My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 41



"Hm Mommy, ini Nenek ku juga?" Mia menegur karena sedari tadi mereka berdiri cukup lama.


Bibi Indah pengalihkan perhatiannya pada seorang anak perempuan manis disamping Maya. "Jangan bilang ini Mia?" Bibi Indah melihat ke arah Maya yang mengangguk. "Aduhh ini cucu nenek sudah besar dan manis, Mia ingat tidak usia 4 tahun pernah main kesini?" Bibi Indah berseru riang seolah mendapatkan lotre. 


Mia kembali mengerutkan keningnya membuat 2 orang dewasa disana menjadi gemas. "Ya sudah ceritanya kita lanjut di dalam, ayo Maya dan Mia masuk." Bibi Indah memanggil beberapa ART untuk membawa koper Maya menuju kamarnya di lantai dua. Maya menatap ART yang menaiki anak tangga. Bibi Indah menangkap pergerakan Maya.


"Kamarmu masih sama, tidak ada yang Bibi rubah semenjak kamu pergi hingga sekarang," Maya tersenyum mendengarnya.


"Ayo Mia kita ke dapur! Nenek punya beberapa kue dan coklat." Mendengar kata coklat, Mia langsung merangkul Bibi Indah dengan manja. "Aku suka sekali coklat Nek!" Melihat Mia yang antusias membuat Bibi Indah terkekeh. Maya hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. 


🌷🌷🌷


Seattle AS


Aku memutuskan pulang ke tanah air malam itu juga, aku sudah tidak perduli dengan perusahaan di sini. Pikiranku sudah melanglang buana sampai di rumah.


"Saya sudah menghandle pertemuan dengan dewan direksi besok menggunakan live conferensi via online. Tuan tidak perlu memikirkan apapun lagi, saya benar-benar minta maaf," Tomi berkata panjang lebar dan berulang-ulang meminta maaf.


Aku terdiam tidak mengubrisnya, aku menyesal. Seharusnya aku tidak pergi dinas, harusnya malam itu aku pulang ke rumah hanya sekedar untuk pamit. Aku menunduk dan menjambak rambutku. 


Disaat bersamaan Maya sedang meringkuk diatas ranjang sambil meremas baju di dadanya, menangis dalam diam. Merasakan sakit yang tidak kunjung hilang, 


Tuhan... Tolong hilangkan rasa sakit ini... 


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata


Tepat pukul 8 pagi aku sampai rumah. Aku melihat mobil yang tidak asing terparkir di depan rumah. Pak Hasan melihat kedatanganku menghampiri dengan sedikit terpogoh-pogoh, tapi aku tidak menghiraukannya. Karena aku langsung memasuki rumah, meninggalkan Pak Hasan, bodyguard dan Tomi dibelakang dengan raut wajah cemas. 


"Untuk apa kamu ke kamar? Maya sudah tidak ada, semua karena kecerobohanmu!" Ibu melempar foto-foto dan sebuah amplop kearah kakiku.


Aku melihat ibu yang menatapku dengan wajah memerah, aku kembali melihat ke arah foto-foto yang berserakan di bawah kakiku. Mengambil dan memandanginya dengan tatapan nanar. Aku melihat tanggal paket itu sampai ditangan Maya, 2 minggu yang lalu.


2 minggu Maya terus menahan rasa sakitnya, dia tetap bersikap selayaknya istri yang baik padaku. Memberi semangat padaku dan terus mengucapkan kata bahwa dia mempercayaiku. Sedangkan aku terus membohonginya, menambah luka dihatinya yang mungkin sudah tidak berbentuk lagi. 


Pandanganku kabur karena air mata yang lagi-lagi menetes tanpa tahu malu. Aku meremas foto itu dan berlutut, aku hanya bisa menangis. Merasakan sakit yang mungkin tidak seberapa dibanding sakit yang Maya rasakan. 


"Maaf Maya... Maafkan aku..." Aku masih memanggilnya dengan lirih sebelum kegelapan menyelimuti dan membuatku tidak sadarkan diri. 


"JACK!!" Ibu berteriak histeris ketika melihat aku tersungkur tidak sadarkan diri, Catherine segera berlari keluar meminta pertolongan. 


Ayah memapah tubuhku dan menaruh kepalaku di pangkuannya sambil menepuk-nepuk wajahku. "Jack, Bangun!!... Jack!"


🌷🌷🌷


Rumah Sakit **


Tuan Adinata menghampiri Dokter yang menangani Jack anaknya. "Bagaimana dengan keadaan anak saya Dok?" 


Dokter Kevin tersenyum. "Tuan Jack baik-baik saja, beliau pingsan karena tidak adanya asupan nutrisi. Tolong diperhatikan pola makannya, jangan sampai terlewat." Penjelasan Dr. Kevin membuat lega Tuan Adinata dan Nyonya Caroline selaku orang tuaku. 


"Bagaimana keadaan Kakak?" Catherine bertanya dengan cemas, Dr. Kevin memperhatikan Catherine yang baru saja datang. 


"Kakakmu baik-baik saja, sepertinya dia tidak makan teratur." Nyonya Caroline menghela nafas membayangkan keadaanku setelah ini. Tuan Adinata mengelus punggung istrinya untuk menenangkan.