My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 60



Perkelahian pun terjadi, bahkan teriakan histeris Maya tidak cukup untuk menghentikan pertikaian itu. Aku dan Angga sama-sama babak belur dengan wajah yang memar di setiap sudutnya.


Hingga sesuatu berhasil menghentikan kami, Bibi Indah menyiram kami dengan seember air dingin. Seperti menyiram kucing yang sedang berkelahi, aku dan Angga basah kuyup.


Kami pun digelandang menuju taman, diomeli selama 1 jam oleh Bibi Indah dan berakhir dengan masuk angin. Sungguh memalukan, seorang CEO disiram air dingin karena berkelahi.


"Hachim... Hachimmm," aku mengusap hidungku yang sangat gatal, badanku menggigil.


"Daddy lain kali jangan seperti itu lagi, tidak biasanya Daddy main kasar begitu," raut wajah Maya sendu, ia sedang mengusap luka memar diwajahku.


"Ouch!!!" aku meringis menahan perih.


"Sakit ya Daddy!?" Maya terlihat kuatir.


"Daddy hanya tidak suka dengan sesuatu yang berbau perpisahan. Dia menyebutkan masalah perceraian... Mommy hanya milik Daddy!!" aku menggenggam tangan Maya dan meremasnya.


"Iya, Mommy hanya milik Daddy. Janji ya jangan main pukul lagi!"


Aku menganggukkan kepala, Maya tersenyum melihat responku.


"Pria itu dimana? Masih dirumah ini??"


"Tidak, seusai diobati lukanya. Angga segera pulang."


"Seberapa akrab kalian? Mommy memanggil namanya!" aku memperlihatkan wajah tidak sukaku.


Maya terkekeh. "Selama aku disini, selama itu juga Angga datang kesini. Dia selalu menghibur dan bermain dengan Mia, Mommy tidak mungkin bersikap ketus padanya."


Aku masih dengan mode merajuk memalingkan muka padanya, Maya menangkupkan wajahku menghadapnya.


"Apa yang Daddy risaukan? Bukankah Daddy tau siapa raja di hatiku?"


Mata bening Maya menghipnotisku, pengakuannya membuat hatiku membengkak.


"Semua yang telah terjadi membuatku takut... meski aku raja di hatimu, aku takut kau lelah dan menyerah. Membayangkan orang lain menggantikan aku membuatku sulit bernafas."


"Kau meragukan ku?"


"Tidak, aku meragukan diri sendiri yang belum mampu menjadi suami yang baik untukmu."


"Maya..."


Sungguh aku sudah menahan diri sedari tadi untuk tidak mencium bibir mungil itu. Tapi kali ini aku tidak menahannya lagi.


Aku menekan tengkuk Maya untuk memperdalam ciumanku, rinduku sudah diambang batas hingga hampir meledak. Aku meluapkan semuanya saat ini, aku sudah tidak perduli dengan kemurkaan Paman Bagas. Yang aku inginkan saat ini adalah melepas rindu pada Maya, istriku.


Aku melepas ciuman panasku dan mengecup kening Maya, menatapnya penuh cinta.


"Aku sangat menginginkan mu sayang... bolehkah?"


Maya masih mengatur nafas hingga membuat dadanya naik turun, wajah memerahnya sangat cantik. Maya tersenyum manis sambil menganggukkan kepala.


Aku tersenyum bahagia, segera aku menggendong Maya ke ranjang dan merebahkannya disana.


"Aku harap bayi mungil akan melengkapi keluarga kita."


Malam itu menjadi malam panjang untuk Maya, karena aku bekerja keras untuk menghadirkan anggota baru dikeluarga kami.


🌷🌷🌷


Paman Bagas sudah pulang kerumah, ia mengedarkan pandangan diseluruh ruangan mencari keberadaan Maya.


"Dimana Maya?"


"Di kamarnya, tadi terjadi insiden berdarah," Bibi Indah menghela nafas.


"Insiden berdarah? maksudnya??"


"Jack berkelahi dengan Tuan Erlangga, ibu sempat terkejut dengan kenekatan rekanan ayah itu."


Bibi Indah mengurut pelipisnya. "Tuan Erlangga mengetahui perihal gugatan cerai Maya dan itu membuat Jack marah hingga dia memukulnya."


Paman Bagas melebarkan matanya yang juga terkejut mendengar hal itu. Masalahnya Paman Bagas tidak pernah memberitahukan perihal itu pada Tuan Erlangga.


"Bagaimana bisa?"


Padahal sebenarnya Angga mengetahui semuanya dari orang suruhannya yang diberi tugas untuk mencari tau informasi tentang Maya, termasuk kejadian belum lama ini mengenai gugatan cerai Maya.