
Aku pun pamit pada Paman Bagas dan Bibi Indah, Mia yang biasanya tidak mudah menangis kini ia membujuk Maya untuk kembali menginap sambil terisak.
"Kita menginap lagi ya mommy... Semalam adja deh... hiks... hiks Mia masih mau disini sama Nenek Indah dan Kakek Bagas!!" Maya kewalahan dengan Mia yang terus merengek, Bibi Indah menatap iba dan berusaha menenangkan Mia.
"Nanti Nenek yang main kesana ya, Mia pulang dulu sekarang" bujuk Bibi Indah meski dalam hati ia ingin menahan Maya pergi.
"Ada apa ini, koq Mia nangis?" Suara Angga mengalihkan atensi kami pada Mia, dan berhasil memancing emosiku hingga ke ubun-ubun
"Manusia tidak tau malu, masih berani dia kesini!!"
Angga mendekati Mia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dan mengusap air mata di pipi Mia.
"Mia manis kenapa?, Koq nangis?"
"Mommy dan Daddy ajak Mia pulang hari ini... Padahal aku masih ingin menginap lagi disini" mendengar penuturan Mia membuat Angga kaget. Secepat itu Maya akan pergi, akan sulit kedepannya untuk menemui pujaan hatinya itu karena jarak yang cukup jauh.
Angga menoleh pada Maya "Kau mau pergi?"
"Iya, aku harus pulang. Kasihan Mia tertinggal banyak pelajaran" Maya menjelaskan sambil menggenggam tanganku. Sikap Maya menyejukkan hatiku memupus kekhawatiranku yang tidak beralasan.
Angga tersenyum kecut melihat sikap Maya. Ia berdiri dan menghampiri Bibi Indah "Saya ingin mengembalikan baju Pak Bagas yang kemarin saya pinjam"
Angga memberikan paperbag pada Bibi Indah "Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak Nyonya dan Pak Bagas" Angga menganggukkan kepalanya.
"Tidak masalah Tuan Erlangga" sahut Paman Bagas.
Angga berbalik dan menghampiri Maya tanpa menghiraukan aku yang berada disamping Maya.
"Bisa aku minta waktumu sebentar, Maya?" Angga berkata dengan lembut, membuat darahku mendidih. Maya memandang kemudian mengusap tanganku lembut
"Daddy tidak perlu khawatir, Ok!"
Aku menatap Maya lama kemudian menganggukkan kepalaku. Sebelum Maya pergi dengan Angga aku mengecup pelipisnya "Jangan lama-lama jika tidak mau Daddy hukum semalaman" bisikku
Maya memalingkan wajah meronanya dan berjalan mengikuti Angga yang sudah pergi lebih dulu
Paman Bagas menghampiri seraya menepuk pundakku "Ini sebagian kecil perjuanganmu menjaga rumah tangga kalian, Maya masihlah bunga yang selalu memikat kumbang disekitarnya" Aku hanya bisa menghela nafas mendengar kebenaran dari kata Paman Bagas.
Sambil menunggu Angga yang entah mau berbicara apa dengan Maya, Bibi Indah mengajak Mia ke dapur untuk membawa bekal beberapa kue dan coklat.
Aku hanya bisa melihat dari jauh Maya dan yang sedang berbicara di bangku taman.
"Apa yang mau dibicarakan, Angga?" Maya memecah keheningan yang cukup lama terjadi.
Angga memejamkan matanya kemudian memandang Maya "Aku menyukaimu sejak pertama bertemu, kau tau itukan!"
Raut wajah Maya berubah merona, ia menundukkan kepalanya "Iya, tapi maaf aku-"
"Aku tau tidak mungkin kamu menyukaiku karena kau sudah bersuami, lebih tepatnya hatimu sudah untuknya. Aku melihat dari matamu" sela Angga.
Maya memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi Angga, Angga tersenyum lembut "Aku sudah kalah, bahkan sebelum berperang. Kau milik orang lain yang tidak mungkin aku miliki. Aku hanya bisa berharap kamu terus bahagia..."
Maya tersenyum manis pada Angga, binar bahagia terpancar dari wajahnya. Ia senang Angga tidak marah dan mengerti keadaannya, Maya sama sekali tidak ingin memberi harapan dan menyakiti siapa pun.
"Bolehkah aku memelukmu sebagai teman Maya?"
Maya terdiam sesaat lalu memalingkan wajahnya kearahku, ia menatapku seolah meminta ijin sesuatu yang aku tidak tau apa karena jarak kami yang terlalu jauh. Aku memberikannya senyuman sebagai persetujuanku.
Maya menganggukkan kepala pada Angga. Angga yang melihat semua itu menjadi makin iri padaku.
"Beruntungnya kau Jack, sial aku benar-benar iri padamu!"
Angga mengikis jarak antara dia dengan Maya, lalu memberikan pelukan padanya. Mataku melebar ketika tau ternyata ijin memeluk Maya yang ia minta.
"Aku lengah"
Aku berusaha mengontrol emosiku. Pelukan itu tidak lama, setelah itu mereka berdua kembali berjalan kearah ku. Angga memberikan senyuman mengejek padaku. Ingin ku pukul wajah lumayan tampan itu, karena aku lebih tampan darinya.
Dia berhenti tepat di hadapanku "Aku memutuskan menyerah mendekati istrimu, aku baru tau jika usianya di atas ku. Wajah manisnya menipuku, meski sebenarnya yang matang lebih menantang" seloroh Angga membuat Maya terkikik geli.
"Ya, kau anak kemarin sore... Lebih cocok menjadi adiknya Maya" timpalku membuat Angga tertawa.
"Baiklah, kalau begitu aku ganti kandidat. Bagaimana jika aku menjadi menantumu, Ayah" Maya akhirnya ikut tertawa geli, aku melotot mengetahui Angga yang beralih mangsa pada anakku
"Tidak akan, aku tidak mau punya menantu setua dirimu!!! Kau pedophil??"
Please rate, vote dan likenya yach!!
And jangan lupa tinggalkan jejakmu di komentar agar aku menjadi lebih baik lagi, enjoy!!