
Kediaman Danu Permana
PLAK
Siska tersungkur dilantai setelah tangan kekar Danu Permana mendarat dengan mulus di pipinya. Telinganya mendadak tuli akibat kerasnya tamparan. Danu mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bagaimana bisa kau mengacaukan semuanya!!" Suara keras Danu memenuhi ruangan. "Kenapa pula kau tidak bilang pada Ayah masalah Jack mengajakmu cek kesehatan?"
Siska hanya bisa memegang pipi yang terasa panas dan menahan perih akibat darah yang mengalir dari ujung bibirnya.
"Maafkan aku Ayah... Aku pikir pemeriksaan biasa saja, aku tidak menyangka Jack akan melakukan tes keperawanan terhadapku." Siska hanya bisa menunduk karena takut menghadapi amarah sang Ayah yang masih memuncak.
Danu menatap siska dengan pandangan yang sulit diartikan, diapun berjalan kearah meja kerjanya dan membuka laci meraih sebuah map disana.
"Hubungi wanita itu, lakukan sesuai intruksiku." Siska mendongakkan kepala menatap ayahnya yang menyodorkan map. "Jika kau tidak bisa bersama Jack, maka wanita itu harus meninggalkannya," Danu menyeringai kemudian pergi meninggalkan Siska.
🌷🌷🌷
Kediaman Jack Adinata
Catherine menyipitkan matanya ketika turun dari mobil, dia melihat ada 4 orang pria dengan stelan jas hitam beserta kacamata senada sedang berdiri tegak di beberapa sudut luar rumah. Saat Catherine ingin menghampiri salah satu dari mereka langkahnya terhenti karena panggilan seseorang.
"Nona Catherine!"
Catherine menengok kearah suara.
"Pak Hasan," Catherine meyakinkan agar ia tidak salah orang.
"Iya saya Nona, apa kabar Nona?" Pak Hasan menghampiri sambil tersenyum ramah.
"Ah, baik Pak. Tumben disini? Bukannya Bapak kerumah jika Kakak Jack pergi dinas ya?" Jack hanya menggunakan supir ketika dia tidak ada dirumah atau Dinas keluar kota maupun negeri. Selama tidak dirumah Bapak Hasan menjadi supir di kantor Jack.
"Iya Nona, Tuan Jack memang sedang Dinas ke Amerika. Saya dihubungi 30 menit yang lalu untuk kesini dan membawa beberapa bodyguard." Terang Pak Hasan karena melihat Catherine yang terus menatap para bodyguard.
Catherine yang mendengar penjelasan pak Hasan agak terkejut, karena blm lama Kakaknya masih ada di RS.
"Ada apa Nona?"
"Ah, tidak apa-apa Pak. Kalau begitu aku kedalam dulu ya Pak" Pamit Catherine pada Pak Hasan.
🌷🌷🌷
Diruang keluarga terlihat Mia yang sedang sibuk bermain barbie, Catherine iseng menutup mata Mia dari belakang dengan tangannya.
"Siapa neh?" Seru Mia sambil memegang tangan Catherine, Catherine tidak menjawab hanya tersenyum geli melihat reaksi Mia. "Hm, tidak menjawab. Takut ketauan ya?" Tiba-tiba Mia seperti sedang mengendus-endus sekitar. "Aku tau, ini pasti tante Catherine. Aku hafal bau parfum tante!"
Catherine pun melepas tangannya dan cekikikan. "Pinter banget seh ponakan tante" Ucapnya gemas sambil menjawil hidung Mia.
"Aduh, sakit tante. Seneng banget seh cubit-cubit hidung aku kaya Daddy," Mia mengerucutkan bibir dan mengusap-usap hidungnya yang memerah.
Mendengar Mia menyebut Daddy-nya membuat Catherine menjadi mendadak kesal. Kakak nya itu pergi mendadak tanpa pamit, jangankan pamit pada Kakak Maya dan Mia pamit padanya pun tidak. Padahal barusan saja mereka bersama, tapi Kakaknya tidak berkata apa-apa.
Jack sialan!
Catherine menepis pikiran pada Kakaknya tersebut dan fokus kembali pada sekitar. Dia mengedarkan pandangan dan berjalan kearah dapur, hanya ada Mbak Darmi.
"Tumben hanya Mbak Darmi, Kak Maya mana?" Batin Catherine.
Mbak Darmi menangkap kehadiran Catherine "Nona Catherine sudah pulang? Mau dibuatkan makan siang Nona?"
"Ah tidak Mbak, belum lapar. Kakak Maya mana? Biasanya sedang sibuk masak jam segini." Sambil menengok kanan dan kiri.
"Nyonya memang tidak seperti biasanya, dari Tuan pergi sampai sekarang Nyonya belum keluar kamar. Apa mungkin nyonya sakit ya?" Mbak Darmi balik tanya pada Catherine.
Please rate, vote dan likenya yach!!!
Enjoy!