
Adinata Group
"Ada urusan apa nona ingin menemui Tuan Jack?" tanya Tomi dengan wajah dinginnya. Dia tidak habis pikir mengapa wanita di depannya ini masih berani menghubungi Tuannya. Bukankah semua sudah terbongkar, apa dia sedang merencanakan sesuatu tidak baik pada Tuannya?
Siska tersenyum miris melihat sikap Tomi sekertaris Jack yang dingin, seolah terganggu dengan kehadirannya. Ia memaklumi itu, semua hal yang terjadi antar dirinya dengan Jack adalah kesalahan... dan Siska menyesalinya.
"Aku... hanya ingin meminta maaf pada Jack dan Maya. Aku menyesali semuanya, tolong beritahu keberadaan mereka saat ini!" Siska memohon dengan raut wajah mengiba.
Tomi menyipitkan matanya, masih ada rasa ragu meski ia lega dengan penuturan Siska yang menyesali perbuatannya. Tomi memandang Siska yang didampingi seorang pria tinggi dengan setelan serba hitam, kacamata hitam menambah kesan manly padanya.
"Siapa pria itu? aku baru melihatnya... Nona Siska menyewa bodyguard??"
Siska menyadari pandangan Tomi yang memindai Herman sekretarisnya.
"Ah, aku lupa... Perkenalkan ini Herman sekretarisku," Siska memperkenalkan Herman pada Tomi. "Herman ini Tomi, sekretaris Jack CEO Adinata Group."
Tomi dan Herman berjabat tangan.
"Nona Siska, maaf jika menyinggung anda. Tapi bukankan PT. Angkasa sudah colapse."
Siska terkekeh. "Aku sudah tidak bekerja di perusahaan Pak Danu, sebelum bekerja di sana aku sudah memiliki perusahaan sendiri. Meski tidak sebesar PT. Angkasa, tapi cukup untuk membuatku membutuhkan seorang sekretaris," Siska sudah enggan menyebut Pak Danu dengan sebutan ayah.
"Tapi menurutku, Herman lebih terlihat seperti bodyguard dibanding seorang sekretaris," seloroh Tomi membuat Siska tergelak.
"Begitukah?" Siska menutup mulut menahan tawa, sedangkan Herman memalingkan wajahnya karena malu.
Seseram itukah tampangku hingga dikira seorang bodyguard, batin Herman.
"Maksudku bukan karena seram, tapi karena penampilanmu yang serba hitam itu plus kacamata melengkapi penampilan seorang bodyguard," Tomi seolah bisa membaca pikiran Herman
"Benar katamu, aku lupa mendandani sekretarisku ini. Terima kasih sudah mengingatkanku," ucap Siska.
"Tidak masalah nona," Tomi mengeluarkan secarik kertas sambil menuliskan sesuatu disana.
"Ini alamat Pak Bagas selaku Paman Nyonya Maya, saat ini Nyonya Maya dan Tuan Jack sedang berada di sana," Tomi menyodorkan kertas itu pada Siska. Siska menerimanya dengan binar bahagia, ia menatap Tomi.
"Semoga niat baik anda menjadi awal yang baik pula untuk anda Nona," Tomi tersenyum ramah.
"Terima kasih banyak... Oh sungguh aku benar-benar berterima kasih!!" Siska menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Baiklah, kalau begitu saya undur diri. Ada meeting yang harus saya hadiri menggantikan Tuan Jack." Tomi pamit pada Siska dan Herman.
"Tentu saja," Tomi pun melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.
🌷🌷🌷
Bandung
Paman Bagas telah berangkat ke kantor dan tidak lupa memberi peringatan agar aku tidak mendekati Maya.
Yang benar saja, aku kan suaminya. Kenapa tidak boleh berdekatan dengan istriku sendiri?
Aku menjambak rambut gemas dengan sikap Paman Bagas.
Maya yang melihat kegalauanku hanya bisa tersenyum simpul, entah mengapa bagi Maya melihat aku pusing terlihat lucu. Sungguh tega kamu Maya.
"Selamat siang Maya," suara asing terdengar, alarm bahaya berbunyi dikepalaku. Aku langsung menoleh ke arah suara.
"Tu-eh, Angga... siang," Maya menjawab dengan kikuk, aku menyipitkan mataku mendengar Maya memanggilnya. Memanggil nama orang itu! Seberapa dekat mereka?.
Shit!!!
Mau apa pria asing itu datang kesini, mengingat kata-kata Mia yang menyatakan bahwa orang ini datang setiap hari ke rumah ini membuatku geram. Aku mengeratkan rahang dan mengepalkan tanganku.
"Mia mana? Aku bawa sesuatu buat dia," Angga menyodorkan paperbag pada Maya. "Aku juga bawa sesuatu buat kamu."
Aku beranjak dari sofa ruang keluarga, memang keberadaan aku tidak terlihat oleh orang itu karena tertutupi oleh rak buku yang cukup besar sebagai pembatas ruangan.
Aku berjalan mendekati Maya dan merangkulnya, merapatkan tubuh mungilnya padaku. Maya tersentak kaget dengan sentuhanku, raut wajah Angga berubah masam. Aku menyeringai licik.
"Tuan Angga tidak perlu repot-repot, istri saya sudah punya semua yang ia inginkan," aku menekankan suara pada kata istri agar pria itu tau posisinya.
"Bukankah kalian akan segera bercerai, bagaimana dengan kabar Nona Siska? Tuan Jack Adinata."
Mataku melotot mendengar kata-kata pria kurang ajar ini. Bagaimana dia bisa tau masalahku dengan Siska, itu bukan konsumsi publik karena tidak ada yang tau selain aku dan beberapa orang yang terkait.
"Jaga bicaramu Tuan Muda Sastroadji, kau bukan tandinganku!" Aku menunjuk jariku padanya.
Angga merasa diremehkan, ia tidak terima dengan perkataanku. "Kau pikir aku takut padamu? Tanpamu Maya bisa bahagia denganku," Pria itu menyulut emosiku.
"Brengsek!!!" Aku melayangkan tinju padanya membuat ia tersungkur di lantai.