
Hari ini adalah hari yang di tunggu, Aqila dan Frans kini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Suara keramaian pun mulai terdengar kala Frans mencium kening Aqila dan memakaikan wanita itu cincin berlian.
"Terima kasih, terima kasih kau telah menjadi istriku. Terima kasih kau telah menerimaku kembali." ujar Frans sambil menggenggam kedua tangan Aqila dengan netra yang tak lepas dari wajah cantik istrinya itu
"Hm," dehem Aqila.
Aqila melepas tangan Frans, dia segera duduk yang mana membuat Frans tersenyum sendu. Aqila hanya terpaksa menikah dengannya karena bayi mereka. Frans akui jika Aqila masih sangat membencinya.
Bukan hanya mereka yang menikah, tetapi Ezra dan Lia pun sama. Hanya saja mereka menikah kembali dan mengadakan resepsi karena sebelumnya pernikahan mereka tersembunyi dari publik.
"Apa kau lapar?" tanya Frans memecah keheningan.
"Tidak," cuek Aqila.
Frans hanya menghela nafasnya, dia menatap Ezra dan Lia yang tersenyum bahagia. Dirinya ingin seperti itu juga, merasa bahagia di hari spesial.
Ane dateng bersama Geo, mereka tersenyum menatap Frans dan Aqila. Kedua pengantin itu pun berdiri dan memeluk masing-masing daru kedua orang itu.
"Selamat yah sayang, mamah harap kamu bisa membahagiakan istrimu dan anakmu kelak. Jangan sakiti Aqila lagi, ingat pesan mamah," ujar Ake yang kini sedang memeluk Frans.
Ane melepas pelukannya, dia beralih memeluk Aqila yang tengah berkaca-kaca menatapnya.
"Kamu bahagia sayang?" tanya Ane sambil mengelus punggung Aqila.
Aqila melepas pelukannya, dia tersenyum dan mengangguk bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Netra Aqila tak sengaja menatap sang ayah yang baru saja mendekatinya, dia langsung berjalan mendekati sang ayah dan memeluknya erat.
"Jangan menangis sayang, ini hari bahagiamu," bujuk Gio.
Aqila tetap menangis, untuk itu Gio menjauhkan wajah putrinya dan mengecup kening putrinya cukup lama.
"Kau tetap akan menjadi kesayangan ayah, samapi kapanpun. Hubungi ayah jika dia menyakitimu," ujar Gio yang tengah tersenyum haru menatap sang putri.
Aqila mengangguk, dia melepaskan pelukannya pada sang ayah. Selanjutnya Gio berjalan mendekati Frans, dia memeluk ala pria dengan Frans.
"Jaga putriku dan calon cucuku, aku percayakan semuanya pada kau. Ingat janji kita, tak ada kata selingkuh ataupun menikah kembali di saat putriku masih menjadi istrimu. Jika itu terjadi, akan ku pastikan kau akan kehilangan putriku dan juga cucuku. Jika suatu saat kau tak lagi mencintainya, jangan pukul dia. Kembalikan dia padaku, maka aku akan senang hati membahagiakan putriku tanpa dirimu," bisik Gio.
Frans melepaskan pelukan mereka, dia menatap dingin ke arah Gio.
"Bukankah sudah ku bilang jika aku pasti akan bisa membahagiakan putrimu? beri aku kesempatan untuk memberikan bukti itu padamu ayah mertua," tegas Frans.
Gio tersenyum, dia menepuk bahu Frans beberapa kali. Hatinya akan mencoba tuk percaya pada ucapan Frans, dirinya hanya ingin putrinya bahagia.
"Yah, aku percaya. Kalau begitu ayah akan menemui kolega ayah sebentar yah," ujar Gio dan berlalu dari sana.
Ane dan Geo pun telah pergi, kini hanya kembali mereka berdua yang duduk di kursi pengantin dengan penuh kecanggungan.
Aqila mengalihkan pandangannya, dia menatap kedua adik bungsunya yang asik memakan kue. Sesekali dirinya terkekeh ketika melihat kelucuan sang adik.
"Wah, selamat bro!"
Seruan seorang pria membuat Aqila mengalihkan pandangannya, dia menatap bingung pria yang sedang memeluk Frans yang kini telah berstatus menjadi suaminya.
"Makasih, oh yah ... tante mana?" tanya Frans setelah pelukan mereka lepas.
"Lagi ketemu sama tante Ane, oh ya kenalin dong ama istrinya," ujar pria tersebut.
Frans tersenyum, dia menatap istrinya yang sedang sibuk mengobrol dengan temannya yang baru saja datang.
"Love, ini ada adik iparmu," panggil Frans.
Aqila menoleh, senyumannya masih terukir. Namun, saat netranya menatap pria yang Frans maksud adik iparnya seketika senyum Aqila luntur. Wajahnya terkejut mendapati jika pria itu adakah Elvio pria yang dia kenal.
Frans menatap bingung istrinya dan juga Elvio, dia heran mengapa dua orang ini begitu terkejut.
"Hei, ada apa? mengapa kalian diam seperti ini?" heran Frans.
"Hm ... selamat kaka ipar, perkenalkan aku adalah Elvio. Adik sepupu dari suamimu," ujar Elvio.
Aqila hanya mengangguk dan tersenyum paksa, bahkan dia tak mendapati tatapan aneh dari Frans.
"Kalian sepertinya saling mengenal?" ragu Frans.
Elvio tertawa sumbang, dia menatap Frans dan berpamitan dengan kaka sepupunya itu dengan alasan jika ada keadaan darurat di rumah sakit.
"Ada apa dengannya? kenapa dia begitu aneh?" gumam Frans.
Sedangkan Aqila, wanita itu kini merasa bersalah karena pernah membohongi Elvio dengan statusnya.
"Jujur padaku, kenapa sikapmu dan dia sanga aneh? apa sebelumnya kalian saling mengenal?" curiga Frans.
Aqila tampak tak menjawab sehingga Frans berdecak sebal.
"Aku ... aku lapar," lirih Aqila mengehentikan kecurigaan Frans.
"Kau lapar? baiklah aku akan mengambilkanmu makanan," ujar Frans dan akan beranjak dari sana hanya saja Aqila menahan lengan suaminya.
"Jangan! panggilkan saja pelayan," cegah Aqila.
"AKu harus memastikan makanan yang kamu makan, kau telah menjadi istriku dan sekarang aku bertanggung jawab dengan apa yang kamu makan," ujar Frans dengan senyum tipis di bibirnya.
Aqila mengangguk pasrah, dia melepaskan tangannya pada lengan Frans. Setelah di rasa Aqila tak menghalanginya, Frans pun langsung pergi untuk mengambil makan sang istri.
"Waw, aku tak menyangka jika kau akan menjadi kakak iparku,"
Aqila terkejut mendengar suara yang sangat dekat dengan dirinya, spontan dia menolehkan kepalanya.
"Elvio kau?" kaget Aqila.
"Tak usah kaget begitu, aku kembali hanya ingin memberikan hadiah ini untukmu. Ambillah!" titah Elvio sambil memberikan sebuah kotak berwarna biru.
Aqila menerimanya dengan ragu, dia tersenyum menatap kotak tersebut.
"Anggaplah ini sebagai hadiah pertemuan kita," ujar Elvio.
"Terima kasih," tulus Aqila.
"Yasudah, gue balik ke rumah sakit," ujar Elvio.
Setelah nya Elvio pun pergi meninggalkan Aqila yang memandang takjub pada kotak tersebut.
"Dari siapa itu?" tanya Frans yang baru saja tiba dan melihat sang istri yang tengah tersenyum.
Aqila segera meruntuhkan senyumnya, dia menutup hadiah yang Elvio kasih dengan kedua tangannya.
"Bukan apa-apa, oh yah ... mana makananku?"
"Ini, aku akan menyuapimu," ujar Frans dan duduk di sebelah sang istri.
Aqila hanya menurut saja, dia membuka mulutnya ketika Frans mengarahkan sendok tersebut ke mulutnya.
"Kenapa rasanya aneh?" gumam Aqila.
"Yah karena aku menambahkan vitamin serbuk pada makananmu, hari ini pasti akan sangat melelahkan dan aku tak ingin perutmu akan keram untuk itu aku akan memantau pertumbuhan calon anak kita beserta kamu," terang Frans.
Aqila tersentak, apakah sebegitu khawatir dan sayangnya Frans pada calon bayi mereka? bukankah dulunya Frans sangat membenci anak yang dia kandung saat ini.
Frans yang sedang sibuk memotong lauk untuk Aqila seketika terhenti saat menyadari jika istrinya itu terdiam.
"Kenapa? apa makanannya tidak enak? aku bisa mengganti nya jika kau tak suka," khawatir Frans.
"Tidak, aku suka. Suapkan lagi," pinta Aqila dan membuka mulutnya.
Frans pun dengan senang menyuapkan kembali istrinya itu, berbeda dengan kedua pasangan yang menatap mereka dengan ekspresi berbeda.
"Mau dong di suapin, sayangnya ounya suami gak peka," ujar Lia.
"Kan biasanya juga aku suapin, apalagi kalau kamu mau jatah juga aku peka kan?" heran Ezra.
Entah bagaimana, Lia sangat ingin menabok wajah Ezra saat ini juga apalagi wajah menyebalkan itu membuat perutnya begejolak.
"ITU MAH NAPSUNYA KAMU!" sentak Lia yang membuat Ezra kelimpungan pasalnya semua tamu mengarahkan atensinya pada mereka termasuk Frans dan Aqila.