My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 65: Audrey



Elbert pulang ke rumahnya, dia memarkirkan mobilnya di garasi. Netranya melihat Audrey yang sedang menunggunya di depan pintu rumah.


Elbert pun keluar dari mobil dan mendekati istrinya itu, Audrey juga langsung memeluk Elbert.


"Kau sudah sampai," ujar Audrey.


"Apa kau menungguku?" tanya Elbert yang di balas anggukan oleh Audrey.


Audrey pun melepas pelukan mereka, tangannya melingkari tangan Elbert dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana keadaan Lia dan bayinya?" tanya Audrey saat Elbert menduduki dirinya di sofa ruang tengah.


"Lia dan bayinya baik-baik saja, hanya bayi yang kedua mengalami kelahiran prematur. Beratnya hanya 1,5 kg saja, jadi dia harus berada di inkubator," terang Elbert yang kini melonggarkan dasinya.


"Kasihan sekali, aku ingin pergi melihatnya. Jika saja hari ini tidak ada acara keluarga," gumam Audrey.


Elbert menatap istrinya, dia tersenyum dan membawa Audrey ke pelukannya. Dia menaruh dagunya di kepala Audrey sehingga Audrey dengan jelas mendengar detak jantung suaminya.


"Bunny," panggil Elbert.


"Hm," sahut Audrey dan mendongakkan kepalanya.


"Tadi Ezra memberikanku informasi terkait dokter kandungan, kita bisa mencoba program hamil bukan?" tanya Elbert.


Audrey tampak terdiam, dia melepaskan tangan Elbert yang berada di bahunya dan menatap suaminya itu dengan dalam.


"Aku takut kecewa untuk yang sekian kalinya Honey," lirih Audrey.


"Kita bisa mencoba lagi," ujar Elbert.


Audrey beranjak dari duduknya, dia pergi meninggalkan Elbert yang kini menatap kepergian istrinya dengan sendu.


***


"Oeeek ... oeeekk,"


Frans terbangun dari tidurnya, dia menatap Aqila yang ternyata masih pulas tertidur. Netranya melihat putranya yang sudah menangis sambil menggerakkan tubuhnya.


"Syuuttt, jangan menangis sayang. Kenapa? haus hm?"


Frans pun membawa Bentley ke gendongannya, dia sedikit menimang dan tangisan bayi itu mereda.


"Aqila pompa asi gak yah?" gumam Frans.


Frans pun menggerakkan lengan istrinya berharap Aqila terbangun, dan tak lama Aqila terbangun. Dia menduduki dirinya dan mengucek matanya.


"Love, Bent bangun. Apa kau menyetok asi?" tanya Frans.


"Iya, hanya saja ada di kulkas. Berikan saja Bent padaku," ujar Aqila.


Frans pun memberikan Bentley pada istrinya, dan Aqila pun merebahkan dirinya dengan Bentley di sampingnya. Dia mengeluarkan nutrisinya dan langsung di hisap oleh sang putra.


"Pantas saja dia menangis, ternyata sangat haus," lirih Aqila.


Frans yang melihat Bentley sangat kuat menyedot pun meringis, dia menatap istrinya yang terlihat biasa saja.


"Apa tidak sakit?" tanya Frans.


Aqila menaikkan satu alisnya, matanya beralih menatap apa yang Frans lihat.


"Bisakah kau menjaga matamu itu sebelum ku colok!" kesal Aqila.


"Buat apa? aku malah lebih berhak dari Bent," ujar Frans tak terima.


Aqila mendengus sebal, dia menepuk paha Bentley agar segera tertidur.


"Frans," panggil Aqila saat dirinya teringat tentang kepulangan Frans tadi.


"Iya, ada apa?" tanya Frans sembari menatap wajah istrinya.


"Kau habis dari mana semalam?" tanya Aqila.


Frans yang baru saja merebahkan dirinya seketika terdiam, selang beberapa menit dia menatap wajah Aqila dengan serius.


"Maaf, aku mendapat laporan tentang pembunuhan berantai. Tetapi saat para mafiosoku sedang membantu para polisi itu, tak di sangka kami di serang oleh mafia lain. Aku harus turun tangan untuk itu," terang Frans mengenai hal tadi.


Frans mengerutkan keningnya, dia kembali mengingat kapan dirinya mendapat parfum itu di jaketnya karena dia yakin bahwa istrinya penasaran dan mengendus aroma jaketnya.


Flashback On.


"Gimana?" tanya Frans pada Kenan yang berjalan mendekatinya.


"Seperti biasa jejaknya hilang, korban memiliki luka yang sama persis seperti korban sebelumnya," terang Kenan.


Kenan menyerahkan beberapa kembar foto, Frans pun melihatnya dan membandingkan satu foto dengan foto yang lain.


"Maaf tuan Frans, pencarian kami hentikan karena ini sudah larut dan menyulitkan akibat gelap. Terima kasih anda kembali membantu kami," ujar kepala polisi yang berada di sebelah Kenan.


"Sama-sama, hubungi tangan kananku jika perlu bantuan kami," ujar Frans.


kepala polisi dan rekannya pamit undur diri, Frans dan Kenan pun segera kembali begitu juga mafioso yang bertugas.


Ateez dibangun untuk menghancurkan mafia perusak, dia membantu aparat negara untuk memecahkan kasus. Salah satunya seperti ini, Frans harus mencari tahu siapa pembunuh berantai tanpa jejak itu.


Brak!


"Eh, lu nabrak Ken?!" kaget Frans.


"Gak tau King, perasaan gak ada yang lewat deh," ujar Kenan dengan bingung.


Tiba-tiba saja mereka merinding, Kenan dan Frans pun mencoba keluar dan melihatnya.


"Eh iya, nabrak orang. Tapi munculnya dari mana yah?" heran Kenan saat melihat seorang wanita tergeletak dengan bersimbah darah di area pelipisnya.


"Lu gendong deh, bawa ke mobil," titah Frans.


"Ya saya gak kuat lah kalau sendiri, sama King deh biar adil," ujar Kenan.


Frans pun berdecak sebal, dia akhirnya membantu Kenan untuk membawa wanita tersebut ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.


Flashback Off.


"Gitu ceritanya, jadi aku ... tidur?" Frans terkejut ketika dirinya selesai bercerita dan mendapati istrinya yang tertidur pulas.


Frans pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri dan membenarkan selimut kecil sang putra.


Tangan Frans mengusap kepala Aqila dengan lembut, wanita yang menjadi istrinya serta ibu bagi putranya.


Frans tak pernah mengira jika dulunya wanita yang selalu mengincar dan mengejarnya akan mendapatkan cintanya. Padahal Frans sudah membentengi hatinya untuk Aqila, tetapi takdir menyatukan mereka. Wanita yang dulu mengejarnya sekarang menjadi pasangan hidupnya, sungguh manis bukan?


Tak pernah muncul di benak Frans jika dia bisa bersama wanita yang tak bisa diam seperti Aqila, anita cerewet dan penuh dengan keceriaan. Namun, semua sifatnya hilang dalam sekejap akibat kesalahan dirinya yang melukai hati wanita itu.


"Maaf, kau harus menjadi istriku. Istri dati seorang mafia, entah apakah aku akan tetap bertahan karena pekerjaanku memiliki resiko tinggi. Aku berharap, kau dan putra kita selalu bahagia,"


Pagi harinya, Frans terbangun akibat gerakan di atas tubuhnya. Dia mengerjapkan matanya, aroma minyak telon pun memasuki indra penciumannya.


"Frans bangunlah, aku harus memasak. Titip Bent sebentar," pinta Aqila ketika melihat suaminya itu bangun.


Frans mengangguk, dia menduduki dirinya dengan menahan tubuh putra kecilnya. Dia membawa putra kecilnya itu ke gendongannya.


"Tadi sudah ku mandikan dan sudah berjemur juga, kau hanya tinggal jaga dia saja. Jika nangis berikan susu yang berada di botol itu," ujar Aqila dan menunjuk nakas.


Frans mengangguk, dia masih sangat mengantuk. Netranya melihat putranya yang tak memakai sarung tangan, dan tangan kecilnya itu selalu di masukkan ke mulutnya.


"Apakah tanganmu sangat enak?" gumam Frans.


Frans bangkit dari duduknya, dia berjalan menuju lemari kecil yang memang di khususkan untuk keperluan putranya.


Frans membuka lemari itu dan mencari sarung tangan putranya, setelah dapat Frans mengambilnya dan kembali duduk di kasur.


"Pakai sarung tanganmu, agar tanganmu terbebas dari kuman." ujar Frans seraya memakaikannya sarung tangan.


____________


Hai-hai


Selamat menjalani ibadah puasa🤗🤗🤗🤗