My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 55



"Sebaiknya jangan terlalu keras padanya Yah... bagaimanapun juga dia suami dari Maya... Ayahnya Mia."


Paman Bagas mendengus mendengar istrinya membela Jack. "Kita liat nanti... sudah ya Ayah tutup. Ada meeting 10 menit lagi."


Telpon dimatikan secara sepihak oleh Paman, Bibi hanya bisa menghela nafas panjang.


🌷🌷🌷


Club ***


Terlihat seorang pria sedang berganti pakaian di ruang ganti Club, seusai itu ia segera menuju meja bar untuk menyiapkan berbagai minuman alkohol dari yang berkadar paling rendah hingga tertinggi. Seorang pelayan wanita mendekatinya.


"Tadi dicariin Bidadari," ucap pelayan wanita itu sambil menepuk pundaknya.


Pria itu menaikkan salah satu alisnya. "Bidadari? Emangnya gue Jaka Tarub sampe dicariin Bidadari," sambil tersenyum jenaka.


Pelayan itu memutar bola matanya jengah. "Maksudnya dicariin wanita cantik setara Bidadari."


"Kayak pernah ketemu bidadari aja, lu tau bidadari kaya gimana??"


Pelayan itu gemas. "Ah, males ngomong sama lu mas, serius tau ini!"


"Gue juga serius, makanya nanya lu pernah ketemu Bidadari sampe tau gimana cantiknya??"


"Bagi rani, wanita tadi seperti Bidadari... cantik sekali," mata Rani menerawang kearah atas club membayangkan wanita yang tadi menanyakan perihal Herman padanya.


Herman mengibas-ibaskan tangannya di depan Rani. "Hei, jangan sampe pindah haluan."


Rani berdecak kesal menatap Herman. "Hadeuh...! tadi wanita yang mas Herman anter pulang kemarin malam nyariin mas."


Herman mengeryitkan alisnya. "Dia... Nyariin gue? Mau ngapain?"


Rani menggedikan bahu acuh. "Mana ku tau, yang jelas berita baiknya dia tidak datang untuk menuntut apapun mengenai kejadian malam itu. Bisa berabe klo si Bos tau," Rani bergidik ngeri membayangkan kemarahan Bosnya yang memang agak killer.


"Udah ya, Rani cuma mau sampein itu aja," Rani pun melenggang pergi meninggalkan Herman.


Herman termenung sejenak kemudian menggelengkan kepalanya.


🌷🌷🌷


Dentuman keras musik sudah tidak mempengaruhi pendengaran Herman, seolah biasa saja, padahal untuk orang awam akan membuat pusing kepala.


Waktu berputar hingga tiba tengah malam, Herman sedang meracik minuman dan membelakangi bar. "Jadi, kamu yang antar aku pulang kemarin?!"


Herman terkejut dan langsung berbalik badan ketika suara wanita seolah berbicara padanya. Siska tersenyum menawan pada Herman.


"Aku akan mulai diet malam ini, agar kamu tidak keberatan bila menggendongku kembali," seloroh Siska.


Herman sempat takjub dengan Siska, penampilannya malam ini sangat memukau dengan dress ketat warna hitam yang membungkus sempurna tubuh indahnya. Siska menyadarkan lamunannya.


"Sebelumnya aku ingin berterima kasih karena kamu telah mengantar aku pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun."


"Hm... Itu sudah tugas saya," Herman berusaha menjawab dengan nada setenang mungkin padahal hatinya berdetak tidak karuan karena wanita yang sedang duduk di hadapannya ini.


"Baiklah, karena kamu sudah menolong aku. Aku akan membalas kebaikanmu itu, katakan apa yang kamu mau sebagai timbal balik?" Siska tidak ingin mempunyai hutang budi, sekecil apapun itu.


"Cukup Nona tidak kembali lagi kesini, karena tempat seperti ini tidak baik untuk Nona."


"Tidak baik? Lalu kenapa kamu kerja di tempat tidak baik ini?"


"Karena keadaan, membuat saya tidak bisa memilih," wajah Herman langsung berubah murung ketika mengatakan itu.


"Bagaimana jika kamu kerja padaku?" Siska menawarkan pada Herman.


Herman menatap Siska heran dan tersenyum tipis. "Tidak perlu Nona, terima kasih atas tawarannya."


"Kenapa menolak? Aku akan memberikan pekerjaan ditempat baik seperti yang kau inginkan."


"Maksudnya?"


"Bekerjalah denganku, menjadi sekretarisku!"


Terima kasih sudah membaca


Please rate, vote dan likenya!!!


Sertakan comentnya sebagai respon reader pada novel ini agar lebih baik lagi.


Enjoy!!