
Bandung
"Paman Bagas!" Seru Maya memanggil pamannya ketika memasuki rumah.
"Maya!" Paman Bagas menghampiri dan memeluk Maya. "Ya tuhan, Paman sangat merindukanmu,"
Maya melerai pelukan dan tersenyum manis. "Maafkan aku Paman baru bisa kesini."
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik paman, bagaimana dengan kabar Paman sendiri?? Masih sering sakit pinggang?" Maya bertanya dengan bertubi-tubi membuat Paman Bagas tersenyum geli.
"Paman tidak baik-baik saja sejak kau pergi karena tidak ada yang rewel menyuruh paman ikut terapi." Suara Paman Bagas dibuat sesedih mungkin mencari perhatian Maya.
Maya terkekeh. "Apa aku sangat cerewet?"
Paman Bagas tergelak dengan ucapan Maya. Sungguh Maya selalu memberi warna disetiap orang yang ditemuinya.
Dari belakang Paman terlihat Pria Tampan yang ikut memasuki rumah, pria itu menatap Maya. Sejenak pandangan mereka bertemu namun detik kemudian Maya memutus pandangan itu dan menunduk. Paman Bagas melihat itu dan menyadari ada yang ia abaikan sedari tadi.
"Ah maaf ya, anda jadi terabaikan. Saya suka lupa hal lain bila menyangkut keponakan saya ini. Dia sudah saya anggap anak saya sendiri," Paman Bagas merangkul bahu Maya.
"Tidak apa-apa tuan, keponakan anda memang bisa mengalihkan perhatian seseorang." Pria itu masih menatap Maya.
Paman Bagas tersenyum menanggapi ucapan pria itu. "Maya, perkenalkan beliau adalah rekanan Paman sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan kita. Tuan Erlangga Saputra."
Pria itu mengulurkan tangan pada Maya, Maya menyambut uluran tangan dengan ragu namun kemudian pria itu menggenggam tangan Maya dengan cepat sambil tersenyum. "Panggil Angga saja!"
Maya terkejut dengan gerakan cepat Angga dan berusaha melepas genggaman tangan tapi Angga menahannya. "Kamu?"
"Maya... Maya adi-" ucapan maya terhenti sejenak "Maya Saraswati." Setelah itu genggaman pun terlepas.
Paman Bagas mengerutkan keningnya mendengar Maya yang memperkenalkan diri tanpa nama suaminya.
Maya mengalihkan perhatian dengan langsung merangkul Pamannya. "Ayo Paman, aku sudah memasak makanan kesukaan Paman."
Sedangkan Angga mengikuti mereka dari belakang.
Saat memasuki ruang tamu Mia melihat Maya berjalan kearahnya, Mia menatap pria tua di samping Mommy-nya.
"Mia... Ini Kakek Bagas," Maya melepas rangkulannya pada Paman Bagas dan menuntun Mia kehadapan Paman Bagas.
"Halo kakek, aku Mia," Mia menyapa dengan senyum manis. Paman Bagas terkejut melihat Mia yang sudah besar.
"Ini Mia?!! Cucu Kakek yang mungil sekarang sudah besar," Paman Bagas memeluk dan menciumi pipi Mia hingga kegelian.
"Stop Kakek, geli," Mia menjauhi kepala kakek Bagas darinya.
Angga yang penasaran dengan pemandangan yang dilihatnya akhirnya membuka suara. "Anak itu, anakmu?"
Maya menengok pada Angga dan mengangguk. "Iya, dia anakku. Kenapa?"
"Tidak apa-apa, anakmu manis seperti ibunya," Angga tersenyum kecut mengetahui Maya yang sudah memiliki anak, itu berarti Maya sudah menikah.
"Dimana Jack? Paman belum melihatnya sedari tadi. Kamu datang bersamanya kan?!" Paman bertanya sambil menggandeng tangan Mia.
Maya tersentak dengan pertanyaan Paman Bagas, dia mengedarkan pandangan kesana kemari sambil berfikir alasan apa yang cocok. Hingga ucapan Mia membuatnya bungkam.
"Mommy bilang Daddy sedang keluar negeri, jadi kami liburan kesini Kek,"
"Jack pergi dinas... Benar begitu maya?"
"I-iya Paman," Dengan gugup Maya menjawab.
Paman Bagas mengerti, pasti ada sesuatu yang terjadi antara Maya dan suaminya. Berawal dari perkenalan nama tanpa ada nama suaminya juga ketidak hadiran Jack disini. Sebaiknya dia tidak membahasnya sekarang, Paman Bagas akan menunggu hingga Maya yang memberitahukannya sendiri.