
Erlangga Saputra, pria dewasa 27 th dengan wajah tampan berdarah campuran jawa dan jerman. Tubuhnya tinggi tegap meski tidak terlalu berotot, tapi tatapannya dapat menghanyutkan semua wanita yang mengenalnya.
Dengan gagah ia duduk dikursi kebesarannya, namun ada yang lain... hatinya sedang terusik dengan bayangan seorang wanita manis yang sudah menjadi milik orang lain.
Senyuman wanita itu terus terngiang-ngiang di benaknya hingga mengganggu konsentrasi.
BRAK
GILA!!!
Angga merebahkan diri di kursinya ke belakang dan memejamkan mata, tangannya mengurut pangkal hidung. Ia segera bangkit dan menelpon seseorang.
[Cari tau informasi tentang Maya Saraswati]
[.....]
[Ah ya, Maya Saraswati keponakannya Pak Bagas dari PT. Gujati]
[.....]
[Aku tunggu secepatnya!!]
Klik
Telepon diputus, dan Angga kembali memejamkan mata sambil tersenyum miris.
Kau membuatku gila, Maya
🌷🌷🌷
Apartement Siska
Hari ini Siska ingin menemui Jack dan Maya, ia ingin meminta maaf atas kekacauan yang telah dirinya buat. Meski sebenarnya dia tidak cukup berani untuk melakukannya.
"Haaaahhh...." Siska menghela nafas.
Dia merasa terdapat batu yang begitu besar mengganjal hatinya, ia pun hanya bisa mengusap-usap dadanya untuk meredakan rasa sesaknya.
Ting Tong
Suara bel apartement Siska berbunyi, mengambil alih perhatiannya. Ia pun berjalan kearah pintu untuk membukanya.
Cklek
"Saya datang memenuhi permintaan Nona soal pekerjaan kemarin," Herman tepat berdiri di depan Siska.
Sedangkan Siska terpesona dengan penampilan Herman, penampilan casualnya memperlihatkan jika ia manly sekali.
"Kau terlihat keren," puji Siska.
Herman yang mendapatkan pujian sontak membuat wajahnya memerah hingga ketelinga. Melihat itu Siska tersenyum lucu.
"Hei, kenapa wajah mu berubah begitu? Jangan bilang kalau baru aku yang memujimu?"
Herman terdiam kaku dan memalingkan wajahnya. Siska terkekeh dan menarik Herman memasuki apartement, Mata Herman membola mendapat perlakuan mendadak dari Siska. Entahlah, baru wanita ini yang membuatnya salah tingkah. Padahal di club banyak tamu wanita cantik yang sering menggodanya.
"Silahkan duduk, jangan hanya berdiri mematung. Kau terlihat seperti tahanan yang menunggu hukuman mati, tegang."
Siska menghampiri Herman dengan minuman ditangannya, ia mengeryit melihat Herman yang masih berdiri.
"Ya ampun, ayo duduk mas Herman!"
Herman terhenyak, ia segera duduk dan berusaha mengatur ekspresi setenang mungkin.
"So... Kamu bersedia jadi sekretarisku?" Siska memulai perbicaraan.
"Ya, saya bersedia," Siska tersenyum mendengar jawaban dari Herman.
"Terima kasih... tugas awalmu adalah menemaniku menemui seseorang," Siska berkata sedikit pelan namun masih bisa terdengar oleh Herman.
Siapa yang hendak ia temui? Mengapa terdengar sedih dari kata-katanya? batin Herman.
Herman menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Baik Nona."
"Silahkan diminum!" Siska menawarkan pada Herman.
"Terima kasih."
🌷🌷🌷
Bandung
Satu hari sudah aku dirumah Paman Bagas, beliau mempersilahkan aku menginap. Sungguh aku bahagia saat mendengar itu namun, kemudian aku harus menelan kekecewaan karena tidak diperbolehkan tidur 1 kamar dengan istriku. Padahal rindu ini sudah begitu berat... ini benar-benar menyiksa. Aku tidak bisa tidur, gelisah. Meski 1 rumah tapi terpisah.
Tubuhku pegal karena tidak nyenyak tidur, aku takut Maya pergi lagi meninggalkanku. Pagi-pagi buta akhirnya aku beranjak dari pembaringan yang dingin tanpa Maya. Aku keluar kamar dan melirik ke arah kamar sebelah, tempat Maya tidur sedangkan Mia tidur dengan Paman Bagas dan Bibi Indah di kamar bawah.
Terlintas keinginan melihat wajah istri manisku. Dengan perlahan aku mendekati kamar Maya, kulihat keadaan sekitar dengan menengok kanan dan kiri. Aku seperti maling yang ingin mencuri karena takut ketahuan Paman Bagas.
Pelan-pelan aku putar daun pintu, mataku berbinar ketika tau pintu kamar Maya yang tidak terkunci. Dengan jantung berdebar aku memasuki kamar, terlihat Maya yang tertidur membelakangi pintu.
"Sayang... Aku sungguh merindukanmu," ucapku lirih sambil ikut berbaring disampingnya memeluknya dari belakang. Aku lingkarkan tanganku pada pinggangnya yang ramping.
Tunggu... Tubuh Maya kenapa menjadi sejajar denganku?? Seingatku tadi siang tubuhnya masih kecil hingga tenggelam dalam tubuhku saat ku peluk. Dan ini...
"Kenapa bagian ini menjadi keras??" Gumamku.
"Apanya yang keras??" Terdengar suara bariton yang berat, aku terhenyak mendengar suara Maya.
Lampu kamar tiba-tiba menyala, silau menerpa mataku, aku menyipitkan mata.
"Daddy kok peluk Kakek?" Suara Mia membuatku tersadar dan bangun. Aku melihat ke arah pintu, ada Mia, Maya dan Bibi Indah. Jadi yang aku peluk tadi...
"Saya sudah tau, pasti kamu diam-diam menemui Maya," Paman Bagas ada di ranjang bersamaku. Paman Bagas yang ku kira Maya.
"Ya ampun, maaf Paman... saya kira tadi Maya," ucapku lirih.
Aku segera menundukkan kepalaku karena malu, Mia tertawa Bibi Indah dan Maya tersenyum geli. Wajahku sudah merah seperti kepiting rebus, sedangkan Paman Bagas memperlihatkan wajah datarnya.
"Selama disini kamu tidur dengan saya. Dan jangan sembarang pegang-pegang! Saya masih normal," Paman Bagas kembali berbaring tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
Aku ingin menghilang!!!