
3 tahun kemudian.
Terlihat sepasang suami istri tengah bergumul di bawah selimut tebal, salju turun sangat tebal sehingga dua orang itu masih saja menghangatkan diri mereka.
TOK! TOK! TOK!
"KING! KING!"
Ketukan pintu terdengar sangat keras, mata cantik wanita itu terbuka dan menatap wajah suaminya yang masih pulas tertidur tanpa gangguan.
"Mas, bangun mas. Itu si Kenan dari tadi gedor pintu, suruh dia diam dan jangan berisik," ujar wanita tersebut.
Pasangan suami istri itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aqila dan Frans, mereka terbangun dengan terpaksa akibat ulah Kenan.
"Eunghh, kenapa jomblo karatan itu selalu menggangguku tidurku." Decak Frans.
Frans turun dari ranjang, dia memakai kaos putihnya dan berjalan menuju pintu. Di bukanya pintu itu dengan kasar dengan wajah merengut kesal.
"Apa kau tahu sekarang jam berapa? masih sangat pagi dan kau mengacaukan tidurku!" sentak Frans yang merasa kesal.
Kenan gelagapan, dia menunjuk ke arah suatu tempat sembari mengusap keringatnya yang mengucur.
"King, itu putramu ... dia kembali membunuh buaya kesayanganmu!" ujar Kenan dengan panik.
Frans membulatkan matanya, dia berlari ke arah dimana dirinya mengandangi buaya kesayangannya.
Sesampainya di sana, Frans memegang kepalanya. Matanya melotot sempurna melihat sang putra yang kini duduk di atas buaya dengan baju yang banyak bercak darah.
"BENTLEEEEYYYY!"
Bocah berumur 3 tahun itu tersenyum girang, dia turun dari atas buaya dan berjalan mendekati sang appa yang sedang menatap sendu ke arah peliharaannya yang mati.
"Frans ada apa kenapa kau ... astaga! Bentley! kau tak apa nak?!" ujar Aqila yang tengah panik, pasalnya kini baju tidur putranya sudah banyak bercak darah.
"I'm okay, Ben mau mandi bun. Tapi appa malah malah nda jelas," ujar Bentley.
Frans menatap garang ke arah putranya, buaya itu senilai miliyaran rupiah. Bahkan hanya ada beberapa saja karena sifatnya langka, tetapi putranya malah melenyapkannya dengan pisau yang entah dari mana sang putra menemukannya.
"Kamu anak gak ada akhlak yah! kamu tau gak buaya itu appa beli berapa huh?!"
"Kan appa Bent nda ada otakna kata abang Lavin." Jawab Bentley dengan jujur.
Frans tak tahu saat ini dia harus apa, memarahi anaknya pasti Aqila akan memarahinya balik. Mau menyelamatkan buayanya sudah pasti tidak akan terselamatkan.
"Yuk Bent sebaiknya mandi, kan si kembar mau kesini," ucap Aqila.
Mendengar sebutan si kembar membuat bibir Bentley tersunggingkan sebuah senyuman lebar. Dia menyambut tangan yang Aqila ulurkan, setelahnya mereka pergi dari sana meninggalkan Frans yang terpaku entah harus apa.
"Terus gimana ini king? apa kita kasih ke Mexi saja?" Tanya Kenan yang sudah pasrah dengan hal ini.
Frans menggeleng lemah, dia mengibaskan tangannya bermaksud memberikan Kenan untuk melakukan sesuatu yang Kenan mau.
DIa mau merenungkan kepergian buayanya, karena belum juga buaya itu melahirkan tetapi putranya malah membunuhnya.
Tak heran, di umur Bentley yang ketiga tahun dia mewarisi kakek serta ayahnya. Walau begitu, Aqila terus menanamkan pengetahuan pada putranya kalau pisau itu berbahaya. Bahkan, Aqila menjauhi benda tajam dari jangkauan putra kecilnya.
Mereka selalu saja kecolongan dengan otak licik Bentley, sifatnya yang sama seperti Frans membuat Aqila harus banyak bersabar.
"Udah kemarin yang jantan, sekarang yang betina lagi," ucap Frans dengan lirih.
***
"BENTLEY! TURUN SAYANG, ELANG DAN SKY SUDAH DATENG NIH!" Teriak Aqila menyuruh putranya untuk menuju lantai dasar.
Aqila memeluk Lia yang tengah menggendong Sky, mereka saling melempar senyum dan membawanya duduk.
"Halo Sky, apa kau masih takut padaku? kenapa kau selalu bersembunyi seperti itu," ujar Aqila melihat Sky yang hanya menumpu kepala pada bahu Lia.
Terlihat Frans dan Ezra saling berbincang, Elang pun ada di dekat sang ibu melihat adiknya yang masih tampak asing dengan sekitar.
"Tak apa, tulunlah. Abang dicini," ujar Elang pada adiknya.
"ELANG!" teriak Bentley.
Elang menutup telinganya, dia mendelikkan mata menatap Bentley yang tersenyum riang menghampirinya.
"Kebiacaan! teliak telus, untung aja congolna nda kelual!" Sentak Elang pada Bentley yang kini berdiri di hadapannya.
"Congol?" tanya Bentley sembari memiringkan kepalanya.
Ezra menggaruk pelipisnya, pasti putranya mendengar, kata-kata itu dari Ravin. Dia juga tak mengerti apa arti itu, hanya saja kurang enak di dengar.
"Abang bahasanya jangan begitu yah, nanti adek tiru loh," ujar Ezra.
Elang mengerti, mata hitamnya melirik ke arah Frans yang tengah memperhatikan dirinya dengan sangat intens.
"Apa liat-liat! citu mau di colok matana!" Sarkas Elang.
Frans terkejut, dia berdiri dan menepuk pundak Ezra dengan keras.
"Copyannya si Ravin! bener nih, bisa darah tinggi mulu kamu Zra sama kayak daddy!" Seru Frans.
Ezra menggeleng, jika dia berkata tidak maka dia berbohong. Jika dia berkata iya, dia tak terima disamai oleh Alden.
"Pi,"
Ezra menoleh ketika anak bungsunya memanggil, dia mengerti jika Sky ingin berada bersamanya.
"Sini ay Sky nya," pinta Ezra.
Lia memberikan Sky pada suaminya, setelah itu dia kembali mengobrol dengan Aqila dengan seru. Sky di dudukkan di pangkuan Ezra, netranya menatap Frans yang sudah terduduk kembali di samping Ezra.
Ara mata Sky tak pernah pindah, hal itu membuat Frans sedikit bingung. Dia meneliti penampilannya tetapi tak dirasa ada yang salah, bahkan dia terlihat sangat tampan.
"Kenapa?" tanya Ezra menyadari kebingungan Frans.
"Anak lu Zra, liatin gue begitu amat," ujar Frans.
Ezra melihat arah pandang sang putra, tangannya menggeser sedikit tubuh Frans tetapi mata sang putra tidak bergerak.
"Coba lu berdiri." Titah Ezra.
Frans menurut, dia berdiri tetapi lagi-lagi arah pandangan itu tak berubah. Malah kini semakin serius dengan kening yang bergelombang membentuk sebuah kerutan.
Ezra mengusap wajah Sky, anak itu tersadar dan menoleh pada sang papi.
"Sky sedang lihat apa?" tanya Ezra dengan pelan.
"Anakna nakal, cuka pukul kepala om Ans," ujar Sky.
Ezra semakin bingung, dia melihat Frans yang tampaknya juga kebingungan.
"Abang, coba abang liat ... kenapa adek terus liat kesana," ujar Ezra pada putra sulungnya itu
Elang turun dari sofa, dia melihat tatapan asiknya dan mengarahkan tatapannya pada hal yang menjadi pusat perhatiannya.
"Jangan di liatin dek, cudah sini main cama abang," ujar Elang dan membawa adiknya turun main bersamanya dan juga Bentley.
Ezra dan Frans saling tatap, mereka menggaruk kepala mereka. Frans pun kembali duduk dan berbincang hal lain untuk mengalihkan perhatiannya.
"Ku kira kau akan membawa anggota keluarga baru Zra," ujar Frans.
"Tidak, cukup Sky yang terakhir. Aku tidak tega melihat Lia kesakitan, dan jika nanti kami memiliki anak lagi pastinya kita akan membagi kasih sayang. Aku ingin fokus pada keduanya dulu," ujar Ezra.
Frans menganggukkan kepalanya, begitu pula dengan dirinya yang masih belum berpikir untuk yang kedua. Menurutnya, Bentley masih sulit untuk di atur. Jika memiliki anak lagi, bisa-bisa dia akan terus kewalahan dengan tingkah Bentley.
"Oh iya, bagaimana keadaan Gibran? apa dia sudah terbangun dari koma?"
"Itu ...,"