My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 21: Elvio



Seorang wanita paruh baya tengah berjalan sambil membawa segelas susu. Netranya menatap pintu bercat hita dengan senyum manisnya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Elvio, apa kau sudah tidur?" tanya wanita tersebut.


"BELUM MI, MASUK AJA!" ujar Elvio.


Wanita tersebut membuka pintu kamar Elvio, pertama kali netranya melihat Elvio yang tengah sibuk dengan sekumpulan kertas untuk mempelajari tentang oprasi pasiennya.


Elvio yang merasa di tatap pun mengalihkan pandangannya dari semua kertas yang ada di meja. Dia membuka kaca matanya yang bertengger indah di hidung mancungnya.


"Kok belum tidur sayang?" tanya wanita itu sambil berjalan mendekati Elvio.


Elvio tersenyum manis, dia bangkit dari duduknya dan mendekati wanita tersebut yang tak lain adalah mami nya yang bernama Delisa Gevonac yang merupakan adik bungsu dari Geo.


"Ada beberapa pasien yang harus aku pelajari tentang penyakitnya, mami ngapain repot-repot bikini aku susu hm ...," sahut Elvio sambil membawa susu tersebut ke tangannya.


Delisa tersenyum, dia menatap sang anak yang kini menduduki dirinya di ranjang dan meminum susunya.


Tangan Delisa terangkat mengelus rambut hitam Elvio, dia senang sang anak meminum susu buatannya dengan lahap.


"Papi belum pulang?" tanya Elvio ketika selesai meminum susunya.


Delisa menggeleng, dia mengambil gelas kosong di tangan Elvio dan duduk tepat di samping putranya itu.


"Belum, kau tau sendiri dia orang yang gila kerja. Jangan sepertinya El, mami gak ingin kelak istrimu merasa kesepian," ujar Delisa.


"Mam, pekerjaanku sebagai dokter sangat lah sibuk. Bahkan aku tak pernah punya pikiran untuk menikah, karena aku takut tak bisa membagi waktuku dengan istriku kelak," sahut Elvio.


"Tapi sayang, sampai umur berapa kau melajang? bahkan kini umurmu sudah 24 tahun, kakak sepupumu saja akan menikah dalam waktu dekat," sambung Delisa.


Elvio sontak saja kaget, dia menatap sang mami dengan wajah terkejutnya.


"Oh ya? apakah ada wanita yang mau dengannya?" kaget Elvio.


Delisa terkekeh melihat raut terkejut sang anak, tak dapat di pungkiri sang anak sangat lucu di matanya.


"Tentu saja, kakak sepupumu itu tampan. Dia juga pasti bisa mendapat wanita yang cantik, bukan itu saja sebentar lagi kau juga akan menjadi uncle," seru Delisa.


"Uncle?" bingung Elvio.


"Yah, kakak sepupumu itu telah menghamili seorang gadis. Dan karena itu mereka menikah," terang Delisa.


Elvio benar-benar kaget, setahu dirinya Frans kakak sepupunya itu bukanlah orang yang senang bermain dengan wanita bahkan ketika wanita menyentuhnya saja Frans tak melepaskannya dengan mudah sebelum memberi pelajaran terhadapnya.


"Bagaimana bisa?"


"Kau tau kan jika kakekmu pemilik mafia Ateez, lalu mafia itu di turunkan pada pamanmu Geo dan kini telah berlanjut pada Frans. Daniel, pamanmu itu sangat iri karena dirinya tak mendapati tahta mafia tersebut, dan yah ... dia berbuat demikian agar bisa menekan Frans. Namun nyatanya usaha dia sia-sia, entah apa yang terjadi dan kini Daniel berada di penjara,"


Delisa menceritakan semua hal pada sang anak, dia juga kerasa kecewa dengan kakaknya itu. Tapi bagaimana pun juga Daniel adalah kakaknya, sama juga dengan Geo.


"Baiklah, kau istirahat saja. Jangan terlalu lelah, dan jangan banyak bekerja," pinta Delisa.


Elvio mengangguk singkat, dia tersenyum menatap sang mami yang mengelus kepalanya dan beranjak meninggalkan kamarnya.


"Kasihan sekali kak Frans," gumam Elvio.


Elvio, pria yang anti terhadap wanita selain ibunya. Dia tak segan-segan mendorong wanita kala wanita tersebut menyentuh nya. Di saat kulitnya tersentuh wanita, Elvio langsung mencucinya dengan bersih.


Profesi sebagai dokter memang tak menghalanginya dari bersentuhan, tapi berbeda dengan wanita yang memang sangat ingin mendekatinya.


Kedua sudut bibir Elvio terangkat, dia tersenyum ketika ingatannya bersama Aqila kembali terbayang.


"Wanita yang lucu, eh ... kenapa aku memikirkannya?"


Elvio memukul kepalanya, dia menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menepuknya.


"Jangan El, istri orang itu," ujar Elvio.


***


"Pagi!" seru Aurora.


Aurora mendekati meja makan, dia mengambil duduk di sebelah Lia dan menatap kakaknya itu dengan senyum manis.


"Ada apa denganmu?" bingung Lia.


Aurora hanya menahan senyumnya, dia mendekati wajahnya pada Lia dan mulai berbisik di telinga sang kakak.


Aqila dan Amora menatap kedua wanita itu dengan bingung karena suara Aurora sedikit terdengar oleh mereka.


"Ekhm, apa yang kau rencanakan lagi Rora," ujar Alden yang melihat gerak-gerik kedua putrinya.


Aurora salah tingkah, dia menatap Alden dengan tatapan melasnya.


"Dad, hari ini sekolahku akan kedatangan dokter muda terkenal. Temanku mengajakku ke sekolah, tapi nanti siang aku pulang kok! boleh yah ...," pinta Aurora dengan wajah memelasnya.


Alden terdiam, dia menatap sang istri yang juga menunjukkan raut wajah kasihan terhadap putrinya.


"Kau tahu bukan jika beberapa hari ini kita akan sibuk untuk acara pernikahan kedua kakakmu? apa kau tak ingin ikut membantu mereka?" tanya Alden sambil menaikkan satu alisnya.


"Ehm gak papa dad, lagian juga Aurora masih umur sebelas tahun. Dia belum mengerti apa yang perlu dia siapkan, yang penting kita selalu memantau kegiatannya," ujar Aqila.


Alden bimbang, dia sibuk dan juga Laskar tengah latihan futsal. Dia tak bisa membiarkan putrinya sendiri tanpa pengawasan dari Laskar atau dirinya, jika putrinya mau di pantau bodyguard dia akan merasa tenang.


"Ezra, apa kau sibuk?" tanya Alden sambil menatap menantunya yang sedang asik sarapan tanpa memperdulikan pembicaraan mereka.


Ezra pun mengalihkan pandangannya, dia menatap Alden sembari menggeleng pelan.


"Tidak ada, tapi aku tak bisa memantau putrimu. Itu akan sangat membosankan, kasih saja dia bodyguard untuk memantaunya," acuh Ezra.


"Ngapain daddy suruh bang Ezra, dia aja kalau menunggu istrinya belanja saja mengeluh. Apalagi aku! tidak usah pakai bodyguard, aku bisa menjaga diriku sendiri," kesal Aurora.


Ezra mendelik tajam pada Aurora, sedangkan yang di tatap hanya membuang wajahnya acuh.


"Hais ... begini saja, bagaimana jika kakak ikut? lagi pula itu hanya acara saja kan?" tawar Aqila.


Seketika wajah Aurora menjadi berbinar, dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Aqila. Setelah itu dia memeluk kakaknya itu dengan erat dan senyum mengembang.


"Kakak yang terbaik!" seru Aurora.


Alden menghela nafasnya pelan, dia menoleh menatap tempat duduk putra dan putri bungsunya yang masih kosong.


"Yang, si Ravin sama Cia mana?" tanya Alden pada istrinya yang masih sibuk berselancar di sosial medianya.


"Tadi habis mandi, katanya mau main. Paling ada di kamar mainnya," ujar Amora tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Alden mengangguk, dia kembali memakan sarapannya walau hatinya terasa gusar. Entah apa yang akan terjadi tapi Alden merasakan kalau akan terjadi sesuatu yang besar.


Tak lama terdengar teriakan dari Gio, mereka semua terkejut mendengar teriakan tersebut.


"ALDEEEENNN! ANAK LU KECEBUR GOT NIHHH! MANA HITAM SEMUAAAA!"


"HIKS ... HUAAAA DADDDY HIKS ... HWEK! HWEK!


"JANGAN MASUK!"


Alden menatap istrinya, mereka menepuk kening mereka karena lupa jika Ravin tak bisa di biarkan sendiri.


"Mommy! itu Lavin hitam cemua badana, kecemplung got depan gelbang tadi gala-gala ngikutin kak Lackal pelgi," seru Cia yang baru saja tiba di ruang makan dengan berlari.


Amora dan Alden segera menyusul, begitu pun dengan Aurora dan Aqila. Berbeda dengan pasangan suami istri itu yang hanya menggelengkan kepala mereka.


"Keluarga kamu unik," ujat Ezra.


"Kamu belum tau gimana Laskar dan Aurora saat mereka kecil. Gak jauh beda dengan Ravin, tapi kata opa Jo ... Ravin mirip dengan bang Elbert, lebih aktif bicaranya dan cepat nangkep omongan orang," terang Lia.


"Lucu yah kalau anak kita juga begitu?" ujar Ezra sambil mengelus perut istrinya yang masih datar. Kehamilan Lia merupakan kebahagiaan untuknya.


"Hm ... kalau dia menurun dari aku bisa, kalau dari kamu mungkin nantinya dia di juluki triplek atau anak jadi-jadian kayak kamu dulu! ngomong irit banget, musti di sogok!" celetuk Lia.


Ezra terkekeh, dia kembali teringat akan dirinya dan Lia awal mereka bertemu. Saat itu Oia masih baru lahir, tapi dia sudah menggendongnya bahkan Lia tak mau lepas dari dirinya.


"Tapi kamu cinta kan?" ledek Ezra.


"Nggak, aku gak cinta sepenuhnya. Coba aja kamu gak good looking, pasti aku gak suka kamu. Untung aja kamu ganteng gak kayak pantat ayam yang gradakan," seru Lia.


Ezra merubah ekspresinya menjadi datar, ingin rasanya dia menenggelamkan istrinya di lautan luas.


"Alasan orang selingkuh tuh apa sih? punya bini satu aja ngeselin kayak gini!" gerutu Ezra.


"Kamu mau selingkuh huh?" sentak Lia.


"ng-ngak kok ay," panik Ezra.


"Kamu tau gak, kebanyakan orang selingkuh itu hidupnya melarat sehabis sakitin istri pertama! gak pernah nonton film adzab si kamu!" kesal Lia.


"Iya deh ay, salah aku salah,"


LIKE NYA LOHHH