
"Hei, kenapa kau terkejut begitu?" heran wanita yang bernama Cleo.
"Tidak aku ...,"
"Maaf tuan, ini pesanannya," ujar pegawai itu dan memberikan pesanan Frans.
Frans menerimanya, dia mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang berwarna merah. Dia menyerahkannya kepada pegawai tersebut tanpa meminta kembalian.
"Frans kau mau kemana? kenapa kau terburu-buru seperti itu?" heran Cleo sambil mengikuti Frans.
Frans tak menghiraukannya, dia tetap berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Cleo menghentikan langkahnya, dia menatap heran Frans yang malah menjauhinya.
"Ada apa dengannya?" bingung Cleo.
"Padahal aku sangat ingin mengobrol dengannya, terakhir kali kan saat kita di London. Huh," lirih Cleo.
Sedangkan Frans, dia masuk mobil dengan wajah kesalnya. Netranya tak sengaja menatap Gio yang kini menatanya tajam.
"Siapa wanita itu? Kenapa dia mengejarmu?" sinis Gio.
"Bu-bukan siapa-siapa," ujar Frans.
Gio memicingkan matanya, dia mencari jejak kebohongan pada wajah Frans.
"Bener yah, tadi dia hanya menawari kembalian. Aku orang kaya tak butuh kembalian, hahaha," ujar Frans yang berusaha mengeluarkan dirinya dati tatapan sinis Gio.
Gio mengangguk, dia kembali menghadap depan. Sementara Frans menaruh plastik kue itu pada bangku belakang.
"Apa Aqila sempat terbangun?" tanya Frans.
"Tidak," sahut Gio.
Frans mengangguk, dia mengambil selimut dan menyelimuti istrinya.
"Eunghh,"
"Tidurlah," lirih Frans.
Aqila kembali nyenyak karena usapan dari Frans di kepalanya, Frans pun dengan setia mengelus kepala istrinya itu.
Tak lama mereka sampai di mansion Gevonac, Frans pun membuka sedikit kaca jendela agar para mafioso penjaga mansionnya mengerti.
"Jangan bangunkan Aqila, dia akan kesal akibat tidurnya terganggu. Gendong dia sampai ke kamar." ujar Gio sambil membuka sabuk pengamannya.
"Aku tahu ayah," datar Frans.
"Kamu kan peka tidak peka, ya ayah hanya mengingatkan saja," cuek Gio dan keluar dati mobil saat pintunya di buka oleh sang supir.
Frans mendengus sebal, dia keluar dan memutari mobil. Dia membuka pintu mobil dan menatap istrinya. Dia membuka selimut tersebut, tangannya di selipkan di sela leher Aqila dan lutut wanita itu.
Frans menggendong Aqila dan membawanya keluar dati mobil dengan perlahan, Aqila oun mengalungkan tangannya saat dirinya terbangun.
"Syuuttt,"
Aqila kembali terlelap, dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Frans. Tidurnya semakin terlelap dan Frans pun berjalan masuk dengan Aqila yang ada di gendongannya.
"Loh Frans, Aqila tidur?" tanya Ane yang juga baru keluar dari mobilnya.
"Iya mah," sahut Frans.
"Bawa masuk ke kamarmu yah," titah Ane.
Frans mengangguk, dia berjalan masuk sedangkan Ane menghampiri Gio tang sedang memainkan ponselnya dengan serius.
"Maaf Gio, lebih baik kamu istirahat dulu. Biar maid yang antar kamu ke kamar tamu," ujar Ane.
Gio mengalihkan pandangannya, dia mengangguk dan pergi dari hadapan Ane. Sedangkan kini Ane melihat suaminya yang sibuk mengeluarkan sesuai dari bagasi mobil.
"MAS! ayo masuk!" panggil Ane.
"Kamu duluan aja!" seru Geo
Ane mengangguk, dia berjalan masuk dan mendapati putrinya sedang menunggunya.
"Ngapain kamu berdiri disini?" heran Ane.
"Nunggu mamah, aku mau ngomong sesuatu," ujar Ica.
Ane mengerutkan keningnya tak biasanya sang putri membicarakan hal seserius ini padanya.
"Apakah kaka Aqila dan abang satu kamar lagi?" heran Ica.
"Iyalah, mereka kan sudah menikah," ujar Ane.
"Apa mamah tidak takut jika trauma kak Qila terhadap kak Frans kambuh?" tanya Ica dengan wajah serius.
"Semalam saja tidak bukan? ya berarti tidak kambuh," seru Ane.
"Tangah malam kaka Frans keluar, dia tidur di kamar lain. Saat jam 5, dia bangun dan pindah ke kamarnya kembali. APa mamah tau karena apa?"
Ane menggeleng, Ica pun kembali menyambung ucapannya. "Itu karena kak Frans takut jika nantinya kak Aqila tak nyaman tidur dengannya. Apalagi karena kejadian itu," ujar Ica.
Ane mengangguk, dia melepaskan kaitan tangan putrinya dan beranjak menuju kamar Frans.
Sesampainya di depan pintu yang sedikit terbuka, Ane menajamkan matanya untuk melihat ke dalam kamar Frans.
Terlihat Frans yang tiduran di sofa sedangkan Aqila tertidur nyenyak di tempat tidur.
Ane oun memberanikan diri untuk membuka pintu, seketika Frans terbangun dan terkejut saat mendengar decitan pintu dan melihat sang mamah yang ada di ambang pintunya
"Mamah?" kaget Frans.
"Kenapa kau tidur di sofa?" tanya Ane sambil berjalan masuk.
"Oh itu ... aku, aku hanya keingin saja," ujar Frans.
Ane menggelengkan kepalanya, dia mengelus rambut sang putra dengan lembut.
"Mamah tau jika kamu khawatir jika Aqila memiliki trauma terhadap mu, apa semalam dia mempermasalahkan tentang tidur seranjang denganmu?"
Frans menggeleng, Aqila memang tak mempermasalahkan dirinya tidur satu ranjang. Tapi dia hanya takut Aqila trauma dengan apa yabg dia lakukan.
"Coba tanya istrimu, apa dia masalah jika kau tidur seranjang dengannya? jangan seperti ini, Aqila akan merasa jika kau tidak ingin tidur bersamanya," terang Ane.
Frans mengangguk kecil, dia menatap sang mamah dengan senyuman yang menawan.
"Yasudah, mamah ke kamar yah. Kamu jaga istri kamu," ujar Ane.
Frans mengangguk, dia menatap kepergian sang mamah. Setelah mamahnya pergi, Frans bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Frans menutup pintu dan menguncinya agar yang lain tak mengganggu istirahatnya beserta sang istri.
"Frans," gumam Aqila.
Frans menoleh, dia tersenyum menatap Aqila yang ternyata sudah terbangun dan menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang.
"Aku haus," lirih Aqila.
Frans mengangguk, dia berjalan menuju meja yang berada di pojok ruangan. Disana terdapat botol minum, dan Frans oun mengambilnya.
"Hanya ada air botol, apa aku ambil air di dapur?" tanya Frans.
"Tak apa, sama saja," ujar Aqila.
Frans mengangguk, dia berjalan mendekati istrinya sambil membuka botol tersebut. Setelah nya Frans memberikan botol yang sudah di buka tersebut pada sang istri.
Aqila pun meminumnya dengan lahap sehingga Frans menggeleng kan kepalanya. Apa sebegitu haus istrinya itu?
"Sudah!" ujar Aqila sambil memberikan botol yang tersisa setengah itu kepada Frans.
Frans mengambilnya dan menaruhnya di nakas, dia berbalik dan akan berjalan mendekati sofa.
"Kau mau kemana?" tanya Aqila.
Sontak saja Frans berbalik, dia tersenyum dan menunjuk sofa.
"Hanya ingin tiduran disana, badanku sangat pegal," jujur Frans.
"Kenapa tidak di sini, eh ... maksudku kenapa tidak di kasur saja?" gugup Aqila.
Frans menaikkan satu alisnya, sudut bibirnya terangkat menciptakan sebuah senyuman.
"Tak apa, aku tak ingin mengganggumu," ujar Frans.
"Apa karena aku?" tebak Aqila.
Frans menggeleng, "Bukan, aku takut kau merasa tak nyaman apalagi karena kejadian itu," ujar Frans.
Aqila menghela nafasnya, dia tersenyum lembut pada Frans. Frans pun mematung melihat senyuman Aqila yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Setelah kejadian dimana dia membuat kehidupan Aqila hancur, Frans tak mendapati lagi senyuman itu. Hanya ada tatapan kebencian dan kemarahan, tapi apa ini? kenapa Aqila sampai tersenyum menatapnya seperti ini.
"Tidurlah, aku tak apa-apa. Tapi satu hal yang ku minta, maaf ... aku belum bisa memberikan hakmu sebagai suamiku. Aku masih ... aku ...,".
"Aku mengerti. " sela Frans dan berjalan mendekati Aqila.
Aqila pun bergeser memberikan ruang untuk Frans, saat pria itu merebahkan dirinya bisa Aqila lihat jika Frans sangatlah lelah.
Frans pun memejamkan matanya, tak lama dengkuran halus terdengar. Frans tertidur dengan cepat karena dia sangat lelah akibat acara kemarin dan malam dia tak istirahat dengan total.
"Maaf," lirih Aqila.