My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 11



Siska masih tidak bergeming, aku sudah cukup prustasi dengan situasi ini. Kenapa dia tidak menjawab. Bagaimana Maya yang begitu mempercayaiku, bagaimana perasaannya jika tau? Dada ku sesak saat membayangkan itu.


Akhhh... lebih baik aku mati jika dia meninggalkan ku. 


“Siska jawab! Kita tidak melakukan apa-apa kan?!” Aku setengah berteriak hingga membuat tubuhnya tersentak.


Siska menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. “Setelah terjadi kamu mau lepas tanggung jawab?” 


Bukan itu jawaban yang aku mau. Kembali aku gelengkan kepala untuk menyangkal semua. “Tidak, aku yakin kita tidak melakukan apapun. Aku tidak merasakan apapun, aku tidak sadar!” Aku segera mundur dan mengambil barang-barangku, saat ini hanya Maya yang ku butuhkan dan seterusnya. Aku harus pulang!


“Jack, kau mau kemana? Bagaimana denganku?” Ia berucap dengan air mata yang kini membasahi pipinya. raut wajah sedih terlihat, aku berusaha menepis rasa iba ku.


“Aku pergi, urusan ini belum selesai. Tunggu aku menghubungi mu!” Aku meninggalkannya berlari keluar dari ruangan sialan itu.


🌷🌷🌷


Aku melajukan mobil dengan kecepatan penuh, aku ingin segera sampai rumah dan memeluk Maya erat.


Drrtt .... drrtt... drrtt 


Suara ponsel Tomi terdengar, Tomi segera mengangkatnya ketika tau siapa yang menelepon. 


“Selamat pagi menjelang siang tuan, ada apa? Kenapa tuan blm sampai kantor?” Tomi mencecar ku pertanyaan yang menambah pening kepalaku. 


“Tomi, apa istriku menghubungi mu tadi malam?” Aku menelepon Tomi memastikan Maya mencariku apa tidak.


“Ya tuan, saya bilang anda ada pertemuan diluar.” Jelas Tomi.


“Tidak tuan, hanya tadi malam saja nyonya Maya menelepon menanyakan keberadaan tuan, memangnya tuan tidak pulang?” Tomi penasaran mengapa tuannya menanyakan nyonya yang tinggal 1 rumah dengannya. 


“Nanti aku ceritakan, dan aku butuh bantuanmu nanti. Hari ini aku tidak ke kantor, tolong kamu handle ya Tomi. Aku benar-benar berterima kasih padamu.” Aku segera menutup telepon secara sepihak meninggalkan Tomi yang masih termenung mendengar Tuannya mengucapkan terima kasih yang sangat tulus. 


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata


Maya... Maya... sepanjang jalan aku menyebut namanya, ingin aku luapkan penyesalanku yang begitu dalam. Aku merasakan sembilu menghujam jantungku.


Jangan seperti ini Tuhan, apa kau memberiku ujian karena aku terlalu bahagia dengan hidupku?? Ujian ini, apa aku sanggup menanggungnya? 


Sesampainya dirumah aku berlari memasuki dapur, berharap melihatnya sedang memasak menyiapkan sarapan terenak setiap hari tapi aku tidak melihat sosoknya disana. Tiba-tiba dada ku ngilu merasakan nyeri, aku bergegas ke kamar membuka pintu lebar-lebar.


Kulihat dia sedang duduk di sisi ranjang sambil menatap ponselnya, wajahnya menyiratkan kesedihan membuat hatiku seperti diremas. Tidak pernah aku lihat raut itu kecuali saat Ayah Mertuaku meninggal. Aku yang berjanji pada diriku sendiri untuk hanya memberikan bahagia padanya. Kini aku sendiri yang membuat nya merasakan sedih.


Langkah kaki ku memutus atensinya pada ponsel. Ia menoleh dan terhenyak melihat keberadaanku, Maya terdiam sesaat sebelum kemudian terisak dengan tubuh bergetar, aku segera memeluknya mendekapnya erat. Aku pun merasakan sesak yang ia rasakan. 


“Aku khawatir, selama ini kamu tidak pulang kalau ada dinas diluar. Tp kemarin malam Kamu kenapa tidak pulang? Aku takut kamu kenapa-napa!” Tangis Maya pecah membuat hatiku serasa remuk redam. 


“Handpone mu juga tidak aktif, aku sudah berfikir macam-macam tau gak?” Suara Maya tertutup dengan isak tangis, tapi masih bisa ku dengar. Aku mengecupi puncak kepalanya berulang-ulang.


“Sttsss... aku tidak kemana-mana! Aku lembur semalam dan menginap di kantor, karena terlalu fokus aku tidak tau kalau hpku mati. Maafkan aku ya... Maya!” Aku mengusap airmata di pipinya. Menahan sakit di dada melihat raut wajah sedihnya. Maya menatapku dalam, lengkungan indah pun ia berikan sambil mengangguk. Aku kembali menariknya dalam pelukanku, semua akan baik-baik saja.


Semoga...