
Rahangku mengetat, aku mengepalkan tangan menahan amarah. "Tidak akan ada perceraian, Maya!!" aku menggeram.
Maya menatapku dengan mata memerah, bulir air matanya menetes deras. "Apa lagi yang kau mau dariku?? Aku sudah merelakan mu... aku coba mengerti, aku tidak mau menghalangimu jika bahagiamu dengannya."
Tubuh Maya bergetar dan itu membuatku semakin merasakan sakit tak terkira, melihat ia menangis begitu pilu karenaku. Aku beranjak dari sofa mendekat dan menarik Maya dalam pelukanku, Maya berontak ingin melepaskan diri tapi aku tidak bergeming.
"Jangan menangis lagi, aku memang salah...maafkan aku...!!" aku mengeratkan pelukanku mengecup puncak kepala Maya berkali-kali. "Semua tidak seperti yang kau pikirkan, semuanya tidak benar. Aku tidak pernah mendua Maya... bukankah aku selalu memintamu untuk mempercayaiku."
Maya yang tadinya memberontak kini terdiam, meski ia tidak membalas pelukanku aku cukup senang Maya mau mendengarkan ku. Aku mengusap wajah Maya yang basah karena air mata, aku mencium kelopak matanya yang terpejam dengan lembut. Sungguh aku sangat merindukan Maya.
"Bahagiaku adalah dirimu, hidupku sempurna karena kehadiranmu dan anak kita, Mia. Tidak ada yang lain..." Maya menatapku dalam membuatku tidak tahan untuk menciumnya dengan lembut hingga menuntut.
Rasa rinduku hampir 1 bulan tidak dapat terbendung lagi bila Maya tidak menghentikan kegiatanku. Maya menjauhkan diri dengan wajah yang merona sambil menundukkan kepala.
Maya pun tidak memungkiri jika ia juga merindukan suaminya, pria pertama untuknya dan berharap menjadi yang terakhir hingga akhir hayatnya.
Sudut bibirku mengembang, melihat respon Maya. Aku akhirnya menceritakan semuanya sambil menggenggam tangan Maya, meremasnya menyalurkan rinduku yang menggebu.
"Tapi kau benar-benar menciumnya," Maya memalingkan wajahnya, ia kecewa padaku. Dan aku memakluminya.
"Maafkan aku..." aku menangkupkan tanganku pada wajahnya agar menatapku. "Aku sungguh minta maaf Maya... semua karena terpaksa," aku turun dari sofa dan berlutut di hadapan Maya sambil menciumi tangannya.
"Jack, apa-apaan. Cepat bangun!!" Maya terkejut dengan apa yang aku lakukan, ia berusaha menarikku tapi aku tahan.
"Aku akan terus berlutut hingga kau memaafkan aku..." aku menempelkan tangan Maya pada pipiku dan menciumnya. "Kau tidak tau betapa merananya aku tanpamu, kau nafasku Maya... Aku lebih baik mati jika kehilanganmu."
🌷🌷🌷
Bibi Indah menguping pembicaraan kami dibalik dinding, awalnya Bibi takut aku melakukan hal yang tidak diinginkan seperti kekerasan fisik pada Maya. Namun kini Bibi bernafas lega, ternyata semua hanya salah paham meski tetap aku salah karena tidak menceritakannya lebih dulu pada Maya.
Tiba-tiba mata bibi membola, dia baru ingat suaminya ingin menjodohkan Maya dengan Tuan Erlangga
"Gawat!!, hampir saja Maya di jodohkan dengan pria lain... aku harus menelpon Ayah sekarang!!"
Bibi segera berjalan tergesa-gesa kearah kamarnya dan segera menelpon suaminya.
"Ada apa Ibu menelpon terus hari ini?"
"Ayah, Jack datang kerumah!"
Mendengar hal itu Paman yang tadinya duduk di kursi kebesarannya segera bangkit karena terkejut. "Apa? Jack datang kerumah? Mau apa dia?!" Nada suara Paman sedingin es, Bibi Indah menyadari itu.
"Ayah, dengarkan dulu... Jack kesini untuk menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi antara dirinya dan Maya," Paman Bagas menyatukan alisnya.
"Ternyata Jack dijebak oleh rekanannya sendiri, siapa ya namanya tadi... Da..Danu apa gitu. Dia menggunakan anaknya untuk menjebak Jack, hingga akhirnya membuat Jack mau tidak mau bersandiwara untuk mendapatkan bukti penjebakan itu," Bibi Indah menjelaskan panjang lebar.
Paman Bagas mengusap dagunya sambil berfikir... seolah tidak asing dengan nama Danu itu. "Syukurlah jika memang semua adalah kesalah pahaman, tapi Jack tetap harus diberi hukuman kecil karena telah membuat Maya menangis."
Bibi Indah meringis, Suaminya akan menjadi pendendam jika berhubungan dengan orang yang dikasihinya.