My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 33: Kenapa dia disini?



"Jadi gimana keputusanmu? mau keluar dari kantor, atau pindah ke kantorku dengan menjadi sekretarisku?" tawar Frans pada Aqila yang tengah merapihkan tempat tidur mereka.


Aqila menghela nafasnya, dia beranjak menuju lemari dan mengambil dasi hitam. Setelahnya Aqila mendekati Frans dan melingkarkan dasi itu pada leher Frans.


"Jawab aku," pinta Frans.


"Sebentar! kau tak lihat aku sedang serius memasang dasimu? Seorang mafia tak bisa memasang dasi, apa selama ini asisten kesayanganmu yang memakaikannya huh?" kesal Aqila sambil memakaikan suaminya dasi.


Frans terkekeh, dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Frans menggunakan kesempatan ini untuk memeluk sang istri, karena biasanya Aqila akan marah jika dirinya memeluknya tanpa izin.


"Sudah." ujar Aqila sambil menepuk sedikit dada Frans.


Aqila melepas lilitan Frans, matanya mendelik menatap suaminya itu. Seakan-akan dirinya memberi kata modus Lewat tatapan.


"Mana rompimu?" bingung Aqila ketika menyadari rompi yang dirinya siapkan tidak ada di tempat tidur.


Frans menaikkan bahunya acuh, Aqila oun mencari rompi tersebut. Tak lama dia menemukannya yang ternyata ada di sofa, dengan segera dia membantu Frans untuk memakai rompi hitam itu.


"Jasmu mana? tadi kan aku taruh sepaket sama rompinya!" kesal Aqila.


"Nanti aku pakai," ujar Frans.


Aqila melirik sinis, dia tahu jika suaminya itu pasti akan tebar pesona dengan memakai jas di kantor saat turun dari mobil.


"Gak usah sok ganteng tebar pesona begitu, muka kaya tudung saji jangan belagu!" kesal Aqila.


Frans terheran, dia berjalan menuju cermin. Dia menatap pantulan wajahnya, sangat perfect. Tapi, kenapa Aqila mengatainya tudung saji?


"Sudah, berangkat sana!" titah Aqila.


"Kamu belum menjawabku, jadi kau ingin mengambil yang mana?" tanya Frans.


"Ambil suami baru, boleh?" ujar Aqila dan mengedipkan satu matanya.


Frans seketika melotot ketika melihat tingkah sang istri, apa-apaan ini? mereka baru menikah dan sang istri ingin mencari suami baru.


"Gak! gak boleh!" sentak Frans.


"Hais ... yasudah, aku akan menjadi sekretarismu saja. Tapi ingat, kau tak boleh memerintahku seenak jidat! kau harus memperlakukanku selayaknya karyawan lain! jika aku dekat dengan karyawan pria, itu hanya sebatas kerja. Mengerti!" terang Aqila.


"Dih, kok gitu?! kamu itu udah punya suami loh, kok deket sama pria lain? karyawan lagi?!" ujar Frans yang merasa tak terima.


Aqila menaikkan bahunya acuh, dia melirik ke arah sang suami yang menahan kesal. Suaminya itu mengambil jasnya dengan cepat dan mendekati sang istri.


"Yaudah, aku berangkat," lesu Frans


"Terus aku kapan bekerja?" tanya Aqila dengan senyum manis.


Frans mendengus sebal, seharusnya dia menyuruh Aqila di rumah saja dan tak menawarkan tawaran konyol itu.


"Nanti jam sembilan kamu bisa ke kantorku, pegawai disana sudah tahu jika kamu istriku. Tenang saja, tidak mungkin ada drama pemecatan," ujar Frans.


"Yes!" seru Aqila.


"Tapi ingat, kau harus membawa vitaminmu dan sebelum berangkat pastikan kau telah meminum susu hamil," titah Frans.


"Ish! iya-iya!" gerutu Aqila.


Frans tersenyum tipis, dia menatap Aqila sambil merentangkan tangannya. Aqila yang mengerti memberikan Frans pelukan, untuk kali ini dirinya sedang bahagia dan tak ingin ribut dengan pria itu.


"Aku berangkat dulu, nanti ada supir Gevonac yang menjemput mu okay," ujar Frans sambil mengelus kepala sang istri dan mencium keningnya dengan cukup lama.


"Iyah," ujar Aqila.


Frans melepaskan pelukannya, dia berlutut dan mengelus Aqila yang masih tertutup baju tidur. DIa sesekali mencium nya dan membisikkan sesuatu.


"Hei cebong, appa pergi dulu. Nanti kita ketemu lagi okay, jangan nakal di perut bunda," ujar Frans yang memang dirinya sangat ingin di panggil appa oleh anaknya nanti


Aqila memukul bahu suaminya, sehingga Frans langsung terkekeh. Aqila sangat tak suka anak mereka di sebut cebong olehnya.


Frans kembali berdiri, dia tersenyum menatap istrinya. "Aku berangkat," ujar Frans.


Aqila mengangguk, Frans pun keluar dari kamar dengan jas yang ada di tangannya. Sedangkan Aqila, melihat suaminya pergi dia segera mando dan bersiap menyusul Frans ke kantor.


***


"Maaf, dimana ruangan CEO?" tanya Aqila pada resepsionis.


"Anda ... nyonya Gevonac?" tanya resepsionis itu.


"Hm yah," Aqila merasa tidak enak. Jadi benar jika pegawai disini sudah tau siapa istri Frans.


Resepsionis itu tersenyum senang, baru kali ini dia bertemu dengan istri dari CEO nya.


"Nyonya bisa naik lift menuju lantai 3, nanti ada pintu yang bertuliskan ruangan CEO. Nyonya bisa masuk kesan," terang resepsionis tersebut.


"Oh begitu, baiklah ... terima kasih. Dan jangan panggil aku nyonya, lebih baik kau memanggil ku Aqila saja. Aku akan menjadi sekretaris disini," ujar Aqila dengan senyum manisnya


Resepsionis itu mengangguk, dia tersenyum ketika Aqila beranjak dari hadapannya. Dia menepuk teman sebelahnya dengan sangat senang.


"Mimpi apa gue semalem! gue ketemu sama istrinya si bos!" serunya.


"Iya, cantik banget lagi. Yah cocoklah sama so bos," ujar temannya.


Sedangkan Aqila, wanita itu sidah menginjakkan kakinya di lantai 3. Netranya mencari dimana letak ruangan Frans. Setelah dapat, Aqila kembali melanjutkan jalannya menuju ruangan suaminya.


Aqila membuka pintu itu, dia terkejut mendapati Frans yang sedang memarahi seorang wanita. Bahkan dia meringis ketika Frans mendorong wanita itu.


"KELUAR SEKARANG JUGA!"


"Gak! sebelum kamu dengerkan penjelasan aku, aku gak mau keluar!" sentak wanita itu sambil bangkit dari jatuhnya.


"KELUAR CLEO! SEBENTAR LAGI ISTRIKU DATANG DAN AKU TAK MAU DIA SALAH PAHAM!" marah Frans.


Wanita itu masih berusaha memeluk Frans, Frans pun selalu menjauh bahkan mendorong wanita itu.


"Sebelum ada istrimu, aku yang lebih dulu yang berusaha mendapatkanmu! seharusnya dia yang berterima kasih padaku karena aku rela membagi dirimu dengannya!" sentak Cleo.


Aqila tak tahan lagi, dia membuka ruangan Frans sehingga membuat mereka berdua terkejut.


"Love?" kaget Frans.


Frans oun mendekati istrinya, Aqila menepis Frans dan mendekati wanita yang menangis tersedu-sedu itu.


Tangan Aqila menarik paksa bahu wanita itu dan melihat wajah wanita tersebut. Seketika netra Aqila membulat ketika melihat siapa wanita itu.


"CLEO?!" kaget Aqila.


"Aqila?"


Cleo pun sama terkejutnya, ternyata istri yang Frans maksud adalah Cleo yang merupakan sahabat Aqila. Dan apa ini? mengapa sahabatnya ingin merebut suaminya?


"Frans, apa maksudnya ini?" tanya Aqila meminta penjelasan terhadap suaminya.


Frans tak menjawab, dia menarik lengan Cleo dan mengusirnya keluar. Setelah itu Frans mengunci pintu ruangannya dan menelpon satpam untuk mengusir wanita itu.


"Frans, kenapa kau mengusirnya hah?!" kesal Aqila.


"Kau masih membelanya setelah apa yang yang kau lihat tadi huh?" geram Frans.


"Sebenarnya ada apa ini?" bingung Aqila.


Frans mengajak istrinya duduk, dia mengambil botol air mineral dan meneguknya hingga habis. Emosinya sangat terkuras habis akibat Cleo.


"Lebih baik kamu tidak perlu tahu, disana ada berkas kerjaan dan jadwalku. Kau bisa pelajarinya karena sebentar lagi ada meeting penting," ujar Frans.


Aqila menghela nafas berat, dia memang terkejut melihat hal tadi. Tapi dia bingung mengapa sahabatnya bisa di negara ini.


"Jangan di pikirkan, kasihan anak kita," ujar Frans.


Aqila mengangguk, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja Frans. Sedari tadi dirinya memikirkan mengapa Cleo bisa berkata seperti itu pada suaminya.


"Sebenarnya ... apa yang tidak aku tahu," lirih Aqila.


**Di karya ini tidak ada perselingkuhan tokoh utama, jadi tenang saja. Cleo hanya sebagai pemeran yang akan menguak perkara mengapa Frans sangat cuek terhadap Aqila dan masalah mereka selama ini.


Jadi ... tetap ikutin alur okay😉, Author termasuk orang yang gak suka novel yang ada pelakor kok🤭🤭🤭**