
Bandung
Maya sedang asik bergulat dengan masakan. Aroma lezat memenuhi ruang makan, aku sendiri sedang memandang kagum pada istriku yang selalu mempesona. Bulir-bulir keringat menghiasi dahi dan leher Maya, dia semakin terlihat cantik.
Jika bukan dirumah Paman Bagas mungkin Maya saat ini sedang di ranjang bersamaku, mengerang nikmat di bawah kungkunganku. Memikirkan itu membuatku langsung tegang.
Berhenti berfikir kotor, Jack!!!
Maya melihatku yang terlihat gelisah, dia menempelkan tangan halusnya pada pipiku. "Daddy kenapa??"
Aku yang mendapat sentuhan tangan Maya makin menegang, aku segera beranjak dari meja makan.
"Tidak apa-apa, sebaiknya aku menidurkan sesuatu yang mulai terbangun jika didekatmu," mendengar kata-kataku wajah Maya langsung memerah. Aku tersenyum senang melihat ekspresi Maya.
Kau selalu menggemaskan
"Pergilah... Jangan sampai membuatmu sakit," Maya berucap dengan malu-malu.
"Mommy tidak mau membantu Daddy??"
Aku menyeringai, mencoba peruntunganku dengan memegang tangannya.
"Wah, wanginya membuat Paman lapar," Maya beringsut menjauh dariku dan menarik tangannya ketika mendengar suara Paman Bagas.
Ah... aku lupa di mana aku sekarang. Aku hanya bisa menghela nafas kasar. Paman Bagas seolah sengaja membuatku jauh dengan Maya. Paman Bagas mendaratkan bokongnya di kursi makan sambil tersenyum mengejek padaku.
"Karena kamu sudah membuat Maya menangis, sudah sepantasnya kamu diberikan hukuman. Kamu belum boleh mendekati Maya sampai mendapat maaf dari saya!!"
Aku mengatupkan bibirku rapat saat mendengar itu, Ya... Sudah sepantasnya aku dihukum. Tapi bukankah selama hampir sebulan aku sudah merasakan hukuman dengan perginya Maya.
"Maafkan saya Paman, saya berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi," aku berkata dengan mantap.
"Itu harus! Karena saat awal kamu menikahi Maya kamu sudah berjanji akan membahagiakannya."
"Paman tidak perlu khawatir... aku percaya pada Jack," Maya berusaha membelaku, membuatku semakin merasa beruntung memilikinya.
Paman mendengus mendengar Maya yang masih setia memihakku. "Kamu harusnya bersyukur memiliki Maya, tidak neko-neko. Dia bersedia menjadi ibu rumah tangga demi kamu, meninggalkan perusahaan yang bisa saja dia kelola jika ia ingin. Dan dia... selalu membelamu, meski sudah kamu sakiti."
Aku tidak pungkiri itu, semuanya benar.
"Paman, semua sudah Jack jelaskan. Aku tidak disakiti olehnya, itu hanya salah paham. Salahku tidak meminta penjelasan dari Jack, meski sebenarnya aku terus menunggu Jack menjelaskan padaku saat itu," ucap Maya lirih.
"See, intinya suami mu ini tidak peka! Kalian ini saling menjaga perasaan masing-masing akhirnya malah saling menyakiti, belajarlah saling terbuka apapun itu. Lebih baik jujur meski menyakitkan, ini khusus untukmu Jack!" Paman menunjukkan jari telunjuk padaku, menyalurkan rasa kesalnya.
"Dan kamu Maya, belajarlah untuk mengungkapkan semua bebanmu, tidak baik memendamnya sendiri. Meski niatmu baik... katakan jika itu salah, katakan jika kamu tidak setuju, katakan jika memang kamu kecewa, jangan selalu bilang tidak apa-apa, baik-baik saja. Berhenti memaklumi, Paman gemas dengan sifat sabarmu yang jadinya terlihat bodoh!"
Maya terhenyak dengan perkataan Pamannya yang menuturkan sikap Maya selama ini. Maya hanya bisa menundukkan kepalanya. Maya menyadari kesalahannya. Sikap diam dan maklumnya menjadi boomerang dalam rumah tangganya. Hampir saja dia menghancurkan keluarga kecil yang sudah 10 tahun ia bangun.
Mengingat tindakan yang nekad menggugat cerai suaminya membuatnya merasa bersalah.
"Maafkan Maya, karena Maya... semua jadi kacau. Hampir saja Mia kehilangan Ayahnya karena kecerobohanku," Maya tiba-tiba terisak.
Melihat Maya yang menjadi sedih membuatku nyeri. Ini bukan kesalahannya, sama sekali bukan.
"Sayang, semua ini bukan salahmu. Aku yang salah... aku minta maaf... kumohon jangan bersedih lagi," aku memeluk Maya, kenapa Maya harus bersedih lagi. Aku merutuki diri karena merasa gagal sebagai suaminya.
Paman Bagas terbawa emosi hingga tanpa sadar memarahi Maya dengan cukup keras.
"Ma-maafkan Paman, Paman tidak bermaksud untuk membuatmu sedih Maya," Paman berdiri mendekati Maya.
Maya mengurai pelukanku dan menghadap Paman Bagas
"Maya tau, dan Maya mengerti. Paman begitu karena sayang padaku," Maya memeluk Paman Bagas, Paman Bagas membalas pelukan Maya dan mengusap lembut puncak kepalanya. Terlihat sedikit air mata diujung sudut mata Paman Bagas.
Aku senang melihat kedekatan mereka meski ada sedikit rasa cemburu karena Paman Bagas memeluk Maya, istriku.