My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 12



Tanganku masih melingkar di pinggangnya, aku menarik dan merapatkan tubuhku padanya. Ingin rasanya waktu terhenti saat ini juga, saat-saat ternyaman ku memeluknya dari belakang. Aku jadi bisa mengecupi tengkuk dan menggigit kecil lekukan lehernya. 


“Maafkan aku, kamu jadi harus mengantar Mia kesekolah.” Sesalku.


“Tidak apa-apa Daddy, Mia senang kok karena aku jarang sekali mengantarnya kesekolah.” Maya mengusap tanganku yang masih mendekapnya. 


“Sayang, berjanji lah kau tidak akan meninggalkan aku. Selalu percaya padaku apapun yang terjadi.” Suaraku lirih hampir tidak terdengar.


Maya langsung menengok kearahku dan berbalik “Ada apa Daddy? Apa ada masalah dikantor? Apa Daddy bangkrut? Kalaupun iya itu tidak masalah, kita pindah saja ke Bandung. Disana aku masih punya lahan kebun teh, kita kelola dan memulai semua dari awal... bagaimana?” Hatiku mencelos mengetahui pikirannya yang sama sekali tidak mencurigai ku, selalu menenangkan aku.


Maya, kenapa kau begitu baik. Aku jadi merasa tidak pantas untukmu. 


Aku kembali membuatnya berbalik membelakangi ku, aku tidak mau ia melihat mataku yang serasa panas yang mungkin siap menitikkan air mata.


“Sampai tujuh turunan pun aku tidak akan bangkrut sayang, Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan aku, mengerti?” Aku berusaha menahan getar dalam suaraku menaham sembilu yang tiba-tiba menyeruak menghujam jantungku tidak tertahankan. Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya. 


“Daddy kenapa sih? Tentu saja aku tidak akan meninggalkan mu. Hanya maut yang bisa memisahkan kita. Itu pun Hanya sementara karena di kehidupan selanjutnya kita akan bersama lagi.” Maya meyakinkan ku, dan itu sungguh membuat ku lega.


Ya, kita akan selalu bersama.


🌷🌷🌷


Maya mengusap pipi Jack yang tertidur, garis wajah lelahnya terlihat. Semalam dia tidak bisa tidur karena menunggu suaminya yang tak kunjung pulang, semalaman pun ia menangis namun pagi-pagi sekali ia langsung mengompres matanya agar tidak sembab. Maya tidak ingin membuat Jack khawatir, sebisa mungkin dia ingin jadi penguat untuk Jack.


“Aku akan selalu mempercayaimu, Jack.” Batin Maya.


🌷🌷🌷


Aku meraba ranjang mencari keberadaan Maya, kosong. Aku segera bangkit dari tidurku mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru sisi kamar. Tidak ada, apa mungkin Maya sedang memasak. Aku melihat jam yang menunjukkan pukul 13.00 sudah waktunya Mia pulang.


Aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju, hari ini aku harus menjemput Mia. Namun mataku menangkap secarik kertas diatas nakas, aku mengambilnya dan membaca pesan maya. 


“Daddy, aku jemput Mia dulu ya. Kamu terlihat kecapekan jadi aku tidak membangunkan mu. Istirahatlah, jika lapar makanan sudah siap di meja makan”


Desah lelah aku hembuskan, ya aku lelah dengan apa yang terjadi tadi malam. Aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini jangan sampai Maya tau. Aku yakin aku dijebak! PT. Angkasa... Apa ini campur tangan Pak Danu? Tapi kenapa? Apa untungnya untuk dia melakukan itu padaku? Apa dia tidak takut aku membatalkan kontrak dengannya? Mengapa dia mencari gara-gara denganku? Aku harus mencari tau siapa dalang semua kekacauan ini. 


Drrttt... drrttt... drrtt... 


“Ya tuan, apa Tuan mengurungkan niat untuk tidak masuk hari ini? Kalau iya saya sangat bahagia!” Tomi berkata dengan riang aku memutar bola mataku mendengar pertanyaan yang selalu mengiringinya. 


“Tomi, biasakan untuk tidak terlalu banyak tanya!. Aku tetap cuti hari ini, aku butuh bantuan untuk hal lain.” Jawabku serius.


Please rate,vote dan likenya yach...!!


Enjoy!