My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 47



"Nyonya Permana Menyia-nyiakan hidup hanya untuk dirimu, aku kasihan pada Siska mempunyai ayah yang tidak punya hati. Bahkan hingga kini kau mencari teman untuk menemanimu dineraka, jangan harap aku mengikuti jejakmu!!!" 


Danu terdiam, terkejut karena kebusukannya diketahui olehku. Aku tidak bisa berada disini lebih lama lagi, bisa-bisa aku membunuhnya karena amarahku mengingat dia biang semua kekacauan hingga Maya meninggalkanku. Aku menghela nafas kasar, berusaha mengontrol emosiku yang masih memuncak. 


Aku menatapnya dingin, terbersit rasa iba. Bagaimanapun dia orang yang lebih tua, seorang yang harusnya aku hormati. Tapi semua perbuatannya membuatku menjadi kurang ajar tidak bisa memandang serenta apapun dia. 


"Bertobatlah Tuan Danu Permana, sebelum penyesalan menjadi tidak berarti lagi," Aku segera meninggalkannya, Tomi dan para bodyguard mengikutiku dari belakang.


Tanpa disadari ternyata Siska berdiri di balik pintu sedari tadi, mendengar semua perdebatan hingga kenyataan pahit yang selama ini tidak diketahuinya. Siska melangkah memasuki ruangan saat ia tidak melihat lagi keberadaanku. Danu menengok kearah Siska, ekspresinya sulit diartikan.


"Jadi... Ayah adalah alasan mengapa Ibu bunuh diri?" Mata siska memerah dengan airmata yang sudah membasahi pipinya.


Danu bangkit dari lantai, ingin mendekati Siska. "JANGAN MENDEKAT!!!" Siska berteriak membuat langkah Danu terhenti. "Ya tuhan..." Siska menengadahkan kepalanya keatas menahan isak mengusap kasar pipinya.


"Bagaimana bisa... Bagaimana bisa kau lakukan itu?" Danu bungkam, lidahnya kelu. Bohong jika ia tidak menyesali perbuatannya dulu hingga membuat istrinya meregang nyawa dalam balutan tambang yang menggantung. 


Namun alih-alih menebus dosa, Danu malah semakin menenggelamkan diri dalam kemaksiatan. Setiap hari mabuk dan bermain perempuan. 


"Kau bukan manusia! Bahkan kau membuat aku menjadi wanita j*lang perebut suami orang, menjadi wanita yang menyebabkan ibuku mati!" Danu hanya bisa menunduk, dia dibutakan keserakahan. Tanpa sadar menjerumuskan anaknya sendiri.


Siska meraung memanggil ibunya membuat Danu merasakan nyeri yang dulu pernah ia rasakan ketika istrinya dikebumikan. "Ibu... maafkan anakmu ini, bawa aku bersamamu bu... aku tak sanggup menanggung rasa bersalah ini..."


Danu terhenyak mendengar kata-kata yang keluar dari anak satu-satunya itu. "Siska, jangan bicara seperti itu... Maafkan ayah... Ayah salah... Ay-"


"AKU BUKAN ANAKMU!!! Aku tidak mau punya Ayah sepertimu!!!" Mata Danu memerah, tanpa ia sadari air matanya jatuh ketika mendengar Siska tidak mengakuinya sebagai seorang ayah. 


"Jangan harap aku memaafkan mu, mulai saat ini aku bukan anakmu lagi!" Dengan bibir bergetar Siska berucap menahan sesak di dada hingga membuatnya tercekik.


Siska memilih pergi membiarkan ayahnya mengiba memanggil namanya, kini Pak Danu hanya bisa meratapi penyesalannya yang percuma. Istrinya memilih bunuh diri, dan anaknya tidak mengakuinya sebagai seorang ayah lagi. 


Adinata Group


Aku menatap kaca besar yang terpasang kokoh di bangunan ruang kerjaku, termenung memikirkan istri dan anakku yang entah ada dimana. Aku sudah mengirim orang mencari Maya dirumah mendiang orang tuanya tapi nihil, tidak ada Maya disana. Hanya beberapa ART dan tukang kebun yang menempati rumah itu. 


Aku pun memerintahkan puluhan orang untuk menyebar di daerah tersebut. Bagai mencari jarum dalam jerami, Maya tidak kunjung ditemukan. GPS Maya tidak terlacak karena ponselnya yang tidak aktif, aku menggeram frustasi, menyugar rambut kasar. 


Tok, tok, tok


Tomi berjalan mendekatiku yang masih berdiri didepan kaca dan membisikkan  sesuatu, aku menaikkan sebelah alisku.


"Ada apa Pak Johan ingin menemuiku?"


"Saya kurang tau Tuan, beliau hanya bilang ada pesan penting dari Nyonya Maya."


Mendengar nama Maya membuatku terhenyak, segera aku menyuruh Tomi membawa Pak Johan kehadapan ku. 


Kini Pak Johan telah memasuki ruanganku, duduk berhadapan dengan raut wajah yang membuatku bertanya-tanya.


"Selamat siang Tuan Jack," Sapa Pak Johan sopan.


"Selamat siang Pak Johan, anda mempunyai pesan untuk saya?" Aku sudah tidak sabar dengan jantung berdebar.


"Saya tidak tau masalah apa yang terjadi antara kalian, sebelumnya saya sudah mencoba menawarkan konsultasi pada Nona Maya..." Pak Johan mengeluarkan map coklat dan meletakkannya di hadapanku.


Aku mengambil dan membuka map itu, terdapat selembar kertas yang membuat tanganku gemetar...


Surat Perceraian... Maya mengajukan cerai padaku.