My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 69



Rumah Sakit***


"Selamat, Nyonya hamil 6 minggu. Minum vitaminnya secara teratur dan istirahat yang cukup. Jangan bekerja yang berat-berat ya Nyonya, hingga tri semester pertama terlewati." Dokter berpesan.


Maya diam tidak bergeming, ia masih takjub dengan apa yang baru saja ia dengar. Di dalam tubuhnya telah tumbuh janin, penantian lama kini berbuah hasil. Tanpa terasa Maya menitikkan air mata, tangannya meraba perut dengan lembut.


Nyonya Caroline tersenyum senang, ia mengucap terima kasih pada Dokter cantik di depannya itu kemudian memeluk Maya erat. Maya terhenyak ketika sadar dari rasa takjubnya.


"Selamat honey... Ah Ibu benar-benar bahagia, keluarga kita akan ada anggota baru lagi," Nyonya Caroline merangkul Maya. "Sekarang ibu tau alasan suamimu bertingkah aneh, ini pengaruh dari janin yang kamu kandung!"


Maya mengerjapkan mata. "Maksudnya ngidam bu? Tapi waktu Mia, Jack tidak begitu,"


"Setiap kehamilan tidak selalu sama efeknya," Nyonya Caroline mengajak Maya pulang. "Ayo kita pulang, keluarga kita harus tau kabar bahagia ini... terutama suamimu!"


Mereka pun pamit pada Dokter untuk pulang, sepanjang perjalanan Nyonya Caroline tidak berhenti tersenyum. Maya senang dan tidak sabar menantikan ekspresi Jack ketika mengetahui berita kehamilannya.


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata


Sudah 30 menit aku terjaga dari tidur, aku sempat panik tidak mendapati keberadaan Maya di setiap sudut rumah. Saat Catherine mengatakan Maya pergi dengan Ibu aku bernafas lega. Aku jadi sedikit trauma jika tidak melihat Maya barang sebentar saja.


Aku duduk gelisah di kursi makan, kenapa Maya tidak kunjung pulang. Hatiku rasanya tak tenang, pandanganku tidak lepas pada pintu utama.


"Pintu itu tidak akan berubah wujud menjadi kak Maya, meski kau menatapnya sampai pagi." Catherine berjalan mendekati kulkas dan mengambil apel disana.


Aku menatap malas pada Catherine "Lebih baik memandang pintu dari pada memandang mu!" Jawabku ketus.


"Hahaha, lucu sekali," Catherine meninggalkanku dengan perasaan dongkol.


"Kenapa aku bisa punya adik sepertinya?" Gumam ku.


Catherine mendengar perkataan ku "Kau pikir aku mau punya kakak seperti mu? Kau tidak mirip dengan Ayah dan Ibu, kau pasti anak pungut!"


Aku terbelalak, mendengar itu hatiku perih sekali, lagi-lagi air mataku menetes.


"Benarkah aku anak pungut? Aku bukan anak Ayah dan Ibu?" Aku menunduk dan terus menangis.


Kenapa aku jadi cengeng begini?


Catherine melongo melihatku yang menangis, padahal ia hanya bergurau. Sudah kebiasaan kami seperti itu, saling mengejek satu sama lain dan tidak pernah ada yang tersinggung.


"Kakak, kau menangis?"


"Aku bukan kakakmu!! Kau bilang aku anak pungut..."


"Ah.... aduh... kau tau itu hanya bercanda. Biasanya juga kau mengejekku lebih dari itu, ada apa dengan mu?" Catherine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung menghadapi kakaknya yang menangis sesegukan.


"Cepatlah pulang kak Maya... Ini benar-benar diluar kemampuanku!" Batin Catherine.


Beberapa menit kemudian Maya dan Nyonya Caroline sampai rumah, mereka dikejutkan dengan pemandangan luar biasa aneh. Aku yang menangis tersedu-sedu, Catherine yang membujuk kakaknya untuk berhenti menangis dengan menepuk-nepuk punggungnya.


Aku masih tidak bergeming, masih setia dengan tangisanku. Maya melihat itu langsung mendekat dan menangkupkan tangannya ke pipiku, aku mendongak menatap Maya.


"Hei, kalau nangis terus nanti malu loh sama dede bayi."


"Apa?"


"Selain menjadi menyebalkan dan cengeng... Kau juga jadi lambat berfikir," Sahut Tuan Adinata.


Catherine berseru senang "Kakak, kau hamil?" Maya hanya tersenyum menanggapi.


"Hamil?" Aku masih mencerna kata-kata itu, aku memastikan kembali "Mommy hamil?"


Maya menganggukkan kepala. Aku mendadak menjadi orang bodoh.


Maya hamil... Hamil!!!.


Kesedihanku lenyap, tergantikan oleh kebahagiaan tidak terkira. Aku bangkit dari tempat duduk dan langsung memeluk erat Maya. Aku mengecupi seluruh wajah Maya, hingga mencium dalam bibir mungilnya.


"Aku sangat bahagia, terima kasih sayang!" Bisikku.


"Hei, di dalam kamar saja sana!" Catherine protes. Maya langsung memalingkan wajahnya malu.


"Ibu sini, Ayah mau cium juga," Ucap Tuan Adinata tidak ingin kalah dari anaknya.


Nyonya Caroline memukul punggung suaminya. "Tidak ingat umur, memalukan!!!" Tuan Adinata meringis merasakan ngilu di punggungnya.


"Ada apa neh? Mia tertinggal sesuatu ya?"


Aku menghampiri Mia sambil menggandeng Maya. Tepat di depan Mia aku mensejajarkan tubuh dengannya. "Mia, akan mempunyai adik!"


Mia membulatkan matanya dan tersenyum senang "Benarkah Daddy? Mommy aku akan punya adik?"


Aku dan Maya menganggukkan kepala serentak. "Yeay, aku punya adik. Aku harap baby boy!"


Hidupku kembali sempurna, bahkan lebih dari kata sempurna. Kini aku belajar banyak dari semua yang telah terjadi. Jangan pernah menganggap sepele semua hal, kejujuran yang paling penting dalam sebuah hubungan. Tidak akan ada rahasia diantara kami...


Ini bukan akhir dari kisah ku, justru awal lembaran baru hidupku...


My Perfect Life


END


Yeay, akhirnya end juga. semoga ga kentang ya!.


Sebenarnya pengen di bikin panjang, karena kisah Catherine cukup menarik. Aku suka karakter dia yang kuat (menurut aku loh ya). Tapi takut nanti malah menyimpang, belok kanan kiri jadi mending lurus adja (apa sih?).


Wait me di cerita selanjutnya, aku pengen bikin cerita lucu, tapi ga bisa... karena hidupku yang ga lucu banget!. lebih tepatnya berat (jadi curcol, eh?). see you next ya muach2 pokona mah buat yang udah baca!