My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 48



Badanku lemas, aku tidak menyangka Maya akan sejauh ini. Cerai... Tidak pernah terlintas dalam benakku. Apakah Maya sudah tidak mau bersamaku lagi?


Tidak akan pernah ada perceraian!


Pak Johan melihat raut wajahku yang memucat, aku memandang Pak Johan dengan mata memerah. "Saya tau, saya salah... Tapi semua ini hanya salah paham. Maya tidak mengetahui yang sebenarnya,"


"Maksud anda?"


"Saya dijebak, hingga akhirnya saya harus bersandiwara untuk mendapatkan bukti dari penjebakan itu." Aku meremas kertas itu hingga tidak berbentuk.


"Saya ingin menjelaskan semuanya, tapi sampai saat ini saya tidak kunjung menemukan keberadaan Maya. 2 minggu saya merana, saya serasa mati!!" Ucapku lirih. 


Pak Johan menatapku iba dengan keadaanku saat ini. Pola makanku yang tidak teratur membuatku menjadi kurus, kantung mata menghiasi wajah beserta rambut-rambut kecil yang mulai tumbuh di rahang dan kumisku. Sungguh bukan seperti seorang Jack Adinata.


Sambil menghembuskan nafas Pak Johan berkata "Apa Tuan sudah mengunjungi Paman Nona Maya?"


Mataku membulat, bagaimana bisa aku melupakan Paman Bagas?? Aku terpusat pada rumah mendiang orang tua Maya.


Ya tuhan... Terima kasih ... kau mendengar do'aku!!!


"Terima kasih Pak Johan, anda adalah penyelamatku." Aku langsung memeluk Pak Johan erat. Tomi yang melihat hal itu terkejut bukan main, sedangkan Pak Johan sudah tidak bisa berkata-kata.


Aku segera beranjak untuk bersiap pergi ke rumah Paman Bagas, Aku sudah tidak sabar untuk menemui Maya istriku yang manis dan membawanya kembali pulang. 


Namun langkahku terhenti. "Hm... Tuan bagaimana kalau kita merapikan penampilan anda yang... sedikit berantakan," Tomi berucap dengan hati-hati takut menyinggungku.


Aku berjalan ke kamar mandi dan meneliti penampilanku di depan cermin, sungguh mengerikan. Aku seperti pria lusuh pengangguran yang kerjanya luntang lantung tidak jelas.


Aku mendesah lelah, Aku tidak mungkin menemui Maya seperti ini. Dengan terpaksa aku menunda kepergianku untuk menemui Maya sementara. 


🌷🌷🌷


Club ***


"Tolong 1 gelas lagi!"


"Nona sudah sangat mabuk, lebih baik nona pulang." Pelayan itu berpesan.


"Hei!!!, Aku membayarnya ya!!! Bukan gratis, jadi cepat berikan minuman itu!!!"


Siska membentak pelayan itu, ia marah karena tidak boleh meminta minuman lagi.


Pelayan pria itu hanya bisa pasrah, dari pada Nona di depannya ini membuat keributan.


Siska frustasi, entah seperti apa hatinya saat ini. Dia malu pada mendiang Ibunya, karena menjadi menjadi wanita murahan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan seorang pria. Nyatanya semua percuma, Jack malah membencinya. Dan Siska menyesali semua perbuatannya.


"Ibu... Maukah Ibu memaafkan aku??" Siska kembali menenggak minuman itu sekali teguk. "Aku menyakiti seorang wanita baik, mengambil masa depan seorang anak perempuan dengan menjebak Ayahnya... Apakah kita dulu seperti itu Bu?" 


Siska terkekeh sendiri "Sayangnya ayah tidak dijebak, dia menusukmu di belakang dengan terang-terangan. Tidak seperti Jack yang sangat menyayangi istrinya,"


Siska menitikkan air matanya. "Aku memang bukan wanita yang pantas untuk Jack, hiks...hiks ..."


Beberapa menit kemudian Siska tidak sadarkan diri karena terlalu mabuk. Pelayan itu hanya bisa menghela nafas, selalu begini. Ia selalu menjadi imbas jika para tamu pingsan, dengan terpaksa dia mengantarkan Siska dengan berbekal KTP di dompet Siska. 


"Herman, antarkan Nona itu sampai tujuan. Hanya kau yang bisa dipercaya disini!!" Sarkas pemilik Club sambil melirik pelayan lain yang ketahuan telah mengobrak-abrik tas Siska saat dipapah ke mobil tadi.


"Baik Bos," Herman segera menaiki mobil Bosnya untuk mengantar Siska pulang kerumah.


Sedangkan Bos kini memarahi anak buahnya yang tidak bisa dipercaya, pemilik Club itu sebisa mungkin menjaga kepercayaan para tamunya agar mau kembali berkunjung ke Clubnya. 


"Sekarang lagi susah nyari tamu, lu semua mau pada dipecat gara-gara club ini sepi karena cap pencurian setiap keluar dari sini?!"


"Maafkan kami bos," Anak buahnya hanya bisa menunduk menyesal, mereka saat itu tidak memikirkan sampai kesana. Mereka tergiur saat melihat tas Siska yang mahal dan isinya sangat berharga bila dijual. 


"Sekali lagi gue liat ada yang klepto, gue pecat lu semua!!!" Ancam sang Bos marah, anak buahnya hanya bisa meringis ngeri sambil memohon agar tidak dipecat.