
Maya tidak ada, apa mungkin di dapur?
Aku akhirnya memutuskan untuk membersihkan tubuh lebih dahulu baru mencari maya kembali mengingat aku belum mandi tadi seusai pulang dari kantor.
30 menit aku habiskan untuk mandi dan berpakaian. Aku mengenakan kaos dan celana pendek agar lebih santai jika dirumah, aku bergegas menuju dapur. Aku menuruni tangga dan melihat Mia dan Catherine yang tertidur di sofa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.00 saat itu. Aku menghampiri mereka dan berlutut di pinggir sofa.
“Cath... Mia.... bangun... kalian belum makan malam!” Aku menggoyang-goyangkan tubuh Catherine dan Mia.
Mia menyipitkan matanya, kemudian mengusap matanya karena kantuk yang masih ada. Sedangkan Catherine bangkit dari tidurnya langsung berjalan ke kamar dengan sempoyongan. Aku menghela nafas pelan, melihat sikap Catherine yang seolah menghindari ku.
“Daddy... aku ketiduran ya? Jam berapa sekarang?” Mia menguap.
Aku terkekeh. “Ya, Mia tidur seperti beruang! Lama sekali. Lihat sekarang sudah pukul 19.00.”
Mia membulatkan matanya “Ya ampun sudah malam!, Mia belum mandi,” Mia langsung berlari menuju kamarnya.
“Kalau sudah selesai langsung ke bawah! Daddy tunggu,” Seru ku.
“Siap Daddy!” Jawab Mia berteriak.
Aku tersenyum kecil melihat tingkah Mia, kemudian beranjak kearah dapur. Maya sedang berdiri di depan wastafel, tampak sedang mengeringkan piring. Aku mendekat dan memeluknya dari belakang, Maya terkesiap sesaat karena pelukanku kemudian melanjutkan mengeringkan piring. Aku mengeryit melihat respon Maya, ku coba menggodanya dengan mencium tengkuknya dengan lembut dan basah.
“Daddy, jangan disini. Nanti dilihat Mia.” Maya memberontak berusaha melepas pelukanku.
“Mommy kenapa?” Aku membalikkan tubuhnya menghadapku dan mengusap pipinya, aku meneliti wajahnya dan terlihat matanya yang sedikit sembab.
“Mata Mommy sembab? Mommy nangis?” Tanyaku khawatir.
“A...ah tidak Daddy, Mommy cuma tidak enak badan,” Jawab maya gugup dan menundukkan wajahnya.
“Kakak Maya tidak enak badan dari tadi siang, baiknya kakak Maya sekarang istirahat.” Catherine menyela kemudian duduk di kursi makan tanpa melihatku.
Aku menatap Maya meminta kejelasan. Maya yang mengerti maksudku langsung membuka suara.
“Iya tadi siang Mommy merasa sedikit pusing, tapi sekarang udah enakan kok.” Maya menuntunku ke kursi makan dan mendudukkan ku. “Sekarang Daddy makan ya, selagi hangat.” Maya mengambilkanku makanan dan tersenyum.
Tidak lama Mia pun bergabung untuk makan malam, selama makan malam berlangsung aku terus memperhatikan Maya yang tampak berbeda menurutku. Entah, seperti ada yang lain. Apa karena Maya sedang tidak enak badan? pikirku.
Usai makan malam Maya langsung pergi ke kamar, sedangkan Mia sedang belajar dengan Catherine. Akhirnya aku memilih pergi ke kamar menyusul Maya.
Maya sedang di depan meja rias saat aku memasuki kamar, aku menghampirinya setelah menutup pintu. memeluknya kembali, mengecupi puncak kepalanya berkali-kali.
“Mommy kalau sakit cerita sama Daddy, biar Daddy langsung antar Mommy ke rumah sakit.” Ucapku lirih sambil mengeratkan pelukanku.
Maya membalikkan tubuhnya melerai pelukanku kemudian menggenggam tanganku “Mommy tidak apa-apa Daddy, jangan khawatir. Mommy baik-baik saja,” Maya berucap setenang mungkin menahan gejolak di dadanya yang berteriak bahwa dia tidak baik-baik saja.
Aku tersenyum dan mengecup punggung tangannya “Daddy tidak mau Mommy sakit.”
“Iya, Mommy selalu sehat,” Maya tersenyum lembut. “Ayo tidur, sudah larut.” Maya menuntunku ke arah ranjang. Kami pun berbaring sambil berpelukan, aku mengusap-usap lengannya pelan.
“Hari minggu depan Daddy ada klien, gak apa-apa kan Mommy ditinggal sebentar?” Lagi-lagi berbohong, padahal aku pergi untuk melakukan tes keperawanan terhadap Siska.
Ya ini yang terakhir aku berbohong. Janjiku dalam hati.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!