My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 45



"Benarkah kamu sudah menikah? Aku tidak melihat cincin di jarimu..." Angga memancing Maya, karena dia sedari tadi tidak melihat ada cincin yang melingkar di jari Maya.


Maya membulatkan mata, menyadari kesalahannya. Dia sengaja menanggalkan cincin pernikahannya karena tidak mau teringat dengan Jack lagi, ia sedang berusaha untuk melupakannya secara perlahan-lahan dari hal kecil. 


Maya mengusap jarinya. "Hm... itu... ah cincinnya tertinggal di kamar mandi sehabis mandi tadi," Maya beralasan berharap Angga mempercayainya.


Angga melihat gelagat Maya yang aneh  menurutnya "Baiklah, ternyata ajakan pertemananku ditolak," Angga berucap dengan nada yang dibuat sedih untuk menarik simpati Maya.


Maya yang mendengar itu merasa tidak enak, dia pun bingung harus bilang apa untuk menghibur Angga rekanan Pamannya itu.


Bukan Angga jika kehabisan akal, ia masih berusaha membujuk Maya untuk membolehkannya datang lagi kerumah dengan alasan aneh.


"Bagaimana jika aku datang lagi sebagai teman malaikat kecil?"


"Malaikat kecil?"


"Iya, Malaikat kecil Mia..."


Maya terkekeh mendengar Angga menyebut Mia malaikat kecil "Tuan Angga ada-ada saja, Mia sudah sebesar itu dipanggil Malaikat kecil."


Angga meringis mendengar Maya yang terus menyebutnya Tuan. "Bagiku dia Malaikat kecil, karena Malaikat sebenarnya ada di hadapanku saat ini," Angga mengerlingkan matanya menggoda Maya. "Dan jangan panggil aku Tuan lagi, panggil Angga saja..." Angga pun berbalik meninggalkan Maya.


Maya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sifat pemaksa seorang Angga. Angga melambaikan tangan saat akan menjalankan mobilnya, Maya hanya tersenyum tipis menanggapi. 


"Wah, Mommy ditaksir sama Om ganteng itu?" Mia tiba-tiba muncul mengagetkan Maya.


"Ya ampun Mia, Mommy sampai kaget..."


Mia cengengesan tidak mesara bersalah "Daddy masih lama ya dinasnya Mommy? Aku mau manas-manasi Daddy klo sudah pulang nanti ah." 


"Iya, aku mau bikin Daddy cemburu karena Mommy digodain Om itu." Maya membulatkan matanya mendengar rencana konyol Mia, Mia yang melihat ekspresi Mommynya langsung berlari. 


"Miaaa..."


Maya tersengal-sengal mengejar Mia yang berlari. Mia tertawa kegirangan karena tidak berhasil ditangkap Maya, Maya senang melihat tawa Mia yang ceria.


Namun tiba-tiba raut wajah Maya berubah menjadi sendu... dia bingung bagaimana nanti menyampaikan hal yang sebenarnya terjadi. Bagaimana Maya bilang kalau dia dan Daddynya sedang tidak baik-baik saja.


Apakah Maya rela bila Mia lebih memilih tinggal dengan ayahnya?


Tidak bukan itu yang perlu di khawatirkan. Yang paling penting adalah, Apakah Mia bisa menerima kenyataan bila Mommy dan Daddynya harus berpisah. 


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata


Tomi sudah  mendapat copyan rekaman CCTV di Cafe tempat Maya datang terakhir kali sebelum meninggalkan rumah. Kini dia sedang melihat rekamannya bersamaku diruang kerja. 


Dalam rekaman itu terlihat seorang wanita yang memberikan amplop putih pada Maya, terdengar semua percakapan disana. Tanganku mengepal, tidak menyangka jika wanita itu bisa melakukan hal sampai sejauh ini. 


Siska.


Mengapa dia melakukan semua ini? Mengapa seolah ia sengaja ingin merusak rumah tanggaku? Terlihat raut wajah Maya yang menyedihkan, sungguh aku tidak sanggup melihatnya... dan kata-kata terakhir yang membuat hatiku meringis ngilu... Maya memilih meninggalkan aku... sambil mengucapkan semoga bahagia.


Aku mengerti, aku paham bagaimana posisi Maya saat itu tidak mengetahui kebenarannya, ia begitu baik... selalu memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri. 


Tapi aku... aku tidak rela... aku tidak akan tinggal diam. Orang yang berani mengusikku, menyakiti orang yang aku kasihi tidak akan ku ampuni. Aku akan memberinya balasan yang setimpal.