My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 74: Perdebatan adik kakak



"Lepaskan bang! abang gak berhak ngatur kehidupan Ica!" sentak Raisa dan melepaskan tangannya dari genggaman Frans.


Frans membalikkan tubuhnya, dia menaikkan satu sudut bibirnya dan memandang Ica dengan tajam.


"Saya berhak mengatur kamu karena kamu adalah adik saya! dengan ini Raisa, kamu seorang penerus kedua Gevonac! pria yang kamu dekati hanyalah anak beasiswa, saya tahu karena kampus yang kamu miliki adalah milik saya!" tegas Frans dengan bahasa formalnya.


"Tapi dia baik bang, dia ...,"


"Berhenti mendekati pria itu Raisa! fokuslah pada pelajaranmu! dia hanya mengajakmu bermain-main, jangan sampai kau mengikuti alur permainannya!" tekan Frans dan meninggalkan Raisa yang mematung di ambang pintu.


Frans menaiki lift, pikirannya sungguh penuh. Dia sedang memikirkan anak dari Jefran dan di tambah sang adik yang memiliki hubungan dengan pria itu.


Cklek!


"Eh, kau sudah pulang?" tanya Aqila dan mendekati Frans yang tengah menutup kembali pintu kamar.


Tanpa sepatah kata, Frans langsung memeluk Aqila dengan erat. Aqila yang tak siap pun hampir terhuyung jika Frans tak menahan tubuhnya dengan lengan kekarnya.


Aqila pun mengelus punggung kekar Frans, dia berusaha untuk memberikan Frans ketenangan. Menahan diri untuk bertanya dulu agar Frans sendiri yang menceritakannya.


"Aku lelah," lirih Frans.


"Istirahatlah, aku di sampingmu," ujar Aqila.


Frans menghirup dalam aroma sang istri, wajahnya dia sembunyikan pada ceruk leher Aqila.


"Kau punya aku, kau bisa berbagi masalahmu denganku," ujar Aqila.


Beberapa menit setelahnya, Frans masih memeluk Aqila. Aqila juga sudah mulai pegal, tetapi Frans tak beranjak dari posisinya.


"Frans, bisa lepaskan dulu? punggungku sangat pegal," ujar Aqila.


Menahan bobot Frans yang melebihi dirinya membuat Aqila harus bersabar dan menahannya.


Frans akhirnya melepaskan pelukannya, dia berjalan ke arah tempat tidur dan menidurkan dirinya. Aqila yang melihat itu menggelengkan kepalanya, dia berjalan mendekati Frans untuk membuka sepatunya.


Dengkuran halus terdengar, Frans pun sudah pulas dalam tidurnya. Aqila keluar dari kamar, dia berniat untuk membuat salad.


Sesaat ketika dia berjalan, Aqila mendengar tangisan seseorang dan itu berasal dari kamar Ica.


Aqila mencoba mendekati telinganya, dan apa yang dia dengar tidak salah. Ica benar-benar menangis, dirinya bingung apakah Frans telah menyakiti Ica sehingga adik iparnya itu menangis?


"Ada apa ini," gumam Aqila.


***


"Anak mami, anak mami ...," seru Lia.


Ezra mengerutkan keningnya, dia menatap bingung ke arah Lia yang tengah menggendong putra bungsu mereka.


"Ganti lagi? kemarin kamu bilang mamah, sekarang mami, apa besok bunda?" heran Ezra, pasalnya panggilan Lia untuk dirinya selalu berbeda-beda.


Lia yang tadinya tersenyum seketika melunturkan senyumannya, dia menatap Ezra dengan kesal.


"Kakak kenapa sih?! kayaknya gak suka banget aku seneng," kesal Lia.


"Ya bukan begitu, anak-anak pasti bingung dengan omongan kamu," ujar Ezra.


Lia tertawa hambar, "Haha, iya kayak kamu! di kontak namanya Tono, eh pas ketemu jadi Tini! iya kan?! buaya!" ketus Lia.


Ezra menggaruk tengkuknya, dia merasa tak pernah menyimpan nomor kontak orang bernama Tono dan Tini. Kenapa Lia malah membahas itu.


"Udah, mending kamu gantiin popok Elang. Tuh anaknya udah mau nangis, cepet sana!" seru Lia.


Ezra membulatkan matanya, dia kembali teringat saat menggantikan popok Elang. Sangat bau dan Ezra tak mampu menahannya


"Gak ah, bau banget," tolak Ezra.


"Diiihhh, terus maunya gimana? jadi lakik jangan mau enaknya doang, buat, jadi, terus lepas. Gak ngotak emang," sinis Lia.


"Kan sama-sama kita yang," ujar Ezra.


Bruk!


Tap!


Tap!


Ucapan Lia terhenti kala Ezra turun dari tempat tidur dan berlari mendekati box bayi. Tampak wajah ayah baru itu terlihat sangat suram ketika Lia membandingkan dia dan Frans.


"Yang bersih yah papah," seru Lia.


Ezra membawa Elang ke tempat khusu pengganti popok, dia melepas celana Elang dan menatap popok itu dengan melas.


"Anggep aja wangi bakso Ezra, anggep aja begitu," lirih Ezra meyakinkan dirinya.


Lia sudah menahan tawanya, Ezra pun mulai membuat popok Elang. Dia menatap kotoran Elang yang lumayan banyak, sejenak Ezra menahan muntahannya.


"Makan jengkol berapa kilo sih nak," ujar Ezra.


"Hwek!"


Ezra menahan mualnya, dia mulai menggantikan popok putranya dengan yang baru. Semuanya berjalan baik, Ezra berhasil menggantikan popok Elang dan membuang yang kotor.


Saat dia akan memakaikan popok itu, sebuah air mancur membasahi wajahnya. Lia yang melihat itu melongo tak percaya apa yang Elang lakukan pada Ezra.


"Yang, ikutin anjuran pemerintah aja yah! dua anak cukup," ujar Ezra yang sepertinya sudah sedikit frustasi.


***


Terlihat Gibran berjalan memasuki rumahnya, rumah yang tampak sangat-sangat sederhana. Namun, siapa sangka jika di balik rumah itu terdapat sebuah gerbang yang menuju rumah mewah nan megah.


Dia memasuki gedung mewah itu dengan gayanya yang cool, netranya tak sengaja melihat pamannya yang berdiri di ujung tangga.


"Sudah senang memainkan anak orang?" tanya Rey dengan nada datarnya.


"Kau sudah tahu rupanya?" ujar Gibran sambil menaikkan satu sudut bibirnya.


Tampak Rey berjalan mendekati Gibran, dengan satu tangannya yang berada di saku membuatnya terlihat gagah.


"Meninggalnya ayahmu bukan karena wanita itu, kenapa kau harus melampiaskan dendammu padanya?" tanya Rey dengan dingin.


"Aku juga menjadi korban, padahal aku tidak bersalah. Aku kehilangan kasih sayang orang tuaku karena nya, padahal aku tidak bersalah!"


"Sudahlah paman, aku sangat lelah menjalankan drama ini," ujar Gibran dan beranjak dari hadapan Rey.


Rey menggelengkan kepalanya, Gibran masih memiliki pemikiran yang labil tapi penuh ambisi. Pria itu tengah salah dalam memilih jalan, tidak seharusnya Gibran menjadi Black si pria penuh dendam.


"Suatu saat nanti kau akan tersadar jika dendam tidak akan membuatmu bahagia," lirih Rey.


Pagi hari pun datang, Gibran bersiap untuk berangkat ke kampusnya.Kelulusannya meraih S2 tinggal sebentar lagi dan dia tak ingin menyia-nyiakan itu.


Di meja makan, terlihat Rey tengah memainkan Ipad miliknya dan Gibran tengah fokus pada sarapannya.


"Aku telah membebaskan Daniel dari penjara," ujar Gibran di sela makannya.


Rey mengalihkan pandangannya, netranya membulat sempurna kala sang ponakan mengucapkan hal itu.


"Apa kau sidah gila? kau membebaskan penjahat dunia, dia telah melakukan tindak kejahatan dengan menjual wanita dan anak kecil? dimana hati nuranimu?!" sentak Rey.


"Tidak ada, bagaimana aku bisa memilikinya saat kehidupanku hanya putih dan hitam?"


Rey menggelengkan kepalanya, dia harus menghentikan tindakan ponakannya.


"DI tambah lawanku bukan hanya Frans, tetapi juga Ezra. Ezra castillo menantu dari Alden Leon Wesley, dia juga ikut terlibat dalam penyerangan itu," ujar Gibran dengan amarah yang menggebu.


Rey sontak saja terkejut, nama itu tidak asing lagi baginya. Bahkan dia menjatuhkan Ipadnya dan mengundang keterkejutan Gibran.


"Kau sudah tidak waras Gibran!"