My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 30: Keistimewaan Ravin



Sesuai janji Elbert, kini pria itu dan tengah di perjalanan menuju rumah tunangan Elbert bernama Audrey.


Saat di lampu merah, mobil Elbert berhenti. Ravin pun membuka jendela dan menatap pengendara lain. Tapi ketika netranya melihat seorang anak yang di bonceng oleh ayahnya, Ravin melotot terkejut ketika anak itu melotot kepadanya.


"IH! NDA COPAN YAH! NANTI BICA DI LAPOLIN POLICI LOHHH!"


"MAU DI COLOK MATANA HAH!"


Elbert terkejut saat mendapati Ravin berdiri dan mengeluarkan kepalanya. Dia segera menarik tubuh Ravin dan menutup jendela, apalagi kini pengendara motor tengah memperhatikan tingkah anak itu.


"Sudah-sudah," ujar Elbert.


"Dia na hiks ... pelelok pelelok Lavin," ujar Ravin dengan suara bergetar menahan tangis.


Elbert menghiraukannya karena melihat lampu yang sudah hijau, dia segera memasang sabuk pengaman Ravin dan membiarkan anak itu menangis sementara dia melajukan mobilnya.


Saat mobil Elbert melaju, tak di sangka ada sosok pria yang tertarik dengan kelucuan Ravin. Bahkan pria itu kini masih membuka kaca jendelanya sampai mobik Elbert tak terlihat.


"Apa kau tau siapa pemilik mobil di depan kita tadi?" tanya pria tersebut pada sang supir.


"Dari mobilnya terdapat lambang Wesley, bisa jadi itu adalah bungsu Wesley yang selama ini jarang di perlihatkan," jawab sang supir.


"Oh begitu, pantas saja Alden sangat menjaga putranya. Ternyata semenggemaskan itu," ujarnya.


Sedangkan Elbert, mobilnya kini sudah masuk di pelataran mansion Robertson.


"Sudah sampai, diam disitu abang akan kembali," titah Elbert.


Ravin hanya mengangguk, tak lama Elbert membuka pintu mobil yang tepat di sebelah Ravin. Pria itu membuka sabuk pengaman sang adik dan membawanya ke gendongannya.


"Mau jalan apa di gendong?" tanya Elbert.


Ravin menatap sekelilingnya, ternyata mansion itu tak jauh beda dengan mansionnya yang di penuhi oleh pria berpakaian bodyguard.


"Cama abang aja," cicit Ravin dan menjatuhkan kepalanya di bahu lebar sang abang.


Elbert pun berjalan memasuki mansion, semua bodyguard menyapanya dengan sopan dan di balas senyum tipis oleh Elbert.


"ELBERT!" seru seorang wanita.


Ravin mengangkat kepalanya, dia menatap wanita itu dengan heran. Bukankah abangnya ingin bertemu kakak cantiknya? lalu kenapa yang datang berbeda?


"Kau pasti ingin menemui Audrey bukan? dia sedang di taman belakang, kau bisa kesana. Dan aku harus pulang, bye!"


Elbert mengerutkan keningnya ketika melihat wanita itu pergi, dia heran mengapa wanita tersebut pergi setelah dirinya datang. Mungkin saja wanita itu sudah lama berada disini.


Elbert pun berjalan ke taman belakang, netranya mendapati bahwa Audrey sedang bermain dengan macan putih kesayangannya.


"Hei," sapa Elbert.


Audrey menoleh, dia tersenyum dan langsung menghampiri tunangannya itu.


"Kau kesini? tumben sekali, biasanya juga aku harus terlebih dulu menyuruhmu," ujar Audrey.


"Aku kesini ingin membahas pernikahan kita, aku ingin bertemu dengan ayahmu," ujar Elbert.


Sedangkan Ravin, bocah itu tampak serius melihat macan putih yang tengah menatapnya garang. Ravin pun menghentakkan kakinya minta untuk di turunkan.


"Tulun," pinta Ravin.


ELbert menurunkannya, Audrey sudah waspada ketika adik dari tunangannya mendekati macan putih yang hanya jinak dengan dirinya saja.


"Elbert, jauhkan adikmu dari Carlos. Macanku baru terlatih, dia hanya menurut padaku. AKu takut adikmu terluka," khawatir Audrey.


Elbert mengangguk, dia kembali membawa Ravin ke gendongannya. Sementara Audrey mengembalikan macan miliknya ke kandangnya.


"Ayo masuk," ujar Audrey seraya mendekati Elbert.


"Kakak tantik, Lavin mau main cama kucing na boleh?" ujar Ravin sambil menatap Audrey yang tersenyum manis kepadanya.


"Itu bukan kucing sayang, itu macan." ujar Audrey seraya mencubit gemas pipi bakpau Ravin.


Audrey masuk duluan sedangkan Elbert mengikutinya dari belakang. Sedari tadi netra Ravin tak lepas dari taman belakang itu.


Mereka kini tengah bersantai duduk di ruang tamu, Elbert pun mulai membuka pembahasannya bersama Audrey. Sementara Ravin, yang merasa di cueki pun dia segera berlari ke taman belakang.


"Macan dali mana, ini itu kucing. Cama kayak punanya Lavin di lumah," ujarnya.


Ravin masuk ke kandang itu melalui celah, tubuhnya yang kecil memudahkannya untuk masuk. Netranya melihat sang macan yang tengah membelakanginya.


"Halo," ujar Ravin.


Macan itu menoleh, dia menggertakkan giginya dan memutari Ravin. Macan tersebut tengah waspada pada sosok mungil yang memasuki rumahnya.


Ravin, kini bocah itu menduduki dirinya di rerumputan sambil memperhatikan apa yang di lakukan macan tersebut.


"Nda ucah putel-putel begitu, Lavin pucing ini palana. Cini duduk baleng Lavin, kita main catul," ujar Ravin dan menepuk sebelahnya.


Bagai sebuah perintah, macan itu merebahkan dirinya di samping Ravin hingga Ravin harus bergeser di karenakan badan macan itu yang lumayan besar.


Ravin mengelus kepala macan itu dengan tangan mungilnya, macan itu pun menduselkan wajahnya pada Ravin. Mereka tak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka.


"Wah ... wah ... wah, ternyata kita di pertemukan kembali. Aku kembali di kejutkan dengan sikap bungsu Alden," ujar pria yang berdiri tak jauh dari kandang tersebut.


Sedangkan Elbert yang sudah menyelesaikan pembahasannya dengan Azka yang merupakan calon mertua dan juga Audrey dia baru menyadari jika Ravin tak bersamanya.


"El, Ravin kemana?" tanya Audrey sambil menatap sekitar nya.


Elbert membulatkan matanya, dia segera berlari ke arah taman. Sesuai dugaannya, Ravin malah berada di kandang itu bersama macan milik Audrey. Di tambah, keduanya tengah tertidur dengan pulas.


"Astaga," kaget Audrey dan menutup mulutnya karena terkejut.


"Cepet buka kandangnya, mumpung macannya tidur," ujar titah Elbert.


Audrey mengangguk, dia segera mengambil kunci kandang dan membuka kandang tersebut. Elbert pun masuk, dengan perlahan dia mendekati sang adik.


Tapi, saat dirinya akan mengangkat Ravin. Macan tersebut bangun, dia menatap marah kepada Elbert. Dengan terpaksa ELbert keluar dari kandang dan meminta Audrey untuk mengambil sang adik.


Sama seperti Elbert, Audrey tak bisa mengambilnya lantaran macan miliknya malah memeluk tubuh kecil Ravin. Dia juga tak bisa memaksanya karena dia takut sang macan mengamuk dan malah menyakiti Ravin.


"Bagaimana bisa adikmu disitu El?" bingung Azka.


"Ravin penyuka segala jenis hewan buas, dirinya hanya takut dengan kambing dan kecoa. Oh iya satu lagi ... soang, bebek dan sejenis itu. Entah apa yang di pikiran adikku paman," tetang Elbert tanpa mengalihkan pandangannya dari Ravin agar dia waspada kapan macan itu menyerang.


Audrey tak menyerah, dia mencoba membujuk sang macan dengan makanan atau hal lain. Tapi tetap saja, macannya itu cue dan hanya mengendus Ravin yang tertidur lelap.


"Kenapa dia tak mau menurut denganmu? yang ku tahu dia hanya menurut denganmu selama ini?" bingung Elbert.


"Tidak, bukan hanya menurut padaku. Karena sebelumnya Carlos di asuh oleh pamanku, dan Carlos sangat teramat mematuhinya," terang Audrey.


Audrey berusaha menarik kaki Ravin, anak itu merosot dan sang macan pun tidak terusik sehingga dia pikir rencana kali ini berhasil. Namun, sebuah suara membuat mereka terperanjat kaget.


"JIKA DIA KEHILANGAN BOCAH ITU, MAKA KALIAN BISA DI TERKAM OLEHNYA,"


Elbert, Audrey dan Azka menoleh. Mereka menatap terkejut pria patuh baya yang baru saja datang dan mendekat ke arah mereka.


"PAman?" kaget Audrey.


"Stevan, kau sudah pulang?" heran Azka.


"Iya kak, sedari tadi aku berdiri disana memantau adik dari calon menantumu. Tadinya aku akan melarangnya, tapi aku melihat ada hal yang berbeda dengan putra bungsu Alden. Ini hal yang luar biasa," ujar Stevan.


"Paman, tolong keluarkan adikku dari sana. Jika ada apa-apa dengannya ... daddy dan mommy akan menggantungku di tiang listrik. Tolong aku paman," pinta Elbert dengan wajah memelas.


Stevano menggeleng, dia hanya mendekati macan itu dan mengelusnya. Tangannya yang lain membawa Ravin ke gendongannya, dan yang membuat mereka terkejut jika macan itu tak melakukan perlawanan pada Stevan.


"Adikmu memiliki daya tarik, dia bisa membuat hewan buas merasa aman dan nyaman bersamanya dalam waktu singkat. Keberanian yang dia miliki, aku yakin saat besar dia menjadi pria yang hebat." ujar Stevan sambil mendekati Elbert dan memberikan Ravin ke gendongan Elbert.


"Kenapa bisa seperti itu?" kaget Audrey.


"Bisa, misal seperti aku," ujar Stevan yang membuat mereka menatanya datar.


"Tapi El, kau yang lebih tau di banding aku bukan?" ujar Stevan sambil menaikkan satu sudut bibirnya.


Sedangkan Elbert, dia mengeluarkan aura yang tak biasa. Pria di hadapannya ini harus dia waspadai, omongan pria tersebut membuktikan jika Stevan tau keistimewaan yang dimiliki adik-adiknya terlebih Lia dan Ravin.


LIKENYA DONG, JANGAN LUPA KAKAK BAIK❤😘❤😘❤😘❤😘❤😘❤😘