
"Ravin, Raffa mana?" tanya Amora sambil memegang nampan berisikan tiga botol susu.
Ravin yang melihat botol susu segera mendekati sang mommy, dia memegangi ujung kain piyama Amora sambil menunjuk botol susu.
"Mommy cucu, cucu Lavin," seru Ravin.
"Iya, iya ... panggil Raffa dulu sana. Mommy tunggu disini," ujar Amora.
Ravin segera berlari ke luar kamar, tujuannya saat ini adalah mencari Raffa.
"LAFFA! LAFFA! LAFFA MANA CIH, DI CALI NDA ADA. OLANG MAU MINUM CUCU DUGA," teriak Ravin.
Ravin terus berjalan mencari Raffa, dia menggerutu kesal karena sedari tadi Raffa tidak juga ketemu.
Setelah mencari ke penjuru mansion, Raffa tidak jiga di temukan. Ravin melemaskan bahunya, dia kembali ke kamarnya dan membuka pintu dengan tangan kecilnya.
"Mommy Laffana ...," Ravin menjatuhkan rahangnya ketika melihat Cia dan Raffa tengah tiduran di kasur dengan menyedot botol susu.
"Dari mana aja, udah sini naik ke kasur. Udah hampir jam sepuluh malam, nanti daddy pulang lihat kamu belum tidur habis kamu di omelin daddy," seru Amora.
Ravin masih menatap ke arah Raffa tak percaya, dia bahkan mencari Raffa ke seluruh mansion. Namun, bocah itu sama sekali tidak ada, bahkan kaki Ravin sampai pegal di buatnya.
"Kenapa bengong? gak mau minum susu? yaudah mommy bawa lagi ke dapur," ujar Amora menjahili putranya.
Ravin melengkungkan bibirnya ke bawah, dia mendekati sang mommy dan mengambil kasar botol yang Amora sodorkan.
"Mommy tenapa cih hiks ... cali gala-gala mulu cama Lavin hiks," ujar Ravin ketika mendapat susunya.
Amora terkekeh melihat sang putra yang sudah mengeluarkan air mata andalannya, dia mengangkat tubuh Ravin dan membaringkannya di sebelah Cia yang kebetulan ada di samping Raffa.
"Iya, maafin mommy yah ... udah Ravin tidur." ujar Amora sambil mengelus rambut putranya itu.
Ravin menyedot susunya, sedangkan kedua bocah di sampingnya sidah tertidur dengan botol susu yang sudah kosong.
Amora mengambil kedua botol kosong itu, dia menaruhnya di nakas dan mengambil pacifier agar kedua anak itu tidak mengemut jempol mereka karena bisa saja jempol mereka terdapat kuman.
"Hiks ... mau daddy," lirih Ravin setelah melepas dotnya.
"Daddy kan masih di kantor, Ravin tidur saka mommy dulu yah," ujar Amora karena biasanya Ravin selalu tidur ketika Alden menggendongnya dan mengayunkannya.
Ravin mengangguk, sedari tadi kakinya tidak bisa diam. Amora mengerti jika putranya sangat ingin di ayun, untuk itu Amora menggendong Ravin dan sedikit mengayunkannya.
Ravin menaruh kepalanya di pundak sang mommy, dia masih menyedot botol susu yang tersisa setengah.
"Mommy," ujar Ravin dengan suara teredam akibat dot yang masih berada di mulutnya.
"Kenapa?" tanya Amora sambil menepuk b0kong sang anak.
"Kapan kita jenguk dedek kembal? dali kemalin daddy bilangna becok-becok telus, campe tikus telbang duga pacti bilangna becok," adu Ravin.
Amora terkekeh pelan, entah dia sangat menyukai kecadelan putranya. Sempat dulu Elbert cadel seperti Ravin, dia dan Alden membawanya ke dokter untuk pemeriksaan terhadap Elbert. Ternyata saat umur Elbert 6 tahun, kecadelannya hilang sehingga Amora merasa kehilangan.
Sedangkan si kembar, kecadelan mereka hanya sampai umur 3 tahun. Begitu pula dengan Aurora dan Laskar, bahkan merek jauh lebih cepat lancar dalam hal berbicara.
Lahirnya Ravin, dia tak pernah menduga jika Ravin adalah copy-an Elbert. Rindu nya pada Elbert saat kecil dulu terobati dengan adanya Ravin. Sosok manja, tetapi galak itu yang Amora suka dari putranya berbeda dengan yang lain yang terlalu mandiri.
"Mommy, kapan abang El pulang? katana kalau pulang bawa dedek bayi, kakak Lia duga pulang bawa dedek bayi," tanya Ravin.
"Hm ... mommy gak tahu, besok kita teloin abang yah. Kalau sekarang jangan," ujar Amora.
"Tenapa?" tanya Ravin sambil memiringkan kepalanya menatap sang mommy.
Amora bingung menjelaskan, dia hanya menepuk punggung kecil putranya sambil memikirkan jawaban yang pas.
"Nanti bangaunya gak jadi bawa dedek," ujar Amora.
Ravin menyerahkan botolnya yang sudah kosong, Amora pun menaruhnya di nakas dan kembali menimang Ravin.
"Lavin mau cama daddy," cicit Ravin yang kini bersandar pada bahu Amora.
"Sebentar, mommy telpon daddy dulu," ujar Amora.
Saat Amora berbalik, dia melihat Alden yang ternyata berdiri di ambang pintu. Suaminya sudah pulang, tetapi dia sama sekali tak mendengar bunyi langkah sepatu.
"Mas," ujar Amora.
Alden mendekati istrinya, dia melipat lengan kemejanya hingga ke siku dan mengambil Ravin dari gendongan Amora.
"Kenapa kau sangat manja boy? kasihan mommy," ujar Alden pada putranya yang tengah menyandarkan diri pada dada bidang nya.
"Calahna daddy lama pulangna," gerutu Ravin.
Alden menggelengkan kepalanya, netranya menatap kedua bocah yang tengah tertidur pulas.
"Mereka gak rewel?" tanya Alden sambil melirik Cia dan Raffa.
"Nggak, yang rewel ya pastinya anak kamu tuh. Anak aku mah gak rewel," ujar Amora dengan senyum mengembang.
Alden mendelik tidak terima, sekali saja jika Ravin berbuat ulah maka Ravin akan menjadi anaknya. Namun, jika Ravin sangat nurut pasti akan berucap putra istrinya.
"Kan buatnya bareng, masa anak aku doang?" tak terima Alden.
"Kan kamu yang kerja sendiri ... udah ah, aku mau tidur," ujar Amora dan keluar dari dalam kamar anak-anak.
Alden membulatkan matanya tak percaya, netranya tak sengaja melihat Ravin yang juga tengah menatapnya.
"Punya ictli tantik halus ekstla cabal daddy, gitu kata om Alsel," ujar Ravin.
Alden menghembuskan nafas lelah. "Arsel lagi, Arsel lagi, tuh orang gak ada wujudnya masih aja bisa cuci otak anak gue," gumam Alden.
Selang setengah jam, Ravin oun sudah tertidur pulas. Alden membaringkan Ravin di kasur dengan hati-hati, setelahnya dia mengambil boneka Ravin yang berada di kepala Cia dan memberikan pada Ravin agar putranya itu memeluknya.
"Tidur yang nyenyak yah, siapa tahu besok dapet kabar Ravin jadi abang," bisik Alden.
Alden pun keluar dari kamar anak-anak menuju kamarnya, setelah memasuki kamarnya Alden juga melihat istrinya yang tengah bermain ponsel.
"Sayang," panggil Alden dan kembali menutup pintu.
Amora yang melihat Alden telah memasuki kamarnya segera menaruh ponsel dan merebahkan dirinya. Dia menarik selimut dan membelakangi Alden.
"Sayang, kok tidur sih!" kesal Alden.
"Sayang!" kesal Alden.
Amora membalikkan badannya, dia menatap Alden dengan kesal.
"Apa sih?" tanya Amora.
"Jatah aku?" tanya Alden dengan wajah berbinar.
Amora mengerutkan keningnya, dia mengambil kalender yang ada di nakas dan menyerahkannya pada Alden.
"Coba liat sekarang tanggal berapa?" tanya Amora.
Alden melihat tanggalan, tatapannya tertuju pada tanggal yang di lingkari oleh spidol merah.
"Datang bulan?" beo Alden
udah up part ravin nih, awas aja nda di like?boto