My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 61



Apartement Angga


Seorang wanita paruh baya histeris ketika melihat anak semata wayangnya pulang dengan wajah babak belur.


"Ya tuhan, apa yang sudah terjadi? Kenapa dengan wajahmu nak?" Nyonya anggun menghampiri Angga yang baru saja sampai dan masih di depan pintu.


"Mama kenapa kemari? Aku tidak ingin diganggu, besok aku akan kerumah," Angga mengabaikan mamanya melangkah menjauh menuju kamar.


Nyonya Anggun sedih dengan sikap dingin Angga. Itu dikarenakan Nyonya Anggun selalu menjodohkan dirinya dengan anak rekan kerjanya. Sedangkan Angga tidak menyukai itu, ia tidak mau diatur dalam menentukan pasangan hidup.


"Mama tau kamu masih marah sama mama, mama hanya ingin yang terbaik buat kamu Nak... Lagipula semua yang mama kenalkan wanita baik-baik, cantik dan-"


"Aku tidak ingin membahasnya, wanita yang mama anggap baik itu mengoleksi banyak lelaki di apartementnya, asal mama tau aku tidak suka jal*ng!!" Angga membanting pintu kamarnya dengan keras membuat Nyonya Anggun bergenjit kaget.


Sebenarnya Angga kesal bukan karena mamanya, tapi karena Maya lebih memperdulikan Jack. Jelas saja, karena Jack adalah suami Maya, ayah dari anaknya.


"Sepertinya mereka sudah rujuk... Apakah aku sudah kalah?? Bahkan disaat aku belum memulai"


Angga membanting tubuhnya ke ranjang, memejamkan mata berusaha mengusir penat dan emosinya.


Angga menilik penampilannya, ia baru sadar dengan pakaian yang dikenakannya. Karena tadi Bibi Indah menyiramnya dengan air dingin maka bajunya menjadi basah kuyup. Akhirnya Angga mau tidak mau memakai baju Pak Bagas agar tidak masuk angin.


Angga menimbang-nimbang apakah dia sendiri yang akan mengembalikan baju itu, dia cukup malu berhadapan dengan Maya karena kejadian tadi.


"Memalukan! Maya melihatku dalam keadaan kacau dan basah..." ucap Angga lirih.


"Apa sebaiknya aku menyerah saja" Angga kembali memejamkan matanya sampai mimpi merengkuhnya.


🌷🌷🌷


Bandung


Paman Bagas melotot ketika mendapatiku keluar dari kamar Maya, apalagi melihat rambutku yang basah. Paman Bagas makin geram.


"Kecolongan juga saya!"


Aku meringis, seperti maling yang kepergok tuan rumah aku mengusap tengkuk yang tidak gatal.


"Maaf Paman, saya khilaf jika dekat Maya,"


"Khilaf yang disengaja!!" sarkas Paman Bagas.


"Tolong maafkan saya Paman, jangan beri hukuman yang saya tidak bisa sanggupi," aku memelas pada Paman.


Paman mendengus kesal, sebenarnya ia tidak ingin menghukumku. Tapi mengingat kesedihan Maya saat awal kerumahnya membuat Paman Bagas naik pitam.


"Baiklah, akan saya maafkan. Tapi... "


"Tapi apa Paman?" Tanyaku penasaran.


"Tapi kamu harus berjanji untuk membahagiakannya, karena saya tau hati Maya hanya untuk kamu."


Hatiku mencelos, betapa Paman Bagas menyayangi Maya. Tentu saja aku akan membahagiakan istri ku, belahan jiwa ini.


"Saya tidak akan menjanjikan apapun Paman, tapi akan saya pastikan bahwa Maya adalah semangat hidup saya... Hingga saya tidak mampu untuk menyakitinya," aku berkata dengan mantap berusaha meyakini Paman Bagas tentang perasaanku.


Paman Bagas merangkulku sambil tersenyum, aku sempat diam sesaat. "Itu baru Jack yang paman kenal," aku membalas rangkulan Paman dengan pelukan hangat.


"Terima kasih, Paman" lirihku.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya aku memutuskan untuk memboyong pulang Maya dan Mia ke Jakarta.


"Tidak bisakah kalian tinggal lebih lama lagi??" Bibi Indah sesegukan melepas kepergian keponakan kesayangannya.


Maya menangis sambil tersenyum. "Maafkan aku Bi, sudah merepotkan bibi. Mia sudah terlalu lama libur sekolah, kasihan nanti dia tertinggal pelajaran. Untuk kedepannya Maya janji akan sering main kesini menengok Paman dan Bibi," Maya menggenggam tangan Bibi Indah.


"Janji ya Maya! Bibi bener-bener kesepian disini" Bibi meremas tangan Maya.


Maya menganggukkan kepalanya kemudian ia menghampiri Paman Bagas. Paman Bagas merentangkan tangannya lebar, Maya langsung memeluk Pamannya itu.


"Paman, terima kasih untuk semuanya. Nasehat Paman benar-benar membuka mata Maya," ucap Maya lirih.


"Jaga diri dan keluargamu disana, jadilah pribadi yang kuat dan terbuka Maya," Paman Bagas kembali berpesan.


Maya mengurai pelukan dan tersenyum manis "Pasti, Paman."