.


"Mana?" heran Frans sambil menatap apa yang Ezra tunjuk.


"Itu!" unjuk Ezra dan mengarahkan kepala Frans pada apa yang menjadi pusat perhatian nya.


Frans menajamkan matanya, dia melihat Ica yang sedang berboncengan dengan seorang pria yang tak dia kenal. Selama ini Ica tidak pernah mengatakan jika dia mempunyai kekasih, terlebih Geo yang melarangnya untuk berpacaran.


"Temennya kali," ujar Frans.


"Temen apa temen? pelukan gitu lagi, bahaya tuh udah kelewat batas namanya," seru Ezra.


TIN!


TIN!


TIN!


Frans terpaksa melajukan mobilnya sebab pengendara lain sudah mengklakson dirinya, dia pun melupakan masalah Ica dan segera menuju rumah sakit.


Sesampainya di sana, Ezra dan Frans langsung keluar dari mobil. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga di depan pintu ruangan yang banyak sekali penjaga.


Setiap suster yang ingin masuk ke kamar itu, harus di pastikan jika suster itu adalah seseorang bawahan Frans.


"Buka pintunya," titah Frans.


Penjaga pintu mengangguk, dia membuka pintu sehingga Frans dan Ezra oun memasuki kamar itu. Netra Ezra melihat putranya yang tengah berada di gendongan suster.


"Oh, tuan sudah datang?" seru sang suter dan berjalan mendekati Ezra.


"Langsung pulang?" tanya Frans.


"Memangnya kau mau kemana? aku ingin bersama keluargaku, jika kau ingin pergi lagi yah sana pergilah," acuh Ezra dan keluar dari kamar tersebut.


Frans menjatuhkan rahangnya, Ezra benar-benar membuatnya kesal. Tidak adakah ucapan terima kasih untuknya? walau pertolongannya terpaksa tapi tetap saja Ezra harus berterimakasih padanya bukan?


"Bocah ndas!"


***


"Huh, panas yah?" tanya Gibran sambil memberikan minum pada Ica yang tengah mengipas dirinya dengan tangan.


"Iya, makasih," ujar Ica dengan senang.


Pendekatan Ica dan Gibran berhasil, mereka pun berhasil menjalin hubungan. Ica masih menjalankan taruhan itu, dia tak menyangka jika Gibran akan luluh padanya.


"Habis ini mau kemana?" tanya Gibran dengan lembut.


"Ehm ...." pikir Ica sambil meletakkan telunjuknya di dagunya.


"Bagaimana jika kita ke pantai? aku sudah lama tidak kesana, ajakin abang tapi gak bisa. Sama kamu aja yah?" tanya Ica.


Gibran tersenyum, dia mengangguk sehingga Ica pun memekik senang.


"Buat awal, gue biarin lu bahagia. Sorry, gue jadikan lu pion dalam balas dendam gue," batin Gibran. Wajah Gibran masih dengan menampilkan sebuah senyuman, tetapi senyuman yang berbeda.


"Raisa," panggil Gibran.


"Hm?" sahut Ica sambil menolehkan kepalanya.


Gibran akui jika Ica sangatlah cantik dan manis, dia oun terpana dengan kecantikan Ica. Namun, ambisinya untuk membalas Frans sangatlah besar.


"Apa kau tidak malu jalan denganku?" tanya Gibran.


Ica memiringkan kepalanya, dia bingung kenapa harus malu? wajah Gibran sangatlah tampan dan banyak wanita yang terpikat, justru dirinya lah yang merasa tidak pede.


"Wajahmu sudah seperti artis, mana mungkin aku malu," ujar Ica.


"Aku dari keluarga miskin, sedangkan kamu dari keluarga kaya. Semuanya sama, tapi kita yang berbeda," ujar Gibran.


Ica menangkup kedua pipi Gibran dengan tangannya, dia menatap mata coklat Gibran yang sangat menenangkan.


"Aku sudah kaya, kamu tidak perlu kaya. Uangku cukup untuk kita foya-foya," seru Ica.


Gibran terkekeh, dia mencubit hidung Ica sehingga tampak merah.


"Gibran!" sentak Ica sambil mengusap hidung nya.


"Apa sayang?" suara berat Gibran mengalun di telinga Ica, dan itu membuat Ica tertegun.


Gibran terkekeh gemas, dia akan memeluk Ica. Namun, sebuah tangan kekar menghalangi tubuhnya.


Tatapan Ica dan Gibran terarah pada Frans yang tengah menahan amarahnya, Gibran pun hanya santai berbeda dengan Ica yang ketakutan.


"Abang," lirih Ica.


"Beraninya kau mendekati adikku? punya nyali juga ternyata kamu?! anak beasiswa, dan miskin sepertimu berani mendekati adikku?" marah Frans.


Frans memegang eat kaos Gibran, sehingga Gibran mendongak menatap Frans dengan senyum.


"Abang, lepaskan Gibran! dia baik sama Ica, lepaskan bang!" seru Ica.


Frans menghempaskan Ica, sehingga wanita itu membentur pohon. Gibran pun menepis kuat tangan Frans, netranya menatap Frans dengan tajam.


"Aku menjaganya dan tidak bermain kasar, kenapa kau kasar dengan adikmu sendiri?" geram Gibran dan mendekati Ica.


Frans pun menarik tangan Ica dengan kasar, dia segera membawa Ica masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Gibran yang tengah tersenyum penuh arti.


"Orang bilang ... menghancurkan seseorang lewat orang terdekatnya itu sangat lah mudah, ku tunggu perpecahan kalian," gumam Gibran.


________


gibran ... gibran😴😴, jangan di tiru kawan😪😪