
"Miaaaa! Awas ya kalo Daddy tangkap, Daddy kelitiki sampai ngompol." Ancamku.
Aku berlari mengejar Mia, Maya berjalan memasuki rumah menyusulku.
"Ck, Lihat Ayah kelakuan Anakmu, masih sama seperti Mia." Nyonya Caroline berdecak melihat tingkah anaknya.
Tuan Adinata yang sedang membaca koran hanya tersenyum, ia bangkit ketika melihat Maya menghampiri mereka.
"Ibu, Ayah..." Sapa Maya.
"Maya... apa kabarmu honey?" Tuan Adinata memeluk Maya.
"Baik ayah... Kabar Ayah sendiri bagaimana?"
"Kabar Ayah sudah baik melihat kalian bersatu kembali."
Aku mendekati Maya, melepas pelukan Ayah pada Maya "Jangan lama-lama peluknya."
Tuan Adinata memutar bola mata malas dan beralih melihat wajahku, matanya tertuju pada hidungku. "Kenapa dengan hidungmu, Jack?"
Maya yang sedang memeluk Nyonya Caroline langsung menahan tawa.
"Mommy senang ya hidung Daddy begini, biar bisa cari Daddy baru lagi gitu?" Aku bersungut-sungut kemudian pergi ke kamar.
Tiga orang itu memandang kepergian ku dengan wajah bingung. "Ada apa dengan Jack?" Tanya nyonya Caroline pada Maya, Maya menggelengkan kepala. Tuan adinata yang mendapat tatapan pertanyaan dari Nyonya pun hanya menggedikan bahunya.
Nyonya Caroline tidak menghiraukan tingkah aneh anaknya itu, ia merangkul Maya membawanya untuk duduk di sofa keluarga, menggenggam tangan Maya dan bercerita panjang lebar mengenai apa yang terjadi selama Maya pergi. Mendengar semua yang terjadi padaku, Maya menjadi amat merasa bersalah.
"Maafkan aku Bu, semua karena Maya." Maya terisak, ia menitikkan air mata penyesalan.
"Sudahlah, kamu tidak salah. Ini memang sudah jalannya. Kedepannya jadikan semua yang telah terjadi menjadi pelajaran hidup kamu dan Jack, Ibu bahagia keluarga kalian baik-baik saja sekarang. Jangan ragukan suamimu yang begitu tulus mencintamu."
Maya memeluk Ibu mertuanya, betapa bahagia, semua orang tetap mendukungnya meski ia sudah berbuat salah. Ia berjanji akan menjaga keluarganya dari segala macam cobaan yang menerpa.
🌷🌷🌷
Selang beberapa menit Tomi datang dari arah dapur mendekati Maya. "Nyonya Maya, apa kabar?"
Tomi menundukkan kepalanya. "Saya merasa bersalah pada anda Nyonya, karena saya kesalahpahaman ini terjadi," Tomi memberanikan diri menatap Maya. "Saya minta maaf Nyonya, semua kesalahan bukan dari Tuan. Tapi dari saya."
"Aku sebenarnya iri padamu Tomi, kamu yang lebih mengenal suamiku daripada diriku sendiri." Maya berdiri tepat di hadapan Tomi.
"Aku akan memaafkan mu dengan syarat!"
Tomi mengeryitkan kening. "Syarat apa Nyonya?"
"Mulai sekarang, kamu harus melaporkan segala kegiatan suamiku, aku tidak ingin hal kemarin terjadi lagi karena ketidaktahuan ku." Ucap Maya.
Tomi tertegun sejenak kemudian tersenyum. "Baik Nyonya, terima kasih sudah memaafkan saya."
"Sama-sama."
Nyonya Caroline mengacungkan jempolnya pada Maya, Maya tersenyum manis menanggapinya.
🌷🌷🌷
Catherine sudah kembali sampai rumah dengan membawa 1 paper bag berisi coklat. Ah... coklat selalu mengingatkannya pada keponakan manis sama seperti coklat.
"Aku berharap mempunyai anak semanis Mia."
Tunggu dulu, jika ingin mempunyai anak harus menikah dulu. Catherine menghela nafas, Menikah... entah kapan kata-kata itu menjadi momok yang Catherine takuti saat ini.
Melihat secara langsung konflik yang sempat terjadi antara kakaknya dengan kakak iparnya membuat Catherine semakin ciut dan takut pada pernikahan. Ia meragukan dirinya sanggup menghadapi masalah dalam rumah tangga. Apalagi yang berujung dengan penghianatan.
Catherine menepis semua pikiran buruk yang kembali bercokol di kepalanya, saat ini dia hanya ingin menikmati hidup sendirinya.
I'm single and I'm free...
Please rate, vote dan likenya yach!!
Tinggalkan jejakmu dengan komentar agar aku lebih baik lagi, enjoy!!