My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 36



Detik kemudian Catherine langsung melangkah kearah tangga menuju kamar Maya, saat sampai di depan kamar dengan agak ragu ia memutar daun pintu. Dengan perlahan Catherine mendorong pintu dan mengintip ke dalam kamar. Terlihat Maya yang sedang tertidur, Catherine menutup kembali pintu kamar tersebut. 


Bagaimana bisa wanita sebaikmu harus mengalami masalah semacam ini


Catherine pun meninggalkan kamar Maya.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya Maya berniat mengantar Mia kesekolah tapi dicegah Catherine yang menyuruhnya untuk beristirahat saja. 


"Kakak bisa kok anter Mia kesekolah, kan ada Pak Hasan." Maya bersikukuh ingin mengantar Mia.


"Sudah, Kakak istirahat saja dirumah. Biar aku yang antar sekalian aku ada perlu dengan seseorang." Catherine beralasan padahal dia tidak ada janji dengan siapapun.


Mia yang sedari tadi menunggu di depan rumah akhirnya berseru. "Ayo tante cepat! Nanti aku telat. Pokoknya klo aku dihukum karena terlambat, tante harus nemenin aku berdiri di depan tiang bendera!" Ancam Mia sambil berkacak pinggang.


Catherine meringis ngeri mendengar ancaman keponakan kesayangannya itu. "Oke, oke kita berangkat," Catherine langsung meluncur dengan mobilnya.


Maya masih di depan rumah sampai mobil Catherine tidak terlihat lagi. Maya segera masuk rumah untuk membuat kue, kue itu dibuat untuk para bodyguard yang ada dirumah.


Maya sempat terkejut dengan adanya beberapa bodyguard dirumahnya, Pak Hasan memberi tahu jika semua itu atas perintah Jack suaminya. Maya hanya tersenyum simpul menanggapi tingkah suaminya yang kadang berlebihan.


Maya sama sekali tidak keberatan, malah dia senang karena rumahnya jadi hangat karena banyak yang menghuni. Rumahnya yang terlalu luas dan megah kadang membuat Maya kesepian. 


"Pak Hasan, tolong bantu saya bagikan kue-kue dan minuman ini pada para bodyguard!" Maya meminta tolong Pak Hasan, karena Pak Hasan lebih mengenal mereka. "Buat Bapak juga ada," Maya memberikan nampan berisi kue dan minuman.


"Ya ampun, jadi merepotkan Nyonya. Saya benar-benar tidak enak." Pak Hasan tertunduk sungkan.


"Sudah, tidak apa-apa. Saya memang sengaja membuatnya untuk kalian," Maya memperjelas agar Pak Hasan dan para bodyguard tidak merasa merepotkan. 


"Nyonya Maya benar-benar istri yang sempurna,  selain manis melebihi gula, pintar memasak, baik dan juga ramah." Salah satu bodyguard memuji maya sambil berbisik.


"Iya, Nyonya Maya memang pasangan yang cocok dengan Tuan Jack," sahut Pak Hasan sambil menikmati kue yang dibuat Maya.


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata


Maya sedang di taman, duduk termenung menatap lurus ke arah depan, entah apa yang dipikirkannya. Akhir-akhir ini ia banyak melamun. 


"Nyonya, ini saya buatkan teh," Mbak Darmi menaruh cangkir teh di meja samping Maya. Maya tersentak untuk sesaat karena tersadar dari lamunannya kemudian tersenyum. "Terima kasih,"


Mbak darmi khawatir pada Nyonya-nya, Maya yang selalu ceria dan memancarkan energi positif pada sekitar seolah redup. Mbak Darmi menghela nafas kemudian kembali ke dapur. 


Ponsel Maya berbunyi ketika Maya menyesap teh buatan Mbak Darmi, dahi Maya mengeryit melihat pesan dari no tidak dikenal.


[Temui aku di cafe**, sebaiknya kau datang karena ini menyangkut suamimu]


Siapa yang mengirim pesan? Ada apa dengan suaminya? Hati Maya bergemuruh, tidak menunggu lama Maya langsung bangkit dari duduknya dan berjalan setengah berlari ke kamar untuk mengambil tas. Gerakan Maya yang tergesa-gesa mengusik Mbak Darmi untuk bertanya.


"Nyonya mau kemana? Buru-buru sekali."


Maya menengok ke Mbak Darmi "Saya ada urusan diluar, tidak akan lama." Detik kemudian Maya langsung meninggalkan rumah.