My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 28



Kediaman Jack Adinata 


KLAP 


Aku segera memasuki rumah setelah menutup pintu mobil. Saat sampai diruang keluarga aku melihat Mia dan Catherine yang sedang bercengkrama dan bercanda bersama tapi aku tidak melihat Maya disana. Mia yang menyadari kehadiranku langsung menghampiri dan memelukku.


“Daddy sudah pulang!” Mia bersorak kegirangan sambil bergelayut manja di lengan kiri ku.


“Iya Daddy sudah pulang, Mommy mana sayang?” Tanyaku pada Mia 


“Mommy-“


“Kakak sedang tidur, katanya sedang tidak enak badan. Jadi lebih baik jangan diganggu!” Catherine menyela tanpa melihat wajahku.


Aku menatap Mia dan dia pun menganggukkan kepala. Tanda mengiyakan kata-kata Catherine.


“Daddy disini saja sama Mia, Mommy baru aja tidur,” Tawar mia.


“Baiklah, tapi Daddy ganti baju dulu.” Jawabku.


“Daddy jangan ganggu Mommy ya!” Ancam Mia.


“Siap!” Dengan cepat aku menjawab, aku tidak hanya ganti baju tapi ingin melihat keadaan Maya. 


Aku beranjak pergi dari ruang keluarga menaiki anak tangga menuju kamar. Dengan pelan aku memutar gagang pintu dan mendorongnya, melangkah mendekati ranjang. Terlihat Maya yang sedang tertidur membelakangiku, meringkukkan tubuhnya seperti orang yang kedinginan.


Mengapa tidak memakai selimut? 


Aku menaiki ranjang ikut berbaring dan menyelusupkan tanganku untuk memeluknya dari belakang, aku mengecupi puncak kepalanya sambil merapalkan kata maaf.


“Maaf sayang, apakah aku mengabaikanmu hingga kau sakit begini?” Aku mengeratkan pelukan, membenamkan kepalaku ke ceruk lehernya menghirup aroma Maya yang selalu memabukkanku. “Jangan pernah tinggalkan aku, Maya.” Ucapku lirih. Tanpa aku ketahui bulir-bulir airmata menetes dari ujung mata Maya yang terpejam. 


🌷🌷🌷


Pasti dia mengganggu Kak Maya! Batin Catherine kemudian menengok kearah Mia yang juga tertidur di sofa. 


“Aku tidak kuat jika harus menggendong Mia.” Gumam Catherine kemudian mendesah pelan. “Sudah lah biar saja tidur di sofa, aku juga mengantuk.” Catherine ikut-ikutan tidur di sofa menemani Mia.


🌷🌷🌷


Pukul 18.00 Maya terbangun dari tidurnya, ia merasakan badannya berat seperti ada yang menindihnya. Saat ia menengok kesamping terdapat Jack yang tertidur sambil memeluk pinggangnya. Ia menatap nanar pada Jack, Maya pun akhirnya melepaskan pelukan Jack.


Ia pindahkan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya secara perlahan agar tidak membangunkan Jack.


Menuruni ranjang dengan pelan dan berjalan keluar kamar. Tubuhnya luruh dilantai ketika ia menutup pintu, badannya bergetar menahan sembilu yang menghujam jantung. Ia pun tidak menahan air mata yang sedari tadi terbendung, kini mengalir deras membasahi pipi. 


Sakiitt... kenapa sesakit ini Tuhan....? 


Maya berusaha mengatur nafasnya, menghirup dan dihembuskan berusaha menghilangkan rasa nyeri di dada. Bangkit dari ratapannya dan mengusap air mata yang terus mengalir, berjalan gontai menuruni tangga menuju dapur untuk memasak makan malam hari ini. 


Ketika melewati ruang keluarga Maya melihat Mia dan Catherine yang tertidur di sofa, Maya mendekat kearah Mia dan berjongkok Disampingnya. 


“Kamu adalah kekuatan untuk Mommy sayang.” Ucap Maya lirih sambil menahan air mata yang seolah tidak ada habisnya. Maya menutup mulutnya menahan isak dan segera bangkit meninggalkan Mia, berjalan setengah berlari dan berhenti di samping pantry.


Menopang badannya yang rasanya tidak bertulang pada meja kemudian berjongkok dan menundukkan kepala pada lutut, memeluk tubuhnya sendiri meresapi rasa sakit yang mengganggu. Hanya do’a yang terus dia rapalkan sambil terus meyakinkan diri, bahwa semuanya adalah ujian. 


🌷🌷🌷


“Sayang...” Panggilku pada Maya yang tidak ku temukan di sampingku. Aku bangun dan duduk di tepi ranjang mengumpulkan kesadaran ku dari rasa kantuk. Aku mengedarkan pandangan di seluruh sudut kamar.