
Club **
Aku mendesah lelah, sebenarnya aku kurang suka melakukan pentemuan di sebuah club. Tapi demi menghormati klien, mau tidak mau aku menyetujuinya. Padahal banyak restoran yang bisa digunakan. Kenapa harus ditempat yang lebih banyak merusak orang dari pada menyelesaikan masalah, dan tidak biasanya pihak PT. Angkasa meminta meeting di tempat ini. 10 tahun aku menjalani bisnis ini dan selama itu pula aku menemui berbagai orang dan sifatnya.
Seperti bukan mereka saja, aneh.
Baru aku melangkahkan kaki memasuki Club membuat telinga ku berdengung, pusing lebih tepatnya. Aku bergegas memasuki ruangan VIP di Club tersebut agar telingaku terselamatkan. Disana terlihat Pak Danu dan Siska sedang menungguku, aku menghampiri mereka sambil tersenyum ramah seperti biasa. Siska terlihat memakai baju yang cukup terbuka, seperti bukan pertemuan. Apa dia usai menghadiri pesta?
“Selamat malam Pak Danu, maaf telah membuat anda menunggu lama.” Seraya mengulurkan tanganku padanya.
“Ah tidak, kami juga baru 10 menit sampai.” Sanggah Pak Danu menyambut uluran tanganku.
Aku melihat Siska dan menyapanya. “Siska, bagaimana kabarmu?? Kau terlihat berbeda.” Aku tersenyum padanya dan memberikan penilaianku.
“Baik Jack, apa terlihat buruk?” Ucap Siska menunduk.
“Tidak, bukan begitu. Kau cantik, maksudku... kau berbeda dari biasanya. Dan aku lebih menyukai tampilan sederhana mu yang lebih anggun.” Aku berusaha untuk tidak menyinggung nya dengan perkataanku yang mungkin baginya ambigu.
Pipi Siska merona merah, entah tersanjung atau tersinggung dengan perkataanku. Sungguh aku tidak pandai merayu jika bukan pada Maya, istriku.
“Terima kasih Jack.” Jawabnya dengan senyum merekah.
Aku merasa lega, berarti aku tidak menyinggungnya.
“Ah, bagaimana dengan luka dilenganmu? Apa sudah sembuh?”
“Sudah sembuh, karena lukanya tidak dalam, tidak perlu khawatir.”
Pak Danu tersenyum melihat interaksi aku bersama Siska, entah apa yang ada difikirannya sedikit menggangguku. Tapi melihat senyumnya membuatku merasakan firasat buruk, entah apa itu.
“Baik tuan Jack mari kita mulai pembahasannya.” Pak Danu memudarkan lamunanku.
“Siska tolong ambilkan kami minum, Tuan Jack ingin minum apa?” Tawar Pak Danu padaku.
“Hm, kopi saja! Terima kasih.”
Siska segera pergi meninggalkan kami untuk mengambil minuman.
Aku menyeruput kopi sambil mendengarkan penjelasan pak Danu tanpa terasa 1 jam berlalu, sampai di penghujung pembahasan kami tiba-tiba kepalaku pening. Rasa kantuk menerpaku, rasa kantuk yang amat sangat.
Aku menggelengkan kepala lalu memijat pangkal hidungku. Mataku benar-benar berat.
Siska memperhatikan tingkah anehku. “Jack kau baik-baik saja?” Siska bertanya dengan khawatir.
Seringai terlihat samar di ujung bibir pria itu. “Lebih baik kau menginap disini Jack! akan ku pesankan kamar untukmu.” Pak Danu berdiri dan bergegas pergi meninggalkan ku yang semakin kehilangan kesadaran.
Aku masih mendengar ucapan Pak Danu tadi, aku tidak ingin menginap di tempat ini, dengan sekuat tenaga aku berusaha menyadarkan diri. "Tidak... Jangan..." Namun akhirnya aku kalah dengan rasa kantuk amat sangat, hanya Suara Siska memanggil-manggilku yang terdengar untuk terakhir kali.
🌷🌷🌷
Cahaya matahari menerobos masuk meski terhalang gorden membuat ku terbangun karena kilauannya. Aku menggeliat, mengerjap dan menyipitkan mata mencoba membuka mataku yang tertutup rapat. Aku mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan.
Ini buka kamar ku!
Aku bangun dari pembaringan hingga sontak mataku melebar ketika aku melihat Siska tertidur di sampingku dalam satu ranjang, berbalut selimut entah dia memakai pakaian atau tidak karena punggung tubuhnya terbuka. Jantungku bergemuruh, mukaku pias pucat pasi saat aku menyingkap selimut pada diriku. Tidak ada sehelai benang pun menutupi tubuh ku.
Damn!!
Apa yang terjadi semalam? Aku sama sekali tidak mengingatnya.
Aku bergegas bangun meraih bajuku yang berserakan dilantai.
Ini tidak mungkin, tidak mungkin terjadi apa-apa. Aku menggelengkan kepala dengan nafas tercekat.
Aku mencari ponsel didalam jas ku, terdapat 20 panggilan dari Maya. Dan sekarang sudah pukul sepuluh pagi, Maya pasti mengkhawatirkan ku tidak pulang semalaman.
Oh tidak, kenapa bisa begini?!
Aku mengusap kasar rambutku. Disela kekhawatiran ku Siska terbangun, aku menghampirinya. Dia terdiam, aku duduk disampingnya.
“Siska, kamu pasti ingat apa yang terjadi malam itu. Yang terakhir aku ingat adalah kita sedang meeting di ruang VIP sebuah club dan aku... aku tidak ingat lagi. Aku tidak melakukan apa-apa kan padamu? Siska jawab aku!” Aku memegang kedua bahunya menarik pandangannya agar melihat kearahku.
Please rate, vote dan likenya ya..!!
Enjoy!