My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 63



Kini aku bisa bernafas lega, Angga sudah tidak mengharapkan Maya lagi. Setidaknya itu yang ia sampaikan padaku. Angga melepas kepergian kami dengan hati lapang, karena ia telah melepas beban hatinya selama ini.


Mia masih merajuk dengan wajah muramnya, mengusik Angga turun tangan menghiburnya.


"Mia jangan cemberut donk, manisnya jadi hilang, nanti Om tidak suka lagi loh sama Mia."


Mia mengerjapkan matanya lucu. "Om kan memang tidak suka Mia, Om sukanya sama Mommy... tapi aku tidak mau punya Daddy selain Daddy Jack!"


Angga terkikik geli, celoteh Mia benar-benar akan membuatnya rindu.


"Sekarang Om tidak suka sama Mommy lagi kok, sukanya sama Mia aja gimana?" Angga bergurau menantikan ekspresi Mia, tanpa ia tau bahwa perkataannya menjadi awal sebuah cerita hidup gadis kecil itu.


"Benarkah? Om ganteng suka sama Mia?"


Mia memandang Angga dengan binar bahagia, Angga tersenyum jahil.


"Tentu saja, tumbuh lah menjadi wanita dewasa yang cantik. Karena Om tidak suka wanita jelek!" Aku menatap tajam pada Angga yang ditanggapi santai olehnya.


"Dokrin macam apa itu, tidak mendidik sama sekali!"


"Mia dari bayi sudah cantik, jadi Om tenang saja... Aku pasti tumbuh menjadi wanita cantik jelita seperti Mommy!" semua orang tergelak.


Mia pun tidak bersedih lagi, entah semangat apa yang membuatnya menjadi riang. Aku menjadi sedikit khawatir, semoga perkataan Angga tadi hanya angin lalu dan cepat terlupakan. Aku bergidik ngeri membayangkan Angga bersanding dengan Mia nanti.


"Tidak mungkin, dan tidak akan aku biarkan!"


Kami pun pamit untuk pergi, Bibi Indah melambaikan tangan melepas kepergian kami. Namun sepertinya hari ini aku banyak dikejutkan dengan kedatangan orang yang tidak aku harapkan. Saat itu baru saja aku dan Maya mau menaiki mobil, suara familiar terdengar memanggilku.


"Jack!"


Siska, dia datang kesini. Kerumah Paman Bagas, bagaimana ia bisa tau??


Aku menatap datar padanya. "Apa lagi mau mu?"


Siska gugup, aura intimidasi yang aku keluarkan membuatnya ciut. Ia baru melihatku yang tidak ramah seperti biasanya, membuat hatinya nyeri. Sedih karena aku kini membencinya.


"Aku... " Siska menundukkan kepala sambil menjalin tangannya. Bibirnya kaku, padahal sepanjang jalan ia sudah merapalkan kata-kata maaf. Tapi kini saat berhadapan langsung memori dikepalanya menguap entah kemana, ia tidak tau harus bilang apa.


Tanpa Siska sadari air matanya mengalir, ia menggigit bibir bawahnya menahan isak. Siska memberanikan diri menatap Maya yang sejak tadi diam.


"Maya... maaf..." Siska menutup mulutnya saat isak tangis itu lolos "Sungguh... aku benar-benar minta maaf,"


Tubuh Siska bergetar hebat, ia teramat menyesal. Ia membayangkan Maya adalah Ibunya, Ibunya yang menderita karena wanita simpanan Ayahnya.


Maya menatap Siska iba, ia tau Siska dengan tulus meminta maaf. Terlihat dari matanya yang menyimpan luka akibat penyesalan.


Maya berjalan mendekati Siska, hal yang tidak aku sangka terjadi di depan mataku. Maya memeluk Siska.


"Aku belum memaafkanmu, tapi aku tidak membencimu, tolong beri aku sedikit waktu untuk berdamai dengan hatiku. Karena aku bukan malaikat," Maya berkata dengan lirih.


Tangis Siska pecah, ia tidak menyangka Maya masih mau menerimanya meski belum memaafkannya. Sungguh Siska merasa kalah, kalah dengan wanita yang sedang memeluknya.


Kau memang wanita luar biasa Maya, batin Siska.


Please rate, vote dan likenya yach!!


Tinggalkan jejak mu dengan komentar agar aku lebih baik lagi, enjoy!