My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 19



Maya menarik tangannya dan segera berlari meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. “Ayo Mia kita ke bawah” Maya membawa Mia ke ruang makan.


Aku menggelengkan kepala melihat tingkah Maya yang selalu malu-malu.


Menggemaskan! 


Selang 30 menit aku selesai membersihkan diri. Aku menuruni anak tangga ketika selesai berpakaian kemudian bergabung dengan Maya dan Mia di meja makan.


“Daddy hari ini ada janji sama klien, Mommy sama Mia dirumah gpp kan?” 


“Iya Daddy, supaya lancar ya meeting nya.” Maya memberi semangat, sedangkan aku hanya bisa tersenyum miris. Perasaan tidak nyaman merangsek menggedor hati ku lalu seperti ada yang meremas menciptakan sembilu disana.


“Yah, padahal Mia mau jalan-jalan sama Mommy dan Daddy.” Mia merajuk, semakin membuatku meringis.


Berusaha mengontrol diri aku mencoba menghiburnya. “Oh ya! Tante Catherine pulang dari Paris hari ini, dan katanya mau tinggal sementara disini.” 


“Benarkah Daddy? Asik, aku nanti mau jalan-jalan sama tante Cath!” Mia bersorak senang meluruhkan sedikit rasa bersalahku.


“Kok Daddy baru bilang seh? Aku belum siapin apa-apa lho buat menyambut Catherine!” Maya menggerutu.


“Kamu terlalu baik, Catherine tidak perlu disambut juga sudah senang asal aku ijin kan tinggal disini.” Selorohku.


“Daddy sama adik sendiri perhitungan, kasihan Catherine.” Sarkas Maya.


Aku tersenyum sambil melahap nasi goreng spesial Maya hingga tandas. Selesai sarapan aku segera pamit pada Maya.


“Daddy pulang saat makan malam.” Pamitku kemudian mencium keningnya lama.


“Hati-hati dijalan Daddy!” Maya memberikan senyum terbaiknya dan melambaikan tangan padaku.


🌷🌷🌷


Bandara 


Seorang wanita cantik berjalan dengan anggun menuruni salah satu pesawat komersil. Dan tampak pula seorang pria tampan memegang karton bertuliskan nama 'Catherine'.


“Selamat siang nona Catherine, saya Tomi sekretaris tuan Jack. Anda masih mengenal saya bukan?” Tomi berkata dengan percaya diri.


Catherine membuka kacamata hitamnya dan menatap Tomi datar dari ujung kaki hingga kepala. “Sepertinya ini pertama kali kita bertemu.” Kemudian memakai kacamatanya kembali.


“Antarkan aku ke rumah kakak sekarang!” Catherine meninggalkan Tomi yang masih terpaku terkesima akan pengakuan Catherine yang tidak mengenalnya. Sungguh Tomi malu bukan main, dia Hanya terdiam sepanjang jalan menuju rumah Tuannya. 


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata 


Catherine menutup pintu mobil kemudian berjalan mennuju teras rumah kakaknya Jack, Catherine pun sama sekali tidak menghiraukan Tomi. Tomi hanya mendesah kasar melihat sosok yang sempat ia sukai beberapa tahun lalu saat acara ulang tahun perusahaan.


Kebetulan seluruh keluarga Adinata hadir saat itu, padahal saat itu Tomi sempat berkenalan dengan Catherine. Apa mungkin Catherine lupa?


“Tanteee cath!!” Mia berseru ketika melihat Catherine memasuki rumahnya.


“Hai sweety tante!” Catherine memeluk Mia.


“Catherine, kau sudah sampai. Apa kabarmu?“ Ucap Maya riang menghampirinya.


“Ah... kakak ku yang manis, aku tidak baik-baik saja bila jauh dari kalian.” Catherine mencium gemas pipi Mia hingga Mia kegelian. 


“Siapa yang menjemputmu Cath?” Maya terlihat mengedarkan pandangan kearah pintu rumah.


“Sekretaris kakak Jack, klo tidak salah namanya Tomi” Ucap Catherine acuh.


“Kok tidak disuruh masuk?” Maya langsung beranjak ke teras rumah, Catherine hanya menggedikan bahunya tidak perduli.


"Tomi!” Maya memanggil.


“Ya nyonya?” Sahut Tomi.


“Kenapa diluar? Sini masuk! kita makan siang bersama.” Tawar Maya.


“Tapi nyonya saya takut merepotkan.” Jawab Tomi dengan nada tidak enak.


“Ini perintah!” Maya mengancam dan terdengar lucu untuk Tomi.


“Baik nyonya!” Tomi tersenyum sopan dan mengikuti Maya masuk ke rumah. 


🌷🌷🌷


Cafe *** 


Siska tampil sangat anggun siang ini, ia mengenakan dress Sabrina sebawah lutut menampilkan lehernya yang jenjang dan mulus. Siska mengikuti semua kataku yang mengatakan jika dia lebih anggun dengan pakaian sederhana. Make upnya minimalis dan natural membuat Siska semakin terlihat fresh, aku akui Siska cantik sekali namun tetap tidak bisa menggeser Maya di hatiku. 


“Kau terlihat cantik hari ini.” Aku memuji membuat tenggorokan kering. 


“Benarkah Jack? Terima kasih!” Siska menyelipkan rambut ke telinganya. dia menahan gugup karena harus berhadapan dengan Jack yang sangat tampan saat ini karena mengenakan pakaian casual.


“Jadi, aku mengajakmu bertemu hari ini adalah bahwa...” Aku sungguh kesulitan mengeluarkan tiap kata dari bibirku.


“Bahwa apa Jack?” Siska penasaran.