
Maya menggigit bawah bibirnya merasakan desir nyeri di dadanya yang sedari tadi belum mereda, Jack tidak pernah keluar rumah pada hari libur. Ia selalu menghabiskan pekan dengan keluarga, tapi kini sudah yang ke-2 kalinya Jack keluar rumah di saat libur, apa untuk menemui Siska? Apa benar Jack sudah berpaling darinya? Ya Tuhan apakah dia sanggup untuk terus menahan sakit ini?
“Iya... tidak apa-apa Daddy.” Ucap Maya pelan, karena jika tidak Jack bisa mendengar isak Tertahannya.
“Terima kasih sayang, bulan besok akan ku tebus semua waktu yang terbuang tanpa mu disisiku.” Ujarku mantap sambil mengeratkan pelukanku.
Maya hanya tersenyum, ia tidak berani bersuara. Karena ia yakin tidak bisa lagi membendungnya jika ia bicara.
🌷🌷🌷
2 pekan sudah belalu, dan hari ini adalah hari penentuan, penentuan dari sandiwaraku. Apakah selama ini aku telah berselingkuh? Berkhianat di belakang maya? Sejujurnya aku merasa tidak seperti itu, karena dihatiku hanya ada Maya.
Meski sudah berulang kali aku berbohong, Pergi menemui Siska mendekati dan membuatnya percaya bahwa aku ingin menikahinya. Itulah yang saat ini aku tanamkan dalam benakku untuk mengurangi rasa bersalah ku.
Aku hanya berharap semuanya selesai tanpa Maya harus tau... tidak... Maya tidak boleh tau. Maya hanya harus tau bahwa semua baik-baik saja.
Sejenak aku menghembuskan nafas lelah, aku menghubungi Tomi untuk mengatur jadwal temu dengan dokter hari ini.
Drrrt... Drrrtt...
"Selamat pagi Tuan!" Sapa Tomi.
"Hari ini aku akan ke dokter dengan Siska, apa semua sudah siap?"
"Siap tuan, beres tinggal pelaksanaan saja."
"Baiklah, kau handle urusan kantor sementara aku tidak ada."
"Baik tuan!"
Aku mematikan panggilanku dan bergegas ke luar ruang kerjaku untuk sarapan pagi. Namun ketika aku menuruni tangga Mia berseru memanggilku
Perkataan Mia menghentikan langkahku, aku tidak melihat Maya tadi diatas.
"Daddy tidak-"
"Maaf Mia tadi Mommy ke kamar mandi karena ingin buang air kecil, jadi Daddy tidak lihat Mommy." Sela Maya dibelakangku sekaligus mengagetkanku, aku segera menoleh kearahnya. Sedangkan Maya hanya tersenyum manis sambil menuntunku menuju meja makan.
"Ayo Daddy sarapan!" Ajak Maya.
"Tadi benar Mommy mau panggil Daddy?" Tanyaku sambil meletakkan bokong di kursi makan.
"Hm... ya tapi saat sampai lantai atas Mommy keburu kebelet," Maya mengambil makanan dan memberikannya padaku. "ayo dimakan daddy selagi hangat." Apa hanya perasaanku saja Maya seperti berusaha tidak berkontak mata denganku. Berbicarapun melihat kearah lain.
"Pagi-pagi bengong ke sambet lho!" Catherine berucap memecah lamunanku. "Pergi lagi? setiap Wekkend?" Tanya Cathrine curiga sambil mengunyah makanan.
Mia yang sedang asik makan menyahut. "Iya, Daddy sekarang hari libur pergi terus? Ga ada liburnya ya sekarang?"
Aku yang diserbu pertanyaan curiga mendadak membeku tidak dapat menjawab karena benar adanya, sudah lebih dari 2x aku pergi di saat hari libur? Baru aku akan angkat bicara Maya segera menjawab pertanyaan Catherine dan Mia.
"Kalian ini, Daddy sedang banyak kerjaan. Sesekali kerja di hari pekan tidak apa-apa. Yang penting pekerjaan Daddy selesai, jadi hari biasa Daddy tidak kecapaian. Mia harus kasih semangat untuk Daddy ya!" Jelas Maya panjang lebar dan perkataan Maya sedikit menyentilku. Hingga rasanya dadaku berdenyut ngilu.
"Maaf ya Daddy, Mia tidak tau Daddy banyak sekali pekerjaannya. Yang semangat ya Daddy, jangan sampai sakit." Sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya keatas Mia memberiku semangat.
Aku hanya bisa tersenyum miris, sambil mengusap rambutnya dengan sayang.
"Tidak apa-apa, Kalian adalah semangat Daddy." Jawabku menahan rasa bersalahku.
Catherine hanya mengangkat bahunya acuh seolah tidak perduli, sikapnya belum membaik juga padaku.
Usai sarapan aku pamit pada Maya, sedangkan Catherine seperti biasa langsung pergi ke kamar dan mengajak Mia bersamanya.