My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 26: Aku tidak suka



"Jadi besok kalian akan pindah dari sini?" tanya Geo pada Frans yang fokus dengan makan malamnya.


Frans hanya mengangguk singkat, dia masih mengunyah makanannya sehingga dirinya hanya bisa menatap sang papah.


"Apa Aqila juga menginginkan nya?" tanya Geo sambil beralih menatap Aqila yang sedang memeprhatikan percakapan mereka.


"ehm .. itu kemauanku pah, aku yang menginginkan untuk tidak tinggal di mansion," ujar Aqila.


"Kenapa?" heran Ane.


Aqila beralih menatap mamah mertuanya, dia tersenyum lembut. "Aqila bosa tinggal di mansion, Aqila hanya ingin tinggal dengan menjadi orang biasa. Bolehkah?" tanya Aqila.


PROK!


PROK!


PROK!


"Lu hebat banget, jarang di temuin cewe yang mau di ajak hidup susah. Gue aja gak mau," seru Ica sehabis tepuk tangan.


"Raisa, jaga bahasanya!" titah Geo.


Ica oun hanya bisa menyengir, dia menunjukkan dia jarinya menatap sang papah.


"Yasudah, itu keputusan kalian. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengiyakan," ujar Ane.


"Makasih mah, pah," tulus Aqila.


Mereka semua mengangguk, setelah itu tatapan Geo jatuh pada Frans yang tampak tak berterima kasih sama sekali dengan orang tuanya karena telah mengizinkannya.


"Kau tak berterima kasih kepada kami?" sinis Geo.


Frans mengangkat bahunya acuh. "Itu keinginan istriku, aku lebih suka tinggal disini," ujar Frans.


"KOK GITU!" delik Aqila.


Frans sontak saja terkejut, dia meneguk ludahnya kasar saat bersitatap dengan mata tajam sang istri.


"Ma-makasih pah, mah," gugup Frans.


Ane dan Geo tersenyum puas, akhirnya Frans memiliki pawang yang membuatnya luluh.


"Aku sudah selesai," ujar Frans dan bangkit dari duduknya.


Aqila oun menoleh menatap sang mamah, Ane yang mengerti pun mengangguk dia tahu jika menantunya akan menghampiri Frans.


Aqila kira Frans akan ke kamar, tapi dugaannya salah. Frans malah melangkah menuju taman belakang dan itu membuat Aqila bingung.


"Apa yang dia lakukan?" gumam Aqila saat melihat Frans terhenti di bangku taman dan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


"Rokok?" kaget Aqila.


Frans mengeluarkan rokok, dia mengambil satu batang dan membakarnya. Setelah itu dia menghisap rokok tersebut dan menghembuskannya.


"Cari gara-gara!" kesal Aqila.


Aqila segera beranjak dari tempatnya berdiri, dia menuju dapur untuk mengambil baskom dan mengisikannya air.


"Biar dia kapok merokok lagi," gumam Aqila.


Setelah baskom itu terisi, Aqila segera keluar dari dapur. DIa kembali ke tempat Frans merokok, setelah dirinya tiba di samping Frans tanpa aba-aba Aqila langsung menuangkan baskom berisikan air itu tepat saat Frans menghisap rokoknya. Sehingga kini wajah pria itu basah.


BYUR!


"APA-APAAN INI!" bentak Frans.


Frans mengusap wajahnya, dia menatap Aqila yang tengah menatap polos ke arahnya.


"Kau, kenapa kau menyiram wajahku?" geram Frans.


"Aku ... aku hanya mematikan api yang ada di bibirmu itu," jawab Aqila dengan lugu.


Frans menahan kekesalannya, jika dia kesal dengan Aqila bisa saja wanita itu menangis ataupun mengadu pada Gio yabg masih ada di mansion ini. Masalah akan semakin runyam nanti.


"Huh ... mengapa kau menyiramnya? kau taukan aku sedang merokok," ujar Frans dengan lembut.


"Aku gak suka kamu merokok," jujur Aqila.


Frans menaikkan satu alisnya. "Kenapa?" heran Frans.


"Tidak baik untuk kesehatan, bau rokokmu akan tercium olehku dan aku sedang hamil. Itu akan berbahaya," ujar Aqila.


Frans menghela nafasnya kasar, dia duduk kembali dan menatap Aqila yang sedang memilin bawah bajunya. Wanita itu akan melakukan hal tersebut jika dia tengah merasa khawatir.


"Tapi mulutku asam jika tidak merokok," ujar Frans.


"Hais, belakangan ini. Aku terlalu banyak pikiran, jadinya aku merokok. Aku lebih menghindari minuman keras di bandingkan rokok. Tapi jika kau melarang, aku akan berhenti," ucap Frans.


Aqila mengadahkan tangannya, hal itu membuat Frans bingung dengan apa yang di fikirkan oleh sang istri.


"Berikan rokokmu, aku tak percaya dengan segala yang kau ucapkan!" sentak Aqila.


"Baiklah," pasrah Frans.


Frans memberikan bungkus rokok tersebut, Aqila oun menerimanya dan mematahkan semua rokok yang Frans punya.


"Kenapa kau jahat sekali," cicit Frans.


"Ck, jika wanita membiarkan prianya merokok itu artinya dia tak menyayanginya karena ingin cepat mencari yang baru. Sedangkan aku, aku sa ...,"


"Sayang maksudmu?" sambung Frans sambil menaik turun kan alisnya.


Aqila mendengus sebal, dia melangkah menuju tong sampah dan membuang rokok tersebut. Setelah dia menatap mata Frans dengan tajam.


"Jangan macam-macam!" delik Aqila.


"Tidak, hanya satu macam saja. Kemarilah!" titah Frans.


Aqila menurut, dia mendekati Frans yang tengah tersenyum tengik menatapnya.


"Jangan modus!" sentak Aqila saat Frans akan merengkuh pinggangnya.


Frans mengangguk, dia menepuk tempat sebelahnya untuk di duduki oleh sang istri.


"Kapan jadwal kontrol kandunganmu?" tanya Frans sambil menatap Aqila yang membuang pandangannya.


"Bulan depan, bareng Lia," jawab Aqila.


"Bareng Lia?" heran Frans.


Aqila memutar bola matanya malas, dia menghadap Frans yang tengah bingung.


"Disini aku tak memiliki teman yang sedang hamil sepertiku, aku ingin agar Lia menjadi teman curhatku tentang kehamilan. Kau mengerti!"


"Oke-oke, aku hanya sekedar bertanya," ujar Frans.


Setelah itu hanya ada keheningan di antara mereka, Frans pun hanya sibuk dengan pemikirannya. Sedangkan Aqila sedang ingin membicarakan sesuatu.


"Frans," panggil Aqila memecah keheningan.


"Apa?" tanya Frans sambil menolehkan kepalanya menatap Aqila.


"Siapa yang menjebak kita? ayah tak menceritakannya padaku, yang ku tahu hanya kita di jebak," tanya Aqila.


Frans tertegun, dirinya bingung bagaimana menceritakannya. Tapi apalah daya, dia harus menceritakannya agar Aqila paham.


"Aku memiliki seorang paman, dia adalah kakak dari papah. Tapi, semua harta kakek di jatuhkan pada ayahku dan itu membuat Daniel paman ku marah. Terlebih Mafia Ateez, dia sangat menginginkannya,"


"Mafia? jangan bilang kau juga mendapat peran dalam mafia itu!" curiga Aqila.


Frans mengangguk, dia hanya pasrah saat Aqila memukuli dadanya. Aqila sangat tidak suka kekerasan, wanita itu lebih suka melawan orang dengan otak pintarnya.


"KASIH SAJA KE DIA, KAU TIDAK USAH IKUT MAFIA BEBEK BEGITU!"


Frans menutup telinganya, suara Aqila sangat teramat nyaring.


"Bebek? apakah namanya mirip seperti bebek?" batin Frans.


"Tidak bisa, jika dia yang mengambil alih maka bisa terjadi kerusakan dan kerusuhan. Dia akan berbuat seenaknya, membunuhnya orang yang tidak bersalah. Dan membuat seorang anak menjadi yatim piatu, apa kau mau itu terjadi?"


Aqila menggeleng cepat, Frans pun mengigit bibirnya karena gemas melihat keluguan sang istri.


"Maka dari itu aku yang dan papah yang mengambil alih," ujar Frans.


"Kamu tidak membunuhkan?" tanya Aqila.


Frans menggeleng, dia memeluk Aqila dan secara mengejutkan wanita itu menurut. Entah apa yang ada di dalam diri Frans yang bisa membuat Aqila luluh seperti ini.


"Tidak, kecuali jika berhadapan dengan musuh dan nyawa kita ancamannya. Lagi pula, aku pintar melumpuhkan lawan. Kau tak perlu khawatir," ujar Frans dan mencium kepala Aqila.


Satu detik ...


Dua detik ...


Ti ....


"APA YANG KAU LAKUKAN!" sentak Aqila dan mendorong Frans yang tertawa karena kesadaran Aqila yang terlambat.