My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 42: Ravin sakit



Tengah malam terlihat seorang pasang suami istri yang pulas tertidur, mereka adalah Amora dan Alden.


Suara decitan pintu terdengar, sosok kecil tengah berjalan masuk dengan selimut Tayo yang menyelimuti dirinya.


Ravin, wajah bocah itu terlihat memerah. Air mata pun membanjiri pipi gembulnya, dengan sekuat tenaga Ravin menaiki ranjang orang tuanya yang lumayan tinggi.


Setelah berhasil naik, tangan gempalnya menepuk pipi sang daddy dengan keras. Alden yang merasa kesakitan pun segera membuka matanya, dia terkejut melihat sang anak dengan wajah memerah dan menangis sedang menatapnya.


"Ravin ada apa? kenapa wajahmu memerah?" tanya Alden.


Ravin hanya bisa menangis, dia memukul dadanya dengan keras. Alden yang melihat hal itu segera menahan tangan sang anak, dia memindahkan Ravin ke pangkuannya agar lebih mudah dirinya periksa.


"Ada apa? nafasnya sesak?" tanya Alden.


Ravin mengangguk, Alden yang mengetahui hal itu segera menaruh anaknya dan beranjak dari tempat tidur menuju nakas. Dia mencari inhaler yang ada disana, suara berisik Alden pun terdengar di telinga Amora.


"Eungh," lenguh Amora.


Amora membuka matanya, dia bingung ketika melihat sang anak menangis sambil memukuli dadanya.


"Ravin kenapa sayang?!" kaget Amora dan langsung menduduki dirinya.


"Nafasnya sesak, ku yakin pasti dia habis memakan strawberry," ujar Alden.


Ravin memiliki alergi terhadap strawberry, dia bisa memakannya tapi hanya sedikit dan mungkin kali ini Ravin memakannya dalam jumlah banyak.


"Si4l!" geram Alden.


Alden pun segera berlari keluar, dia memasuki kamar Ravin dan mencari stok inhaler sang anak.


"Akhirnya," lirih Alden saat mendapatkannya.


Alden pun segera kembali ke kamar, dia mengarahkan inhaler itu pada mulut Ravin. Alden pun mengintrupsi sang anak agar menarik nafas secara perlahan.


Alden menempelkan telinganya pada dada sang anak, terdengar nafas itu masih berat. Sehingga Alden langsung menyelimuti Ravin dan menggendongnya


"Ayo kita kerumah sakit," titah Alden.


Amora mengangguk, dia beranjak menuju lemari untuk mengambil jaketnya. Setelahnya dia menyusul Alden yang sudah terlebih dahulu ke mobil.


Alden yang melihat Amora pun langsung membukakan pintu, dia menaruh Ravin di pangkuan Amora dan memutari mobilnya menuju pintu kemudi.


Alden melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kini Ravin sudah lemas dan telah bersandar pada dada sang mommy.


"Jangan sampai dia tidur," ujar Alden.


Amora mengangguk, dia berusaha untuk membuat sang anak tidak tertidur dengan mengajaknya berbicara.


"Ravin denger mommy sayang?" tanya Amora sembari menepuk pipi sang anak.


"Dengel," lirih Ravin.


"Ravin jangan tidur yah, Ravin cerita ke mommy Ravin mau apa sayang?" tanya Amora.


"Mau pentol di cekolah abang," lirih Ravin.


"Haha, apa tak ada yang bisa kau ceritakan selain pentol nak," bingung Amora.


Mobil Alden pun terhenti, pria itu langsung keluar untu membukakan pintu Amora. Dia segera mengambil Ravin dan membawanya berlari masuk rumah sakit.


"Cepat siapkan ruang UGD!" titah Alden.


Seketika perawat yang berjaga langsung menjalankan tugas mereka, Alden pun menyerahkan Ravin pada seorang suster dan menunggu anaknya di periksa.


Selang setengah jam, dokter pun keluar. DIa meminta Alden untuk masuk karena sedari tadi Ravin terus menangis saat akan di suntik.


"Ravin," panggil Alden.


"DADDY, CULUH PALA CETAN INI PELGI! MELEKA MAU CUS-CUS LAVIN!" seru Ravin.


Alden menghela nafas lega, jika sang anak sudah berteriak berarti kondisinya sudah kembali membaik.


"Tuan, bisa kau membujuknya untuk kembali memasang masker oksigennya? kami juga akan menyuntikkan obat pereda alergi," ujar sang dokter.


Alden pun memakai kan sang anak masker kembali, tapi Ravin kembali membukanya dan menatap Alden tajam.


"LAVIN NDA KENA COLONA DADDY!"


"Memangnya yang bilang Ravin kena siapa? kan nafas Ravin masih berat, jadi harus di bantu sama masker oksigennya.


"Lavin bica cali napas cendili, nda pelu maskel!" sinis Ravin.


Tak lama Amora datang, dia hanya bisa menggelengkan tingkah laku sang anak yang membuat orang kesal sekaligus gemas.


"Pakai masker oksigennya, setelah sembuh kita ke sekolah abang untuk beli pentol yang Ravin mau,"


"Benel mommy?!" seru Ravin yang mendapat anggukan dari Amora.


"Cepet daddy pacangkan lagi! nanti kebulu mommy belubah pikilan!" pinta Ravin.


Alden pun kembali memasangkan masker oksigen itu, dokter pun menyuntik Ravin dan tidak ada perlawanan dari bocah tersebut.


"Yang, kok di iyain sih maunya dia. Gak sehat loh yang," ujar Alden.


"Daddy janan jadi plokatol deh!" ujar Ravin dengan suara yang tak terlalu terdengar akibat masker oksigen yang dia pakai.


Alden menghembuskan nafas pelan, apa yang dibicarakan sang anak mengenai dirinya? dari mana sang anak mendapatkan kata itu, walau tak benar pada kalimatnya Alden dapat mengerti maksud sang anak.


Alden menatap Amora, Amora pun hanya tersenyum seraya mengelus dada Ravin. Tak lama dengkuran halus terdengar, Alden dan Amora langsung melihat Ravin dan ternyata anak itu telah tertidur.


"Akhirnya tidur juga, dari tadi kek!" kesal Alden.


"Ssyutt! anaknya lagi sakit juga mas," ujar Amora.


"Sakit gak sakit tetep ngeselin yang," gerutu Alden.


Amora pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, seketika keningnya mengerut kala teringat dari mana Ravin bisa mendapatkan strawberry.


"Mas, dari mana Ravin mengambil makanan atau meminum berbahan strawberry? bukankah kita sudah tidak menyetoknya?" bingung Amora.


"Kayak gak tau anakmu aja sih yang, dia pasti jajan ke warung. Pasti beli susu kotak, aku yakin pasti gak cuma habis sekotak susu. Pasti lebih," kesal Alden.


Amora terkekeh. "Kau memiliki anak yang cerdas, dia selalu bisa mengelabui para penjaga gerbang dengan tingkah nya,"


Alden menggelengkan kepalanya, dia melihat jam dinding dan ternyata sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


"Apa kau membawa ponsel?" tanya Alden.


"Iya, mas tidak bawa?" heran Amora.


Alden menggelengkan kepalanya, karena panik dia lupa mengambil ponselnya.


"Terus Ravin pulang kapan?" bingung Amora.


"Tunggu pernafasannya normal dulu, kasihan juga lagi istirahat," ujar Alden.


Amora pun mengangguk, dia melihat brankar di sampung Ravin yang kosong. Amora pun segera mendekati brankar itu dan merebahkan dirinya, setelahnya dia memejamkan matanya dan tak lama dia tertidur.


Alden tidak bisa tidur, dia takut sang putra butuh sesuatu. Untuk itu Alden hanya memperhatikan sang putra yang sesekali melenguh akibat tak nyaman apalagi kini anak itu memakai masker oksigennya.


Setengah ham kemudian, Ravin terbangun. Dia menangis, Alden yang memang tidak tidur pun dengan sigap menggendongnya. Dia membenarkan letak masker oksigen Ravin dan menepuk punggung sempit sang anak.


"Kenapa hm?" tanya Alden.


"Lapel hiks ... cucu hiks," isak Ravin.


Alden pun memanggil Amora, tak lama Amora pun terbangun dan segera menghampiri Alden.


"Ada apa?" bingung Amora.


"Ravin mau susu, kamu jaga Ravin sebentar aku mau ke mini market untuk membeli susu dia," ujar Alden.


Amora mengangguk, dia mengambil Ravin dari gendongan Alden dengan perlahan karena masker oksigen yang Ravin kenakan.


"Kamu kau nitip sekalian?" tanya Alden.


"Iya, belikan aku teh," ujar Amora.


Alden mengangguk, dia segera pergi dari ruang tersebut. Amora pun hanya menenangkan Ravin yang masih menangis.


"Jangan terus menangis, nanti susunya di patok kerbau," ujar Amora dengan aneh.


"Emangna kelbau ada moncongna?" heran Ravin dan menghentikan tangisannya


"ADA! kerbau yang suka mengambil susu milik anak yang menangis," seru Amora.


"Cucuna mommy pelnah di patok kelbau?"


AMora terdiam, entah apa yang akan dirinya jawab jika sang anak sudah bertanya demikian.


"Ka-kalau itu ...,"


Jangan lupa mampir ke karya ku yang lain.