
Ravin sudah mandi, dan sekarang bocah itu sedang mencari sesuatu.
"Yah, nda ada uang. Mau jajana gimana? minta daddy nanti di cemplot lagi, Lavin lagi malec ngomong ama daddy," ujar Ravin.
Ravin pun berjalan menuju pintu utama, dia akan keluar tetapi para bodyguard menahannya.
"Apa cih tahan-tahan Lavin," kesal Ravin.
"Maaf tuan kecil, tuan besar melarang anda untuk keluar," ujarnya.
"Mau tuan becal kek, tuan lakcaca kek. Hak nda bolehin Lavin kelual apa?
Bodyguard tersebut tampak bingung menjawab ucapan Ravin.
"Tuan Alden menyuruh anda untuk tetap berada di mansion karena di luar sedang ada perbaikan jalan," terang bodyguard yang lain.
Ravin memicingkan matanya menatap bodyguard yang baru saja bicara, "Tipu-tipu nih olang," ujar Ravin.
"Tidak tuan kecil, tuan besar sendiri yang berbicara pada kami," ujar bodyguard itu.
Ravin menegakkan tubuhnya, dia memasukkan tangannya pada saku celananya bergaya seperti sang abang.
"Lavin nda liat tuh, kata mommy nda boleh pelcaya cama olang acing. Kita kan buka ciapa-ciapa," ujar Ravin dengan entengnya.
Ravin pun keluar dengan santai, bodyguard sudah tak mampu lagi mencegat anak itu. Tak lama netranya melihat mobil Alden yang kembali masuk ke dalam mansion.
"Itu mobil mommy?" tanya Ravin sembari menyipitkan matanya.
"Waduh mommy udah pulang dali pacal, nanti Lavin di malahi mommy kalau kelual,"
Ravin pun berlari kembali masuk ke dalam mansion, dia takut mommynya akan marah jika melihat dirinya keluar mansion.
"Ravin ngapain?" tanya Cia yang baru dari taman belakang.
"Cia gak liat tadi Lavin lali?" tanya balik Ravin.
"Nda, badan kamu kan bulet. Kalau lali takutna gelinding, Cia liat Lavin jalan biaca kok nda lali," seru Cia.
Ravin menatap Cia kesal, padahal dirinya sudah merasa berlari cepat tetapi Cia malah berkata seperti itu.
"Nda ucah malah, emang kenyataana begitu kok. Padahal abang cemua pada tinggi gak demuk, tapi kamu pendek dan demuk kayak keldil," ujar Cia.
"CIA JUGA KELDIL KALAU KAYAK GITU!" teriak Ravin.
"Loh, Cia wajal nda tinggi kalna pelempuan. Lavin laki-laki tapi macih tinggian Cia, makana Lavin tanya daddy aja kenapa Lavin kayak keldil. Ciapa tahu pas buat Lavin daddy nda niat, kata om Alsel," terang Cia.
Hidung Ravin kembang kempis, matanya memerah menahan tangis. Netranya melihat sang mommy yang tengah masuk ke salam mansion sambil menggendong Raffa.
"Ini ada apa?" bingung Amora.
"Nda tau, Cia bilang Lavin keldil eh dia malah. Culuh tanya cama daddy malah nanis, dacal payah," ujar Cia.
Amora yang melihat putranya akan menangis segera menurunkan Raffa.
"Cia, ajak main Raffa yah sayang. Raffa sama Cia dulu, main lego punya Raffa yang kemarin di belikan oleh daddy hm. Nanti mommy susul Raffa main, okay," ujar Amora.
Mereka telah sepakat jika Raffa akan memanggil Alden dan Amora seperti Ravin dan Cia memanggil mereka.
Raffa menurut, Cia menggandeng lengan Raffa dan membawanya ke kamar bermain.
"Sini ikut mommy," pinta Amora dan menarik kecil lengan Ravin.
"Nda mau, pacti di culuh ikut mommy macak," ujar Ravin dengan nada bergetar.
Alden keluar dari dalam lift, dia melihat putranya sedang menangis dan istrinya sedang membujuk sang putra.
"Ada apa ini? kenapa anak ini?" heran Alden.
"Nggak tau, tadi abis ngobrol sama Cia terus nangis. Biasalah mereka berdua pasti akan saling meledek sampai salah satunya nangis," terang Amora.
Alden akan menggendong Ravin, tetapi anak itu justru menghindar dan menatapnya tajam.
"Daddy jujul cama Lavin!" seru Ravin yang di balas bingung oleh kedua orang tuanya.
"Ngerti dari mana kamu? nggak buat, kamu daddy petik di halaman belakang," ujar Alden.
Ravin mencak-mencak kesal, dia semakin menangis kala jawaban Alden tak sesuai pertanyaan nya.
"Hiks ... Daddy janan belcanda, nda cocok hiks," isak Ravin.
"Ya makanya kamu kalau tanya yang bener, daddy juga jawabnya bener," ujar Alden.
"YA LAVIN TANYANA BENEL, KALAU CALAH LAVIN TANYANA GINI ... "DADDY LAVIN DI BELI DIMANA?" ITU BALU CALAH! telus calahna Lavin dimana hiks,"
Amora tak sanggup menahan tawa, begitu pula dengan Alden.
"Sudah, anak ini mengantuk. Dia bangun terlalu pagi, ayo ikut mommy kita tidur," ajak Amora.
"Mommy duga apaan, macih jam cepuluh pagi kok tidul?! emangna Lavin kelelawal apa?!" kesal Ravin.
Amora menggelengkan kepalanya, dia beranjak dari sana menuju dapur dan kembali dengan botol susu di tangannya.
"Ini ada susu, ayo tidur." ajak Amora sambil mengulurkan tangannya pada Ravin.
Netra Ravin melihat botol susu yang ada di tangan sang mommy, dia pun menghentikan tangisannya dan menghapus ingus beserta air matanya.
"Yacudah ayo," ujar Ravin dan membalas uluran tangan Amora.
Amora terkekeh begitu pula dengan Alden, Amora pun membawa Ravin masuk ke kamar untuk tidur sebentar sebelum makan siang agar anak ini tak rewel dan kebanyakan menangis.
"Ck, dari mana anak itu tau bahasa seperti itu. Gue yakin Pasti nih dari si Arsel, gak ada wujudnya di mari tapi masalahnya banyak banget," kesal Alden.
"Tapi emang bener sih buat si Ravin kagak ada niatan, tau-taunya juga Amora hamil empat bulan. Parahnya yang hamil juga gak ngerasain apa-apa." ujar Alden sembari menggaruk pelipisnya.
Alden pun beranjak dari sana, dia akan ke ruang kerjanya. Namun, langkahnya terhenti di ruang main anak-anaknya.
Alden melihat betapa senangnya Raffa bermain, padahal itu hanyalah mainan kecil dan Ravin pun sudah bosan dengan mainan itu. Tapi lihatlah bahagia sederhana pada anak itu.
"Jika dulunya kau tersiksa, maka disinilah kau dapat bahagia," lirih Alden.
Alden dan Amora memutuskan untuk merawat Raffa sementara sampai Mateo sudah bisa fokus merawat adiknya itu.
Frans pun berniat akan membawa Raffa berobat mengenai suaranya, Frans mau agar Raffa bisa berbicara dan mengobrol dengan putra-putrinya.
"Daddy," seru Cia ketika menyadari kedatangan Alden.
Alden tersenyum, dia masuk ke dalam ruangan main itu. Disini sangat penuh dengan mainan, mainan rumah Cia yang tampak sangat besar. Boneka yang berjejer rapih di rak, dan juga lego Ravin yang sangat banyak.
Alden menduduki dirinya di karpet bulu, dia melihat Raffa yang sedang asik bermain dan tak menyadari kedatangannya.
"Raffa lagi main apa sayang?" tanya Alden sembari mengelus rambut hitam Raffa.
Raffa menoleh sekilas, Setelahnya dia kembali asik dengan mainannya. Tetapi dia baru sadar jika di samping dirinya adalah Alden, sontak saja dia menjauh dan menatap Alden takut.
"Hei, kenapa kau menjauh?" heran Alden.
Raffa menggeleng takut, Alden yang mengerti itu segera mengambil permen dari saku celananya.
"Raffa mau? sini ambil sama daddy," ajak Alden.
Raffa pun menurut, dia mendekati Alden dan mengambil permen itu. Tampak dirinya kesulitan membuka dan Alden pun membantunya.
"Enak?" tanya Alden.
Raffa mengangguk kecil, setelahnya dia mengecup pipi Alden sebagai tanda terima kasih.
"Daddy, Cia juga mau," seru Cia.
"Nih ambil lah, yang king rasa durian. Kau tidak suka durian bukan? jadi jangan di ambil okay," ujar Alden.
Cia mengangguk, dia mengambil bungkus permen dan membukanya. Alden bahagia dengan kehidupannya sekarang, mansionnya tidak sepi karena anak-anak yang ramai.
_______
Ravin kembali up nih, jangan lupa kasih vote loh ... hari senin nih🥶🥶🥶