
"Terima kasih sebelumnya... jadi melibatkan anda," Maya berucap dengan lirih sambil menunduk.
"Ada apa?"
Maya menengadahkan pandangannya hingga menatap Angga bingung.
"Apanya?"
"Ada apa antara kau dan suamimu?"
Mata Maya membulat, terkejut sekaligus kesal. Baginya Angga tidak ada hak untuk bertanya seperti itu padanya.
"Saya memang berterima kasih pada anda karena membantu saya untuk menjawab pertanyaan Mia, tapi... tapi posisi anda bukanlah pada tempatnya untuk menanyakan itu. Tidak ada hubungannya dengan anda," Maya mengingatkan akan posisi Angga saat ini, namun perkataan Maya malah menyulut emosi Angga.
Angga mengetatkan rahangnya kesal, meraih tangan Maya dan merapatkan tubuhnya pada wanita itu.
"Apapun hal tentangmu adalah urusan ku, karena aku menyukaimu!"
Mata Maya membulat, wajahnya pun merona. Angga memeluknya spontan hingga Maya tidak bisa menghindar karena lengannya dicekal.
Angga mengutarakan perasaan yang 2 minggu ini membayanginya. Dia sudah tidak perduli dengan status Maya yang sudah bersuami.
Maya berusaha melepas cekalan Angga pada tangannya dan mendorong dada bidang pria itu. "Anda berlaku tidak sopan, lepaskan saya Tuan angga!"
Angga menyeringai melihat gelagat salah tingkah Maya. "Aku akan lepas dengan 1 syarat!"
Alis Maya menukik tajam.
Dia yang tidak sopan dia pula yang memberi syarat seolah aku salah, dasar pria aneh!
Angga melihat wajah marah Maya gemas, dia bukannya takut malah ingin mencium bibir mungil ranum yang merapat karena kesal.
Aku benar-benar sudah gila!
"Aku tidak keberatan jika Mia melihat kita seperti ini," Angga memancing membuat Maya menatap Angga nyalang.
Maya terlihat seperti kucing kecil yang tengah merajuk di mata Angga. Ia sekuat tenaga menahan hasrat binatangnya yang tiba-tiba muncul.
Ini menyiksa... kau menyiksaku Maya.
Lengkungan indah terukir di wajah Angga, Angga lebih merapatkan tubuhnya dan membisikkan kata pada Maya yang menegang sambil menahan nafas.
"Jangan pernah panggil aku Tuan, atau aku tidak akan melepasnya..." Ucap Angga lirih, Maya sontak langsung menganggukkan kepalanya.
Dia sudah tidak tahan dengan kedekatannya dengan Angga. Maya takut Bibi Indah atau Mia melihat dan berpikiran tidak-tidak terhadap dirinya dan Angga.
Maya beringsut menjauhi Angga beberapa langkah, membuat Angga meringis.
"Maafkan aku, aku melakukan itu karena kesal kau terus memanggilku Tuan," Angga membela diri sambil menatap Maya lembut.
"I-iya Tu, eh Angga." Jawab Maya kikuk. "Kalau begitu saya ke dalam dulu." Maya langsung melarikan diri.
"Ah... Dia jadi ketakutan." Angga mendengus dan ikut ke dalam mencari Mia.
🌷🌷🌷
Kediaman Jack Adinata
Semenjak kejadian aku memecahkan cermin, ayah dan ibu akhirnya tinggal dirumahku untuk sementara. Mereka takut aku melakukan hal yang membahayakan diri lagi. Sedangkan Catherine merengek setiap hari agar aku segera menjemput Maya.
"Kenapa kau mengulur waktu untuk menjemput kakakku?"
Aku yang baru saja selesai berolah raga tersenyum tipis "Tenang saja, hari ini aku akan menjemput kakak mu tersayang." Aku mengusap keringat di tengkuk dan leherku dengan handuk. "Aku tidak mau Maya melihatku dalam keadaan menyedihkan, aku harus tampil sebaik mungkin agar dia senang!"
Catherine memutar bola mata malas. "Ya, Whatever,"
Aku melempar handuk ke wajah Catherine dan berlalu sebelum mendengar lengkingan suara yang akan memekakkan telinga.
"KAKAKKKK!!!"
Diwaktu bersamaan Ibu dan Ayah yang sedang meminum teh hampir tersedak karena teriakan Catherine.
"Catherine, jangan berteriak. Seperti di hutan saja!!" Ayah mengusap-usap punggung Ibu karena ternyata Ibu tersedak betulan. Wajah ibu merah padam.
"Jack duluan ayah!!! Dia melemparku dengan handuk bekas keringatnya, dasar jorok!!!" Catherine merajuk sambil mengerucutkan bibirnya dan melempar asal handuk bekasku.
Ayah dan Ibu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang masih kekanak-kanakan.