
"LOVE, AKU PULANG!" seru Frans.
Ane yang akan menaiki tangga sontak saja mendelik menatap Frans, pria itu berteriak di dalam mansion padahal Aqila berada di ruang makan.
"Kau pikir ini hutan?!" kesal Ane.
Frans pun hanya menyengir ketika tatapan tajam sang mamah menuju dirinya, netranya beralih menatap ruang makan yang muncul Aqila dari sana.
"Kenapa kau berteriak? Karena kau, Bent menjadi bangun dan menangis," ujar Aqila yang mendekati Frans dengan Bentley di gendongannya.
"Maaf Love, lain kali aku tak seperti itu lagi." ujar Frans seraya mendekati Aqila.
Bukannya mendekat, Aqila napak menjauh. Ane pun segera menarik lengan Frans agar berhenti mendekati Aqila. Frans yang di perlakukan seperti itu pun angkat bicara.
"Kenapa sih? aku kan mau melihat Bent," heran Frans.
"Kau itu habis dari luar, kuman banyak menempel. Setidaknya kau ganti baju dulu baru melihat Bent, dan jangan lupa cuci tangan," ujar Ane yang di angguki oleh Aqila.
"Kok serasa Frans itu Virus?" kesal Frans.
"EMANG IYA!" seru Ane dan Aqila.
Bentley yang tadinya akan tertidur kembali di buat terkejut, dia merengek dan menggeliatkan badannya. Aqila pun menjauh sambil menepuk paha sang putra.
Frans menggerutu kesal, dia pun beranjak ke lift tetapi Ane lagi-lagi mencegahnya dan hal itu membuat Frans frustasi.
"Apa lagi sih mah," gerutu Frans.
"Kamu naik tangga, lift lagi diperbaiki jadi gak bisa di pake," ujar Ane.
Frans melongo, dia melihat tangga yang terdapat banyak sekali anak tangga. Dirinya lelah dan harus menaiki tangga, sepertinya Frans akan segera tertidur sore ini.
Berbeda dengan Ica, wanita itu tengah bahagia bermain bersama temannya. Seusianya seorang anak remaja pasti sangat senang bermain dengan teman, terlebih sahabat.
"Oh iya, kapan kau akan membawa kami menemui kakak iparmu?" tanya salah satu teman Ica yang bernama Eva.
"Jangan sekarang, abangku sangat bawel jika aku membawa seseorang. Lupakan, lebih baik kita membahas apa yang kau lakukan dengan kak senior kemarin?"
Eva yang di tanya seperti itu pun menghela nafasnya, dia meminum minumannya dan menatap Ica yang sedang meledeknya.
"Hanya soal pelajaran, dia sangat dingin untuk kita dekati," ujar Eva dengan kesal.
"Kau tidak pro dalam mendekati orang Eva," ujar teman Ica yang lain bernama Ranti.
Eva menatap Ranti kesal, sedangkan Ica hanya bisa tertawa dan ide licik pun muncul.
"Bagaimana jika kita taruhan?" tanya Ica.
Eva dan Ranti pun menatap bingung ke arah Ica, wajah Ica pun memunculkan niat licik.
"Taruhan? taruhan seperti apa maksudmu?" tanya Eva yang penasaran.
"Taruhannya mudah, aku akan mendekati senior kulkas 10 pintu itu. Ketika dia berhasil luluh padaku, kalian harus membayar kerjaku. Bagaimana?" ujar Ica.
Eva dan Ranti saling pandang, mereka mengangkat satu sudut bibirnya dan menatap Ica dengan sinis.
"Kau sungguh licik, tapi aku suka. Apa yang perlu kami hadiahkan?" tanya Ranti.
"Hadiah yang cukup murah, aku ingin senjata rakitanmu Ranti. Dan kau Eva, aku ingin mobil jadul mu itu," ujar Ica dengan senyum terbit di bibirnya.
BRAK!
"KAU GILA!" sentak keduanya setelah memukul meja.
Pengunjung kafe pun mejadi memusatkan perhatiannya pada mereka, sedangkan Ica hanya meneguk jusnya dengan santai.
"Aku dapat kesenanganku, dan kau bisa membalas kekesalanmu. Cukup mudah bukan? ayolah, kita anak dari keturunan mafia. Bukan hal sulit untuk melakukan hal seperti itu," ujar Ica.
"Oke, bukan hanya itu saja. Kau juga harus berhasil membuatnya jatuh cinta, kalau bisa ... kau nikahi dia!" ujar Eva menantang Ica.
Ica membulatkan matanya, dia terkejut dengan tantangan Eva.
"Kau gila? untuk membuatnya jatuh cinta it's okay lah. Tapi kalau untuk menikahinya, are you crazy?"
"Senjata rakitanku di jual puluhan miliyar, dan mobil Eva yang kau sebut jadul itu seharga ratusan juta bodoh! mana mungkin kami memberimu tantangan dengan mudah untuk mendapatkan barang kesayangan kami?" kesal Ranti.
Ica tampak berpikir, senior yang mereka maksud bukan pria idamannya. Pria itu terlalu kaku dan datar, tidak ada romantisnya sama sekali. Di tambah pria itu hanya seorang yang sederhana, jika mereka menikah apa yang Ica dapat kan dari pria itu.
"Kau tak mampu bukan? sudahlah, kita lupakan saja, toh ini ...,"
"DEAL!" seru Ica memotong ucapan Eva.
***
Di tempat yang berbeda, terlihat seorang pria sedang mengenakan beberapa persiapan. Dia menaruh pisau di balik jaketnya serta dua senjata lainnya.
Cklek!
Pintu ruangannya terbuka, tetapi pria itu tak menolehkan kepalanya. Dia masih fokus dengan persiapannya.
"Apa yang kau lakukan?! jangan gila Black! tempat yang kau masuki itu akan menghabisi nyawamu!" sentak orang yang tadi memasuki kamar pria bernama Black.
Black membalikan badannya, netranya melihat ke arah orang itu dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Sampai kapan?! aku harus membebaskan orang tuaku yang mereka sekap!" tekan Black.
"Black, kau belum tau kebenarannya. Mereka tak pernah menyekap orang tuamu, kau hanya di hasut saja oleh pria itu," ujarnya meyakinkan Black.
Tampak Black tak menghiraukan keberadaan pria yang biasanya dia sebut paman Rey.
"BLACK! DENGARKAN PAMAN!" seru Rey.
Black tampak tak menghiraukannya, dia keluar dari rumah dan menaiki motor besarnya. DIa membawa motor itu ke suatu tempat, setelah sampai nampak penjagaan disana sangat ketat.
Black memarkirkan motornya, dia mendekati semak-semak dan mencari celah untuk melawan.
Black mengeluarkan jarum kecil, dia melemparkan jarum kecil itu pada banyak orang yang berjaga. Setelahnya dia berhasil masuk karena penjaga itu telah terkapar pingsan.
Kawasan yang Black masuki adalah kawasan Ateez, rekaman CCTV dan jebakan pun terpasang di setiap sudut. Namun, hal itu tak mempan karena Black merupakan mantan intelijen. Tentu dia tahu apa yang harus dirinya lakukan saat ini.
Black membuka jendela, dia memasuki mansion besar itu lewat jendela. Wajahnya yang tertutup masker dan pakaiannya serba hitam membuat dirinya mudah untuk bersembunyi sebab warna tembok lebih banyak bercat hitam.
Netra Black tak sengaja melihat sosok wanita, tampak wanita itu memakai tudung dan menutupi wajahnya dengan kain hitam. Tampak semua mafioso menyapa hormat pada wanita itu, Black menjadi heran dengan siapa wanita itu.
"Capo," seru mafioso.
"Ehm, apa King kemari?" tanya wanita itu.
"Tidak capo, King hanya berpesan untuk berapa hari ke depan dia tak mendatangi markas dan menyuruh anda untuk mengontrol markas ini," ujar salah satu anggota.
Tampak wanita itu, yang tak lain adalah Ica mengangguk. Dia memegang mafia dengan jabatan bos dan disebut Capo. Awalnya dia tak ingin, tetapi dia harus membantu Frans dengan syarat dia tak ingin di ketahui publik mengenai jati dirinya.
"Yasudah, kalian bisa kembali dan ...,"
Ica menghentikan ucapannya, netranya melihat ke arah sudut ruangan. Dia pun mendekati sudut itu dan menatap tajam ke arah gorden yang bergerak pelan.
"Wah, rupanya ada yang membangunkan singa tertidur yah," gumam Ica.
Hari senin nih, jangan lupa votenya okay😉