My Perfect Mafia Daddy

My Perfect Mafia Daddy
Part 81: kerja sama



"Kamu mau kemana?" tanya Rey ketika melihat Gibran yang akan keluar dari mansion.


"Jelas itu bukan urusan paman!" sentak Gibran.


Rey tak bisa lagi menahan langkah Gibran, keponakannya itu sangatlah keras kepala. Menghentikan Gibran sama saja menghentikan tembok, tak akan mungkin di dengar.


Gibran menaiki motornya, dia melajukan motornya menuju kafe. Sesampainya di sana, Gibran langsung masuk untuk menemui seseorang.


"Sorry, gue telat," ujar Gibran dan menduduki dirinya di hadapan dua orang wanita.


"Santai aja, kita juga baru kok," ujar salah satu dari kedua wanita itu.


Gibran mengangguk, jari telunjuknya mengetuk meja sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Ica sudah mau menerima taruhan kita, gue udah jalanin apa yang lu mau dan sekarang saatnya lu lepasin adek gue!" sentak wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Eva.


Gibran terkekeh, selama ini dia dan Eva dan juga Ranti merencanakan penjebakan Ica melalui pendekatan. Bukan tanpa alasan, Eva dan Ranti terpaksa karena salah satu keluarga mereka menjadi tahanan Gibran saat penyerangan.


"Eitss ... kalian belum pastiin dia mau nikah sama gue atau nggak," ujar Gibran dengan seringai nya.


"Lu udah gila yah? gue gak telah sahabat gue nikah sama lu, khilaf gue nawarin kayak gitu ke dia! buat nikah sama orang licik kayak lu, gak sudi!" bentak Ranti.


Gibran tertawa keras, dia menatap Ranti yang sudah berani terhadapnya. Netranya menajam dan dia mengeluarkan aura dingin yang mana membuat Ranti dan Eva merinding.


"Ingat Ranti, sepupu lu menjadi tawanan gue. Begitu juga dengan lu Eva, apa perlu gue siksa mereka hm?" tanya Gibran dengan sinis.


"Lu bener-bener iblis!" bentak Eva yang sudah berdiri dari duduknya dan menunjuk Gibran.


Gibran mengeluarkan ponselnya, dia mengetikkan sesuatu dan memperlihatkannya pada Eva dan Ranti.


Terdapat sebuah video teriakan histeris, Eva dan Ranti Tentu saja hafal suara siapa itu.


"Mau kalian bersatu dengan mafia lain, tidak akan berani lawan gue. Karena gue Black, ketua gangster paling di takuti. Gue yakin lu tau tentang nama itu," ujar Gibran.


"Yakinkan dia untuk menikah dengan gue, setelah itu gue janji bakal bebasin orang tersayang Kalian," ujar Gibran dan akan beranjak pergi.


Namun, suara lantang Eva membuat langkah Gibran terhenti.


"Sebenarnya lu itu cinta atau karena dendam hah?! lu tuh obsesi tau gak?!" bentak Eva.


Gibran membalikkan tubuhnya, dia menatap Eva dengan pandangan datar.


"Cinta? jangan membual, gue gak pernah percaya apa yang namanya cinta! blush1t tau gak!" datar Gibran.


"Terus buat apa lu nikahin Ica? masalah lu ada sama Frans bukan dengan Ica, kalau mau balas ya balas aja Frans. Kenapa harus sahabat gue? dia salah apa sama lu!" kesal Ranti.


Gibran menatap sepatunya dengan lama, dia juga tidak tahu apa yang dia rasakan. Dendamnya pada Gevonac sudah mendarah daging sehingga dia tidak bisa membedakan dendam dan cinta.


"Salahnya dia ... lahir dari rahim yang sama dengan pria yang udah buat gue jadi yatim piatu!" lirih Gibran dan bergegas keluar dati kafe.


Ranti dan Eva duduk kembali, mereka juga pusing apa yang harus mereka lakukan. Bahkan ayah mereka takut melawan Gibran, terlebih Gibran memegang kekuasaan gangster di benua Eropa.


"Lu telpon Ica deh," ujar Ranti.


"Gue gak tega, seharusnya dari awal kita gak ngikutin rencana bodoh pria itu," lirih Eva.


"Tapi posisi kita serba salah Va, mau lapor polisi? itu sama aja buang-buang nyawa, kita gak pernah tahu apa yang Gibran sembunyikan selain pasukan gangsternya,"


Eva melemaskan bahunya, dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Saat itu mereka berencana akan memberi tahu Ica semuanya agar mereka sama-sama melawan Gibran. Namun, itu hanyalah rencana semata karena lagi-lagi Gibran menggagalkannya dengan rencana licik pria itu.


"Ran, kita bisa bicarain ini dengan Ica. Kita kerja sama dengan dia, jika dia berhasil masuk ke dalam kehidupan Gibran bukankah mudah bagi Ica untuk menyelinap ke ruang bawah tanah? dia pasti akan paham situasi di sana sehingga kita dengan mudah masuk," usul Eva.


"Gak segampang itu Ran, setengah jumlah mafia mendukung Gibran. Jika pria itu tau kita merencanakan ini semua bisa habis markas kita," ujar Ranti.


CTAK!


***


Ica menemui kedua sahabatnya, dia akan meminta bantuan sahabatnya untuk menolongnya mencari sang abang.


"Kita gak bisa Ca," ujar Ranti.


Eva menatap sekeliling mereka, di sana terdapat banyak sekali mata-mata yang Gibran siapkan.


"Kalian kan punya banyak jumlah anggota, masa gak bisa bantu gue? terlebih lu Va, lu punya anggota terbaik," ujar Ica.


Eva mengeluarkan sebuah kertas, dia berpura-pura batuk dan mendekati Ica yang tengah kebingungan.


"Lu kenapa sih?" heran Ica.


Tangan Eva di selipkan pada tangan Ica yang memang berada di bawah. Dia menyelipkan kertas itu dan menatap keduanya dengan pandangan tak dapat di baca.


"Gue mules banget, bener deh," ujar Eva.


Ranti mengerti situasi, dia memukul kepala Eva pelan dan tertawa garing.


"Yang bener aja lu! sana mules dulu, kita laper nih, makan dulu yuk ca!" seru Ranti sambil mengedipkan matanya.


"Sorry, gak bisa nih. Gue harus balik ke rumah, gue takut orang rumah khawatir," ujar Ica dan menyelipkan kertas itu di jamnya.


Ica keluar dari kafe, Eva dan Ranti pun bertos ria di bawah meja.


Flashback On.


"Gimana?" tanya Ranti setelah memberi tahu idenya.


"Lu mau Ica nikah sama Gibran dan membebaskan mereka? Bagaimana kita kasih tahu Ica sementara Gibran kasih kita banyak mata-mata," ujar Eva dengan sesekali melirik belakangnya.


"Ya pake kertas lah, gue ke kamar mandi buat nulis," ujar Ranti.


Tidak mungkin mata-mata itu juga mengikutinya sampai ke kamar mandi, sehingga Ranti bisa lebih leluasa untuk mengerjakan rencananya.


"Tapi Ran, pernikahan itu hal yang sakral. Masa iya sahabat kita nanti jadi janda muda, kan gak lucu," ujar Eva.


"Yaelah, kita sewa penghulu boongan aja. Yang komat kamit kalau baca gak jelas, mana mungkin sah!" enteng Ranti.


Eva yang orangnya lola pun mengangguk membenarkan, Ranti yang melihat itu tersenyum puas dengan rencananya.


"Terus om Geo dateng dong? jadi sah dong?" heran Eva.


"Yah ... si beg0, ya jangan sampe dateng lah! kan bisa tuh kita sewa orang buat pura-pura," kesal Ranti.


Eva menggaruk pipinya, dia kembali menatap Ranti yang sudah memandangnya sinis.


"Kalau Ica ampe hamil gimana? anak haram jadinya, kan gak sah," ujar Eva yang mana membuat Ranti sangat kesal.


"Lu mikirnya kejauhan ayam! mana mau si Gibran ehem-ehem ama adek musuhnya sendiri," kesal Ranti.


"Eh jangan salah lu, si Ica bodynya bagus kayak gitu walau pendek tapi kan imut. Banyak juga yang suka,"


Perkataan Eva membuat Ranti menggeram tertahan, beruntung mereka sedari tadi berbicara dengan bahasa itali sehingga orang yang di belakang mereka tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Sekarang banyak obat penunda, gampang itu mah. Yang penting kita yakinin dulu Ica, dengan begitu kan dia juga bisa nyelamatin abangnya," ujar Ranti.


"Iya juga sih, gue hanya berharap semoga tu Gibran gak berbuat macam-macam sama Frans. Keluar dari penyekapan aja udah bersyukur banget," lirih Eva.


Flashback Off.


___________