
Terlihat kini Lia berlari menuju pintu utama mansionnya, dia membukanya dan tampaklah sang suami yang baru saja pulang bekerja.
"Kau berlari lagi?" tebak Ezra.
"Ehm sedikit, hanya sedikit," cicit Lia.
Ezra menghela nafas lelah, istrinya selalu lupa jika dirinya tengah hamil muda. Bukannya apa, dia takut Lia terpeleset atau terjatuh yang menyebabkan bayi mereka terancam.
"Yasudah, ayo kita masuk," ajak Ezra dan merangkul sang istri masuk ke dalam mansion mereka.
Ezra mengajak Lia menuju kamar mereka, sesampainya di kamar Ezra langsung membuka jas, dasi dan kemejanya.
"Sini bajunya biar ku masukkan ke dalam keranjang pakaian kotor," pinta Lia dan mengambil pakaian yang Ezra lepas tadi.
Lia segera membawanya menuju keranjang tersebut, setelahnya dia menyerahkan handuk suaminya sehingga kini Ezra beranjak untuk mandi.
Sambil menunggu Ezra, Lia memainkan ponselnya. Tak sengaja dia melihat status Aqila, tampak disana Aqila tengah memegang tangan Frans dengan jari manis yang di hiasi berlian.
"Manis sekali, kalau kak Ezra mah mana peka," gumam Lia.
Lia lanjut melihat status yang lain, saat melihat status suaminya Lia bingung mengapa Ezra menuliskan kata "Lagi sendiri" di statusnya.
"Ini kak Ezra maksudnya apa coba?! lagi sendiri ... udah punya istri juga bahkan udah mau punya anak!" gerutu Lia.
Cklek!
Lia tak menolehkan kepalanya, doa masih asik melihat status Ezra. Bahkan dia menyelami semua media sosial suaminya itu.
"Ay, mana bajuku?" pinta Ezra sambil menggosok rambutnya yang basah.
"Ay?"
Ezra mengerutkan keningnya, tak biasanya istrinya tak mendengar ucapannya. Karena tak kunjung mendapat balasan, akhirnya Ezra mendekati sang istri. Dia menepuk pelan bahu sang istri dan di balas tatapan tajam oleh Lia.
"Kamu kenapa? kok natap aku kayak gitu?" heran Ezra
Lia bangun, dia menatap Ezra dengan pandangan kecewa. Tangannya menunjukkan ponselnya di depan wajah Ezra.
"Ini apa kak? kok tulisan statusnya begini? kakak gak ngakuin kalau kaka udah gak sendiri lagi? kaka mau ngaku jomblo biar dapet cewek baru lagi gitu? biar si mbak keket itu balik lagi sama kamu gitu?!" tuduh Lia.
Ezra semakin tidak mengerti, pasalnya dia bukan orang yang senang memasang status. Dan lagi, dirinya merasa jika hari ini tak menulis status apapun.
"Coba sini aku liat." pinta Ezra sambil mengambil ponsel istrinya.
Ezra melihat status itu, memang status itu miliknya. Tapi siapa yang menulis?
"Ay ... itu aku tidak menulisnya, serius!" ujar Ezra.
"Itu buktinya apa? kalau bukan kamu tang nulis terus siapa? kuyang?" sinis Lia.
Lia beranjak dari hadapan Ezra, dia mengambilkan Ezra pakaian dan menaruhnya di kasur.
"Ay ini bukan aku yang ketik," ujar Ezra.
Lia tak menjawab, dia beranjak keluar kamar dan pergi entah kemana. Sedangkan Ezra mengacak rambutnya yang basah, dia juga tidak tau mengapa ada tulisan itu di statusnya.
Tak lama ada sebuah notifikasi dari ponselnya, Ezra pun mengambil ponselnya yang ada di nakas dan melihatnya ternyata itu dari Elbert. Segera Ezra membukanya dan melihat isi chat tersebut.
"Gak dapet jatah ... gak dapet jatah ... kasihaaan deh loh. Kan gue udah bilang, mudah buat gue bikin lu frustasi Ezra,"
Ezra menggertakkan giginya, dia menatap kesal isi chat dari ponselnya itu.
"Awas lu El!" geram Ezra.
Ezra pun segera menaruh kedua ponsel itu dan memakai pakaiannya. Dia akan segera memberikan bukti itu pada Lia.
Sedangkan Lia, dia sedang memasak makan malam untuk suaminya. Karena sedang kesal, Lia menggerutu dan tak sadar jika dirinya memberikan gula pada masakannya.
"Emang dasaaar yah! punya suami satu, mentang-mentang cakep eh malah pamer kayak mak rempong!" gerutu Lia sambil memainkan spatula.
Para maid yang sedang membantu Lia pun hanya meneguk ludah mereka kasar, beruntung Lia tak melampiaskannya ke mereka seperti kebanyakan orang.
Selesai masak, Lia menaruh masakannya di meja. Dia beranjak dari ruang kakan menuju sebuah kamar yang di desain khusu untuk kamar bayi, seperti biasa Lia akan merajut pakaian bayi di kamar itu.
Ezra baru saja turun dari tangga, dia langsung pergi ke ruang makan untuk mencari sang istri. Tapi di smaa hanya ada para maid yang sedang menyiapkan makan malam.
"Kalian lihat istri saya?" tanya Ezra.
Para maid itu menggeleng, Ezra pun menduduki dirinya di kursi makan. Dia melihat sayur bayam dan cumi asam manis kesukaannya. Ezra pun mengambilkan ke piringnya setelah mengambil nasi. Pria itu mulai menyendokkannya, tapi baru saja dua kunyahan ekspresi wajah Ezra menjadi berubah.
"UHUK! UHUK!"
Ezra mengambil air minum, dia meminum habis air tersebut dan menatap para maid yang terkejut.
Para maid itu menunduk takut, mereka saling menyenggol untuk memberikan Ezra keterangan mengenai siapa yang masak makanan tersebut. Akhirnya salah satu dari mereka berani membuka suara.
"Itu tuan, yang masak ... yang masak nyonya tuan," ujar salah satu maid.
Sontak saja Ezra membulatkan matanya, dia merutuki Elbert yang telah membuat istrinya kesal.
"Singkirkan itu, aku akan makan yang lain," ujar Ezra.
Para maid itu mengangguk patuh, mereka membawa makanan yang Lia masak dan mengganti nya dengan menu baru.
Selesai makan malam, Ezra di telpon oleh Kliennya. Mereka akan rapat dengan video call sehingga kini Ezra berada di ruang kerjanya.
Sedangkan Lia, setelah selesai membuat satu kaus kaki rajut wanita itu tampak lelah. Netranya melihat jam yang menunjukkan pukul sembilan malam.
"Aku harus meminum susu," ujar Lia.
Lia pun menaruh kaus kaki itu di tempat tumpukan benang wol, Setelahnya dia keluar dari kamar itu menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Lia segera mengambil gelas kosong dan susu bubuknya. Namun, netranya tak sengaja menangkap tempat sampah dan melihat jika makanan yang tadi dirinya masak di buang ke dalam tempat sampah itu.
Netra Lia menoleh, dia melihat maid tang baru saja datang ke dapur sambil membawa beberapa cangkir.
"Apa kau tahu mengapa makanan ini di buang?" tanya Lia sambil menunjuk tempat sampah.
Maid itu melihat nya, dia mengangguk sembari menaruh cangkir-cangkir itu ke cucian piring.
"Tuan memerintahkan kami untuk menyingkirkannya," ujar maid itu.
Mata Lia berkaca-kaca ketika kembali melihat makanan yang di buang itu, dia segera beranjak dari dapur dengan air kata yang mengalir di pipinya.
Lia pun menaiki tangga, dia menuju kamarnya dan tak melihat Ezra disana.
"Hiks ... pasti kak Ezra marah padaku, tapi kan seharusnya aku yang marah!" isak Lia.
Lia pun menidurkan dirinya di ranjang, dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Lia menangis karena merasa sakit hati akibat masakannya yang di buang begitu saja padahal dirinya sudah sangat lelah memasaknya.
Sedangkan Ezra, dia masih video call dengan rekan kerjanya.
"Baik, terima kasih atas kerja samanya. Senang bisa bekerja sama dengan anda," ujar Ezra dan mematikan sambungan video call itu.
Ezra merenggangkan badannya, dia sangat pegal berjam-jam duduk dengan posisi yang sama. Netranya melirik jam dinding dan terkejut melihat jam yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Astaga, tumben Lia tidak mencariku?" kaget Ezra.
Ezra segera membenahi berkasnya, dia merapihkan sedikit meja kantornya dan bergegas menuju kamarnya.
Cklek!
Netra Ezra melihat sang istri yang sudah tertidur, dengan perlahan dia kembali menutup pintu dan mendekati istrinya.
"Kenapa matanya bengkak? apa dia menangis karena perkara tadi?" bingung Ezra.
Ezra mengenyahkan pikirannya, dia ke kamar mandi untuk menggosok giginya dan mencuci muka. Setelahnya dia kembali mendekati ranjang dan merebahkan dirinya.
Netra Ezra tak sengaja melihat nakas yang kosong, biasanya di sana ada gelas bekas susu Lia karena setiap akan tidur istrinya terlebih dulu meminum susu hamilnya.
"Apa Lia tidak meminum susunya?" gumam Ezra.
Akhirnya Ezra membangunkan Lia, tampak wanita itu menatap Ezra kesal karena tidurnya di ganggu.
"Bangun sayang, kamu belum minum susu?" tanya Ezra.
"Apaan sih, ngantuk tau gak," kesal Lia.
"Bangun dulu, kalau kamu gak minum susu bayi kita kurang nutrisi!" kesal Ezra.
Nyawa Lia sudah terkumpul, dia menatap Ezra dengan sengit karena mengingat hal tadi.
"Buat apa kamu mikirin aku, tadi aja kamu buang masakan yang aku masak dengan capek seenaknya!" sindir Lia.
Ezra tampak mengerutkan keningnya, jadi sang istri marah karena masakannya yang dia buang? apa istrinya tidak mencicipinya terlebih dahulu sebelum dirinya memakannya?
"Kamu salah faham yang, tadi kamu masak kemanisan jadi aku ...,"
"Namanya juga udang asem manis ya pasti manislah! kalau gak mau manis liat wajah kamu jadi pait pasti!" sela Lia mengeluarkan kekesalannya.
Ezra hanya bisa mendesah lelah, berdebat dengan Lia hanya bisa memunculkan konflik baru. Ezra pun mengalah dan pergi ke luar kamar untuk membuat susu Lia, Sedangkan Lia dia salah paham dan mengira Ezra menghindari dirinya
"Tuh kan, emang dasar suami gak peka! istri lagi ngambek bukannya di bujuk malah ngelayap!" ucap Lia.