
Aku berjalan gontai ke arah ruang keluarga, tanpa aku sadari semua orang sudah ada di kamar Catherine. Aku mengedarkan pandangan pada ruangan yang kosong dengan TV masih menyala, aku mengambil remote dan mematikannya. Aku beranjak menaiki tangga menuju kamar, membuka pintu dan melihat tidak ada Maya disana.
Kemudian menuju kamar mandi, disana pun tidak ada. Aku segera berjalan ke kamar Mia. Dan lagi-lagi Maya dan Mia tidak ada, panik mulai merajai ku. Berdebar, bahkan gusar tidak dapat aku kendalikan. Aku menuruni tangga dengan setengah berlari dan terhenti ketika mendengar suara Catherine “Kakak dan Mia ada di kamarku.”
Catherine melangkah ke pantry dan menuang air putih. Meminumnya hingga tandas dia meletakkan gelas diatas meja dengan keras sambil menatap ku yang menahan kesal.
“Bagaimana rasanya, Jika benar-benar mereka tidak ada?”
Aku merasakan sembilu yang mengoyak hati. “Jangan bercanda ya Cath, dan ini sama sekali tidak lucu!” Aku menggebrak meja.
Catherine menatapku dengan mata merah berkaca-kaca. “Aku tidak pernah bercanda dengan ancamanku, kau tau itu!” Catherine menunjuk wajahku dengan telunjuknya. “Cepat selesaikan masalahmu!” Catherine pun berlalu menuju kamarnya.
Damn it!!!
Aku menjambak rambut frustasi, apa aku harus memberitahu Catherine tentang sandiwara ini. Entahlah mengapa Catherine bisa tau dengan gelagat anehku, mungkin karena dia pernah mengalaminya sendiri.
Dikhianati.
🌷🌷🌷
Hening, hanya suara peralatan makan yang terdengar. Semua orang yang di meja makan sibuk dengan makanannya masing-masing. Maya dan Mia beradu pandang bingung dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Catherine yang biasanya selalu banyak bicara menjadi pendiam ketika berhadapan denganku. Tidak terkecuali aku yang bersikap serupa, Maya tidak suka dengan suasana seperti ini. Dia lebih suka kakak beradik yang selalu beradu argumen itu dibanding yang sama-sama diam seperti sekarang ini.
“Apakah kalian ada masalah?” Maya memecah hening dengan mengajukan pertanyaan pada kakak beradik tersebut.
Catherine dan Jack menoleh pada Maya dan menjawab “Tidak!!” Secara serentak. Kakak beradik itu pun kembali melahap makanannya masing-masing. Maya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa pasti ada apa-apa antara mereka berdua.
“Apapun masalah kalian, selesaikan secara baik-baik ya Daddy. Bagaimanapun juga dia adikmu satu-satunya.” Ujar Maya.
Aku tersenyum dan mengecup kening Maya “Terima kasih.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan dan segera memasuki mobil. Aku terlalu malu untuk menatap Maya saat ini. Maya pun melambaikan tangannya hingga mobilku meninggalkan halaman rumahnya.
🌷🌷🌷
Maya memasuki rumah dan menutup pintu utama. Dia berjalan kearah dapur, tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu diatas meja makan. 'Ponsel Jack', ia mengambilnya untuk memastikannya, benar itu ponsel suaminya.
“Ya ampun kok bisa tertinggal? Bagaimana kalau rekan kerjanya menghubungi dan Jack tidak tau?” Maya bergumam sambil menimang-nimang ponsel itu.
Selang beberapa menit Catherine pun sampai dirumah, dia memasuki rumah kearah dapur karena haus. Catherine melihat Maya yang sedang duduk di kursi pantry seperti sedang berpikir.
“Ada apa Kak?” Catherine memecah lamunan Maya.
“Ah, Cath! Ini ponsel Kakak mu tertinggal di meja makan.” Maya menyodorkan ponsel Jack pada Catherine. Saat Catherine menerimanya terdapat panggilan disana yang bertuliskan nama “Siska”.
Catherine sempat terhenyak kaget oleh panggilan itu sebelum Maya bertanya pada Catherine. “Siapa yang telepon cath? Apa itu klien Jack?”
Catherine belum sempat menjawab pertanyaan Maya, dering ponsel pun terhenti. Namun beberapa detik kemudian terdapat pesan yang dapat dibaca tanpa membuka kunci ponsel, Catherine langsung membulatkan matanya ketika membaca sekilas pesan itu. Tangannya bergetar, tanpa pikir panjang Catherine langsung menjawab pertanyaan Maya.
“Iya, ini telepon dari salah satu klien Kakak Jack! Biar... biar aku saja yang mengantar ponsel ini ke Kakak. Kak Maya di rumah saja!” Catherine memasukkan ponsel itu ke saku celananya.
Please rate, vote dan likenya yach!!!
Enjoy!!