
"Kau tau hatiku untuk siapa, kau tau bagaimana aku karena kita saudara," Catherine melerai pelukan, mendongakkan kepalanya dan menatapku.
"You know me," Ucapku kembali sambil tersenyum.
Catherine melengkungkan garis bibirnya menyambut senyumanku dengan senyuman yang lebih indah. "I know, because you are my brother," Kami pun berpelukan kembali melepas rindu karena pertikaian kami akhir-akhir ini membuat kami seperti orang lain.
Pelukan kami terlepas saat seseorang dengan paksa menarikku. "Jack, kau meninggalkanku sendiri di ruang dokter dan kini kau berpelukan dengan wanita lain!" Siska menatapku dengan nyalang.
Catherine menatap Siska dengan cemooh, Siska menyadari itu segera menghampirinya. "Dengar! Jangan menggoda calon suamiku. Sudah tidak laku kamu hah?" Siska mengacungkan jarinya di depan wajah Catherine.
Aku terbelalak dengan kata-kata siska yang sungguh kasar, tidak seperti dirinya yang kukenal selama ini. Apa ini watak aslinya?
"Cukup siska! Kita sudahi semua sandiwara ini." Aku menjauhkan Siska dari Catherine.
Siska menatapku penuh tanya. "Sandiwara? Apa maksudmu Jack?"
"Aku sudah tau semuanya, tentang malam itu bahwa tidak terjadi apapun. Baru saja kamu melakukan tes keperawanan dan hasilnya kau masih virgin," Rahangku mengeras menahan amarah. "Kau berbohong padaku, memaksaku untuk menikahimu!"
Siska terhenyak dia tidak menyangka jika kebohongannya akan terungkap secepat ini, Siska bergetar karena rasa takut menyerbunya. Ketakutan akan Jack yang meninggalkannya kini benar-benar akan terjadi, Siska berusaha menggapaiku tapi aku menghindar.
"Maaf... Maafkan aku Jack. Aku... aku melakukannya karena aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu, menjadi istrimu... aku mohon maafkan aku," Siska mengiba dengan wajah memelas memohon padaku agar memaafkannya.
"Aku akan memaafkanmu, tapi dengan syarat jangan pernah ganggu hidupku lagi!" Siska kehabisan kata mendengar ultimatum dariku tapi dia tidak bisa menerimanya.
Sedangkan aku hanya bisa tersenyum sinis. "Tidak ada pernikahan, karena tidak ada yang mesti aku pertanggung jawabkan,"
Tubuh siska luruh hingga ia terduduk di lantai, aku menahan rasa iba ku padanya "Jadi... selama ini, semua perhatian dan ucapanmu mau menikahiku hanya kebohongan semata?" Siska mendongakkan kepalanya dan menatapku, air matanya mengalir deras. "Tidak adakah tempat sedikit saja untukku dihatimu?"
Pertanyaan aneh yang sudah jelas jawabannya. Catherine yang melihat pertikaian kami menjadi gemas, dia tidak menyangka wanita seperti siska sanggup menjebak kakaknya hanya atas dasar cinta.
Omong kosong!!
"Kakak ku sudah memiliki istri yang sempurna, untuk apa menikah lagi? Lagi pula apa perlu pertanyaan tadi aku lempar balik padamu? Sudah tidak laku kamu hah?!"
Catherine berkacak pinggang sambil menampilkan wajah sombongnya. "Sudah kak, tidak perlu menghiraukan dia lagi. Ayo kita pulang!!" Ia merangkulku dan menarikku untuk meninggalkan siska yang terduduk di lantai.
Siska terkejut saat tau jika wanita yang tadi dia hardik adalah adiknya Jack, ia pun tersenyum miris, bodoh!!
Siska masih terus memandang Jack yang pergi meninggalkannya, padahal tadi pagi dia masih bermesraan dengan Jack. Tapi kini jangankan bermesraan, menengok padanya lagi pun tidak.
Ponsel Jack berdering saat sampai di lobby RS, panggilan dari Tomi. Aku meminta Catherine pulang terlebih dahulu.
"Awas jika kau menghampiri wanita itu lagi!" Ancam Catherine seraya memberi kepalan tangan padaku. Aku hanya terkekeh menanggapinya dan Catherine pun pergi meninggalkanku.