
Pagi harinya, suasana di rumah Lia dan Ezra sangat tenang. Mereka berdua sedang asik sarapan tanpa adanya perbincangan.
Kini, kandungan Lia juga sudah beranjak ke bulan ke lima. Perutnya sidah mulai kelihatan, tetapi ada yang aneh dari perutnya. Perutnya Lia sangat besar seperti usia kandungan 7-8 bulan, setelah di lakukan USG ternyata Lia mengandung bayi kembar.
Ezra yang mendengar pun sangat bahagia, keluarga Wesley, Gevonac dan Elvish pun mengucapkan selamat pada Ezra dan Lia.
"Ay, malam ini aku pulang larut. Kau mau tetap disini atau ke mansion daddy?" tanya Ezra setelah selesai sarapan.
"Ke rumah kak Qila saja," jawab Lia.
Aqila, wanita itu sudah mengandung 6 bulan. Frans memerintahkannya untuk tinggal di rumah saja, dan tidak kembali bekerja. Aqila pun menurut, dia juga sangat lelah akibat kandungannya yang mulai membesar.
"Tadi Frans bilang jika dia membawa Aqila ke mansion Gevonac, karena Frans harus ke liar negri mengurus urusannya," ujar Ezra.
"Yasudah, aku mau ke rumah paman Arsel aja," ujar Lia.
"Tidak!" larang Ezra.
Lia mengernyit bingung, kenapa dia tidak di perbolehkan ke rumah pamannya sendiri? apa salahnya jika berkunjung ke rumah sang paman.
"Nanti anak kita di racuni otaknya sama seperti Ravin," ujar Ezra.
"Kan masih di dalam perut kak?" bingung Lia.
"Justru masih di dalam perut, kita harus menghindarinya," ujar Ezra.
Lia mengerucutkan bibirnya, dia kesal dengan Ezra yang selalu berucap aneh. Ezra yang melihat bibir istrinya seperti itu pun mencuri kecupan, dia segera berlari ketika sang istri akan kembali meledaki amarahnya.
"MODUSNYA KEBANGETAN YAH!" teriak Lia.
Ezra pun hanya terkekeh, sementara Lia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Suaminya itu menjadi aneh semenjak mereka menikah, Ezra lebih mengeluarkan ekspresinya ketika bersama Lia. Berbeda saat mereka belum menikah, Ezra sangat cuek kepadanya.
Sepang beberapa saat, Ezra dan Lia pun sudah berada di mobil. Ezra harus mengantar Lia ke mansion Gevonac karena istrinya yang meminta kesana.
"Disana kau jangan merepotkan mamah dan yang lainnya, jika butuh sesuatu telpon aku AKu akan menyuruh orang untuk melakukannya," titah Ezra.
"Itu sama aja!" gumam Lia.
"Kau mendengarku?" tanya Ezra.
"Denger," cicit Lia.
Selama perjalanan, Ezra hanya fokus pada laptopnya. Lia yang merasa di abaikan pun mencoba mengganggu Ezra dengan cara meniup leher sang suami.
"Jangan memancingku ay," ujar Ezra tanpa menatap Lia.
"Aku kan gak bawa pancingan?" lugu Lia.
Lia kembali meniup leher Ezra, Ezra pun geram dengan tingkah Lia. Dia menaruh laptopnya dan memindahkan Lia ke pangkuannya.
"Ka-kak, ada supir. Gak enak," cicit Lia.
"Dimana keberanianmu tadi hm, tadi kau berani memancingku dan sekarang kau malah menciut seperti ini.
Lia menunduk, dia malu saat ini. Ezra yang melihat hal itu pun mengangkat dagu Lia dengan satu jarinya, setelahnya Ezra mendekatkan wajahnya dan Lia tetapi tiba-tiba saja mobil berhenti mendadak.
CIIIITTT!
Ezra segera menahan tubuh istrinya dengan cara memeluknya, Lia terkejut ketika Ezra memeluknya bahkan kini tangannya sidah melingkar di leher sang suami.
"Ada apa pak?" tanya Lia.
"Itu non, tadi ada motor yang lewat tiba-tiba. Untungnya gak kena," ujar sang supir.
Ezra menatap Lia, dia mengecek apakah Lia tidak apa-apa. "Bagaimana perutmu? tadi sempat terbentur perutku bukan? apa tidak terasa sakit?" tanya Ezra.
Lia menggeleng, dia pun mengelus perutnya yang sudah membuncit itu. Mobil mereka pun kembali berjalan, Ezra juga mendudukkan Lia kembali ke kursinya.
Tak lama mereka oun memasuki kawasan mansion Gevonac, Ezra membuka jendelanya sehingga para mafioso yang berjaga bisa melihat jika dia adalah anak dari istri master mereka yaitu Geo.
Setelah mereka memastikan, mereka pun membuka jalan. Mobil mereka kembali melaju menuju pintu utama mansion Gevonac.
"Sudah sampai tuan, nona," ujarnya.
Ezra mengangguk, dia menatap Lia begitu pun sebaliknya. Lia memeluk Ezra, Ezra lantas mencium kening Lia dengan cukup lama. Setelahnya mereka melepas pelukan dan Ezra oun membungkukkan tubuhnya untuk mengecup perut sang istri.
"Yes daddy," ujar Lia.
Ezra tersenyum, dia mengelus kepala Lia. Lia pun keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada Ezra yang akan berangkat ke kantornya.
"Lia," panggil Ane.
Lia menoleh, dia tersenyum sembari berjalan mendekati sang ibu mertua.
"Ezranya mana?" tanya Ane.
"Udah berangkat duluan mah, dia harus segera ke kantor. Mungkin nanti dia akan kesini menjemputku," ujar Lia.
"Yasudah ayo masuk, ada Aqila juga yang lagi makan rujak mangga," aja Ane.
Mendengar kata rujak, Lia segera berjalan cepat menuju dalam. Sedangkan Ane yang melihat hal itu, hanya bisa memekik histeris karena dia takut Lia terjatuh akibat perutnya yang besar dan di bawa berlari seperti itu.
"Aku ngeri melihat Lia berlari seperti itu," geleng-geleng Ane.
Sedangkan Lia, dia kini mendapati Aqila yang asik makan mangga. Dia pun merebut piring Aqila sehingga membuat wanita itu kesal.
"BAGI DONG!" seru Lia.
"LIA! BALIKIN RUJAK KAKAK!" teriak Aqila sambil berusaha merebut piring yang ada di tangan Lia.
"Sebentar dulu, aku juga mau," ujar Lia.
"Tapi itu punya kakaaaakk!" rengek Aqila.
Ane terkejut mendengar teriakan keduanya, dia segera menghampiri dua calon ibu muda itu dengan piring rujak di tanggannya yang tadi sempat dia ambil untuk Lia.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berebut seperti anak kecil begitu?" heran Ane.
"Mamah Lia menantu mamah, dia ambil mangga Aqila," adu Aqila.
"Pelit banget sih, nih Lia balikin!" sery Lia.
Lia mengembalikan piring mangga itu pada Aqila, Aqila pun tersenyum senang. Namun, senyumnya luntur saat melihat piringnya sudah tidak terdapat mangga lagi.
"Itu buat Lia kan mah, makasih mamah!" seru Lia sambil mengambil piring yang ada di tangan Ane.
Lia menikmati rujak mangganya, sedangkan Aqila dia menatap Ane sambil berkaca-kaca.
"Balikin mangganya! tadi Lia udah makan punya kakak!" seru Aqila sambil menatap Lia.
"Ini kam punya Lia di kasih mamah," ujar Lia dan menjauhi Aqila.
"Mamah," adu Aqila.
Ane menatap Aqila dengan rasa bersalah, mangganya sidah habis dan piring yang di pegang Aqila adalah rujak terkahir.
"Nanti Raisa pulang kuliah, kita suruh dia buat beli mangga yah," bujuk Ane.
Aqila menggeleng, dia memegang perutnya dan berjalan cepat menuju Lia. Dia merebut piring yang di pegang Lia, dan Lia pun menahan piring itu.
"Balikin sini! tadi Lia kan makan punya kakak!" seru Aqila.
"Tapi ini punya Lia!"
Tarik-tarikan pun terjadi, sampai akhirnya piring tersebut terjatuh dan pecah hingga menyebabkan mangga itu jatuh berceceran.
PRANG!
Aqila dan Lia menunduk untuk menatap piring rujak yang terjatuh, mereka pun mengangkat kembali kepalanya dan kini keduanya saling tatap.
"HAHAHAHAHA,"
Ane sungguh bingung, mengapa keduanya tertawa seperti itu? Padahal tadi mereka berebut rujak seperti anak kecil.
"Sepertinya ada yang mau selain kita hingga dia memecahkannya," ujar Lia.
"Kau benar, nanti kita keluar saja untuk membeli mangga kembali," ujar Aqila.