
Frans baru saja masuk ke rumahnya, rumah bernuansa modern tak terlalu besar dan tak terlalu kecil. Seperti permintaan sang istri dan awalnya Frans ragu, tapi melihat bagaimana Aqila sangat menginginkannya membuatnya terpaksa menuruti.
"Love aku pulang!" seru Frans seraya menutup pintu kembali.
Aqila pun yang mendengar suaminya pulang langsung keluar dati dapur, dia melepas apronnya dan berjalan menuju Frans.
"Habis dari mana? pergi gak pamit, pulang gak ngabarin," judes Aqila.
"Kan tadi aku udah bilang kalau mau keluar," tutur Frans.
"Aku gak denger," ujar Aqila.
"YA berarti itu salah ...,"
"SALAH SIAPA HM?"
Frans meneguk ludahnya kasar, dia menunduk karena takut tatapan Aqila yang menghunus terhadapnya.
"Sudahlah, cepat berganti pakaian. Aku udah masak makan siang untuk kita," ujar Aqila.
"Kau memasak?" kaget Frans dan menatap terkejut ke arah Aqila.
"Iya, kenapa?" bingung Aqila.
Frans segera mendekati sang istri, dia mengambil tangan Aqila dan mengeceknya. Dirinya takus istrinya itu terluka, dan setelahnya dia juga mengecek perut Aqila.
"Tadi kena minyak panas gak? perutnya keram atau sakit? tangannya kena pisau gak?" panik Frans.
"Aku tidak apa-apa Frans, lepaskan tanganku!" pinta Aqila.
Frans mendengus sebal, dia menatap dingin ke arah Aqila yang tengah mengernyit bingung.
"Kau itu menikah denganku untuk di jadikan sebagai istriku, bukan sebagai pembantu. Untuk apa aku kerja siang dan malam jika istriku masih memasak di dapur? aku bisa memanggil maid di mansion," terang Frans.
Aqila menggenggam tangan Frans untuk menenangkan kekesalan pria itu, dia berusaha tersenyum semanis mungkin berharap Frans luluh.
"Ini hanya sementara, selama aku cuti kerja. Setelahnya kita makan siang di luar bersama hm," bujuk Aqila.
"Kerja?!" kaget Frans.
Aqila mengangguk ragu, dia terkejut kala Frans melepaskan genggaman tangannya. Kini, suaminya itu berkacak pinggang menatap sang istri.
"Kau ini hamil anakku! penerus keluarga Gevonac! apa kau tak khawatir jika terjadi sesuatu padanya? kau harus lembur, berpikir dan banyak berjalan. Untuk pertama kalinya aku melarangmu, dan aku melarangmu kembali bekerja! dan ...,"
"Apa maksudmu!" sentak Aqila.
"Aku. Belum. Selesai. Berbicara!" tekan Frans.
Aqila pun langsung terdiam, jika Frans sudah menekan katanya maka tak ada lagi kesempatan dirinya untuk membantah
"Huft ... dan aku tidak bisa memantaumu, dia tambah kandunganmu yang masih terlalu muda. Banyak kejadian keguguran akibat terlalu lelah, dan aku tidak mau itu terjadi pada calon anakku. Penerus aset Gevonac kelak," ujar Frans.
"Tapi bagaimana jika karirku? kau tahu bukan jika aku merupakan wanita karir?" ujar Aqila.
Frans mengangguk, dia menarik lengan sang istri menuju ruang makan. Dia menarik bangku untuk sang istri, Setelahnya dia berjongkok di hadapan Aqila yang duduk.
"Aku paham, impianmu menjadi seorang wanita sukses. Aku sudah meminta saran pada ayahmu, dia lebih setuju jika kau di rumah dan tak bekerja," sambung Frans.
Aqila menghela nafas berat, dia membuang wajahnya sehingga membuat Frans tampak berpikir kembali.
"Kecuali ...,"
"KECUALI APA?!" antusias Aqila seraya menatap wajah sang suami yang terkekeh gemas melihat raut menggemaskan sang istri.
"Jika kau pindah bekerja di kantorku dengan menjadi sekretarisku bagaimana?" saran Frans.
MAta Aqila mendelik menatap Frans. "Kau itu sedang modus huh? kau ingin aku selalu dekat denganmu begitu? aku sudah tau rencana licikmu itu Frans!"
Frans bangkit dari duduknya, dia menarik kursi untuk dirinya. Setelah itu dia duduk dengan netra yang menatap Aqila.
"Mual? apa kau masih mengalami mual? ku kira saat kau sidah tanggung jawab, anak kita memaafkanmu. Tapi nyatanya dia masi dendam denganmu." ujar Aqila seraya mengusap perutnya.
Frans sungguh kesal dengan ujaran sang istri, ini juga bentuk pengorbanannya untuk sang anak.
"Dan untuk sekretaris yang perhatian denganku, itu justru bagus! bagusnya kau mendapat pelayanan gratis tanpa membayar lebih bukan?"
Setelah mengatakan itu Aqila mengambil piring, dia mengambil nasi serta lauk untuk suaminya itu. Sedangkan Frans, pria itu menghela nafasnya berat. DIrinya kira sang istri merupakan wanita pencemburu.
"Kenapa kau tidak cemburu? Padahal banyak di luar sana para istri selalu merasa cemburu jika suaminya dekat dengan wanita lain," heran Frans.
Aqila menaruh makanan Frans tepat di hadapan pria itu. Dia menatap Frans sambil melipat tangannya di atas meja makan.
"Itu karena mereka mencintai suaminya," ujar Aqila.
"Apa kau tak mencintaiku?" tanya Frans.
Aqila menggeleng, dia menatap mata Frans. Sehingga mereka kini terkunci dengan tatapan masing-masing.
"Dulunya iya, tapi semenjak kau mengatakan jika aku perempuan murahan dan menyuruhku menggugurkan anak ini. Tiba-tiba saja perasaanku terhadapmu menjadi hilang, kini rasa cintaku untukmu sidah mati dan sulit ku hidupkan kembali," ujar Aqila.
"Maaf, itu karena kesalahanku dalam berucap. aku kaget saat itu dan ku kira kau ...,"
"Maka dari itu, jadikan ini sebuah pelajaran dan berhati-hatilah dalam berucap. Kau tidak tau seperti apa mental wanita yang kau rendahkan seperti itu," ujar Aqila dan bangkit dari duduknya keluar dari ruang makan. Dia meninggalkan Frans yang merasa bersalah dengan semuanya.
Frans tertunduk lesu, dia menatap makanannya dengan tidak nafsu. Tangannya terangkat dan mengambil sendok, dia mengaduk makanannya dengan lesu.
Selang beberapa menit kemudian, Aqila sangat haus Dia keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Tepat saat dia lewat ruang makan, netranya menatap Frans yang menatap kosong ke arah makanannya. Ada apa dengan pria itu?
Aqila pun memasuki ruang makan, dia mendekati Frans dan menepuk bahu pria itu sehingga Frans terperanjat terkejut.
"Kau mengagetkanku," ujar Frans dan mengelus dadanya.
"Maaf, kenapa kau belum makan juga? apa masakanku tidak enak? maaf soal itu, aku baru saja belajar masak," ujar Aqila dan duduk di samping Frans.
"Tidak, bukan itu. Aku tidak nafsu makan," cicit Frans.
Aqila mengerutkan keningnya, apakah Frans tidak nafsu makan karena ucapan tadi menyinggung perasaannya? jika iya, Aqila merasa sangat bersalah. Untuk mengurangi rasa bersalahnya, Aqila mengambil pring Frans dan menyendokkan nasi tepat di depan mulut pria itu.
"Buka mulutmu, aku akan menyuapimu," ujar Aqila saat melihat Frans yang menatapnya bingung.
Frans pun membuka mulutnya, dia memakannya tetapi baru saja mengunyahnya Frans sudah merasakan mual. Dia segera menutup mulutnya dan berlari ke arah kamar mandi.
Aqila pun merasa heran, dia menyendokkan nasi tersebut. Dia mengunyahnya bahkan menelannya, tetapi tak ada yang salah dengan rasanya. Mengapa Frans malah memuntahkannya?
HWEK!
HWEK!
Aqila pun segera menyusul Frans ke kamar mandi, terlihat pria itu sangat lemas hingga menumpu badannya dengan kedua tangan yang mencengkram ujung westafel.
"Hiks ... hiks ...," isak Frans.
Aqila membantu suaminya untuk mencuci mulut, dia segera memapah Frans keluar dati kamar mandi.
Pria yang biasanya kuat itu kini tampak sangat lemas, bahkan wajahnya sudah terlihat sangat pucat. Aqila oun membawanya ke kamar mereka, dengan telaten Aqila merebahkan Frans di kasur.
"Aku akan mengambil minyak kayu putih sebentar," ujar Aqila.
Baru saja akan beranjak, Frans menarik tangannya. Dia ingin meminta sesuatu karena terlihat dari tatapannya itu.
"Minta Elbert kesini, aku ingin nasi goreng buatannya," pinta Frans.
"Tapi kan Elbert gak bisa masak?" heran Aqila.
"Panggil koki Gevonac, dia yang akan mengajarkan Elbert. Aku mau nasi goreng buatannya pokoknya! titik!" rengek Frans.
Aqila melongo, jadi untuk apa Elbert yang buat. Toh rasanya sana saja dengan buatan koki, apa ini yang di namakan ngidam ala calon bapak?