My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 31



"Ada apa?" Aku mengangkat dagu Maya kearahku menatap penuh tanya. Maya mengerjapkan matanya yang sendu dan berusaha menjauhkan tanganku dari dagunya. 


"Maksudnya?" Maya tersenyum kikuk tidak seperti biasanya itu sangat menggangguku


"Sikapmu tidak seperti biasa, katakan ada apa atau aku tidak akan pergi kemana-mana!" Ancamku pada Maya, sontak membuatnya terbelalak kaget karena nada bicaraku agak tinggi.


Maya melangkah mundur menjauhiku, aku yang menyadari sikapku yang agak keterlaluan berusaha menggapainya namun Maya langsung berbalik badan dan pergi meninggalkanku.


"Maya... Tunggu!!" 


Saat aku ingin mengejarnya ponselku berdering.


Damn it!!!


Panggilan dari Siska, aku harus menyelesaikan ini secepatnya. Aku akan meminta penjelasan pada Maya nanti, penjelasan dari sikap anehnya akhir-akhir ini. 


Bersabarlah sayang, tunggu aku.


Sejenak aku memandang ke arah balkon kamarku, sebelum akhirnya aku meninggalkan rumah untuk menjemput siska. 


🌷🌷🌷


Apartemen siska 


Siska sudah berdiri di depan lobby apartemen dengan senyum terbaiknya saat mobilku mendekat. Ia pun bergegas menaiki mobil dan tanpa aba-aba langsung mengecup pipiku dan mengusapnya.


"Aku merindukanmu," Aku yang masih terkejut dengan sikap spontannya langsung menurunkan tangannya dari pipiku dan menggenggamnya sesaat. Terlihat rona merah dipipinya, aku hanya tersenyum miris. Ini sudah terlalu jauh, aku mendesah lelah menggembuskan nafas dengan kasar. 


"Pakailah sabuk pengaman mu, kita berangkat sekarang ya." Dengan nada lembut aku memberikan intruksi padanya dan Siska menganggukkan kepala tanda menyetujui. 


Setelah Siska memasang sabuk pengaman akupun langsung meluncur ke rumah sakit yang disiapkan Tomi. 


"Kita lihat, benarkah semua ini hanya sandiwara?" Catherine menginterogasi Tomi lewat ponsel saat ia mengikuti Jack pergi ke apartemen siska. Dia tau kalau hari ini akan dilakukan tes keperawanan terhadap siska, Catherine sudah muak karena Jack terlalu lama menyelesaikan masalahnya. Dimata Catherine tetap saja Jack sudah berselingkuh, apapun itu alasannya. 


🌷🌷🌷


Rumah Sakit **


Aku memasuki rumah sakit bersama Siska yang terus bergelayut manja pada lengan kananku, ingin rasanya aku menghempas dirinya tapi aku coba menahannya. Sedikit lagi aku harus bersabar. Aku berjalan kearah informasi untuk menanyakan perihal dokter yang sudah membuat janji denganku. 


"Selamat siang Suster." Aku menyapa ramah perawat yang ada di bagian informasi, perawat yang aku sapa terdiam terpaku tak merespon perkataanku. Ah, aku lupa pasti seperti ini. Siska yang gemas dengan sikap perawat itu segera menghardiknya.


"Suster, suster... Jangan melamun. Pria rupawan di depan anda ini sudah ada yang punya, jadi jangan menggodanya!" Ucapan Siska membuatku mengeryitkan kedua alisku.


"Calm down Siska!" Aku menegur siska karena ucapannya terlalu kasar, Siska hanya cemberut dan semakin mengeratkan rangkulannya terhadapku. Tidak aku hiraukan, aku kembali bertanya pada perawat tadi. "Suster, tolong maafkan dia," 


Perawat yang aku tanya tadi sempat terkejut dengan hardikan siska tapi setelah itu dia tersenyum ramah menanggapiku "Tidak apa-apa Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


Siska memutar bola matanya melihat respon perawat tersebut.


Dasar suster genit!


"Saya ada janji dengan Dr. Kevin hari ini." Perawat itu langsung berlonjak kaget ketika mendengar aku menyebutkan nama Dr. Kevin "Ah, iya maafkan saya atas ketidaksopanan saya barusan. Tuan sudah ditunggu Dr. Kevin sedari tadi, mari saya antar keruangannya." Perawat itu berkata dengan gugup.


Siska tersenyum mengejek melihat tingkah perawat itu yang tiba-tiba menjadi tegang dan pucat pasi. Kami pun sampai di depan ruangan Dr. Kevin yang letaknya tidak jauh dari lobby rumah sakit.


"Silahkan Tuan, Dr. Kevin ada di dalam." Perawat itu mempersilahkan aku dan siska masuk sambil menundukkan kepalanya.


"Terima kasih Sus." dengan ramah aku menanggapinya dan masuk ke dalam ruangan Dr. Kevin, sedangkan Siska masih berdiri di depan perawat tadi.